Archive for Mendidik dengan kelembutan hati

AYAH, IBU, MARI KITA MENDIDIK DENGAN KELEMBUTAN HATI

Posted in Dear Diary, Philosophy and Education, Z - Miscellaneous with tags , , , , , , , on October 15, 2014 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Sekitar 10 tahun yang lalu, Rere (bukan nama sebenarnya), salah seorang sepupu Rayhan (anak saya) dari pihak ayahnya tiba-tiba berbicara kepada saya seperti ini,

“Uwa, Rere boleh tinggal sama uwa aja?”

“Boleh. Tapi harus minta ijin sama ummi dan abahnya Rere ya. Kalau ga, nanti Ummi sama Abahnya Rere sedih dong tiba-tiba ditinggalin Rere.”

“Ga, ummi sama abah ga akan sedih. Mereka ga sayang Rere. Rere mau bunuh diri aja kalau ga boleh tinggal sama Uwa!”

….

Saat itu saya benar-benar terkejut dengan ucapan Rere yang ‘ingin bunuh diri’. Saya pikir, sangat aneh  jika seorang anak berusia 4 tahun sudah punya pikiran mengerikan seperti itu.

Di waktu yang lain, tanpa alasan apapun, Rere tiba-tiba mendorong Rayhan  hingga terjatuh ke got di belakang rumah. Kepala Rayhan terantuk pinggiran got hingga harus mendapat 4 jahitan.  Ketika ditanya mengapa ia mendorong Rayhan seperti itu, jawabannya sangat singkat dan dingin tanpa merasa bersalah, “Biarin aja.”

Melihat kenyataan ini, sembari menjauhkan Rayhan dari Rere untuk sementara waktu (saya takut terjadi sesuatu yang lebih buruk), saya pun mulai menyelidiki mengapa Rere sampai bisa memiliki perilaku ‘aneh’ seperti itu. Continue reading

Advertisements
%d bloggers like this: