Archive for the Language and Literature Category

TENTANG PENERJEMAHAN

Posted in Dear Diary, Language and Literature on March 31, 2016 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Kata Yoko Tawada, seorang novelis Jepang yang tinggal di Jerman, ketika menulis sesuatu dalam bahasa asing, maka sebaiknya tidak perlu memusingkan apa kata yang tepat, melainkan cukup dirasakan dan diputuskan.
.
Menurut saya, proses menerjemahkan pun mirip seperti itu. Seringkali kita tidak perlu terlalu memusingkan harus bagaimana sebuah kata atau kalimat diterjemahkan ke dalam bahasa asing, melainkan cukup dirasakan dan diputuskan. Jangan pernah bertanya mengapa sebuah kata atau kalimat harus diterjemahkan demikian, misalnya. Jangan pernah pula menyalahkan mengapa sebuah kata dalam bahasa sumber ada kalanya tidak diterjemahkan menjadi kata yang sama dalam bahasa sasaran. Continue reading

GIONGO dan GITAIGO (2)

Posted in Language and Literature with tags , , , , , on July 2, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Learning Japanese is difficult, especially for foreign learners. The language they learn at school is quite different from that in daily life conversation in Japan. One of aspects that seems hard to learn is Giongo and Gitaigo. Giongo is the word used for imitating or describing sound. And Gitaigo is the word used for explaining or describing the situation.  Learning and understanding Giongo and Gitaigo will make the learners speak a better and more natural Japanese, not ‘awkward’ one.

 

Pendahuluan 

Setiap bahasa merupakan bagian penting dari kebudayaan penutur aslinya (Fukuda:1993). Dengan kata lain, bahasa merupakan pintu menuju pemahaman akan cara berpikir suatu bangsa.  Itulah sebabnya setiap bahasa memiliki perbedaan, kesulitan, dan daya tariknya masing-masing. Belajar bahasa asing sangat berharga karena akan membuat kita dapat berhubungan dengan orang asing, baik sebagai sarana untuk saling berbagi ide atau sebagai alat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi untuk memahami sebuah bahasa, kita memerlukan lebih dari sekedar tatabahasa dan kamus. Banyak hal-hal lain yang harus dipelajari sampai kita dapat berkomunikasi dengan bangsa asing dengan lancar dan tidak kaku. Demikian pula dengan Bahasa Jepang. Continue reading

DISTORSI dan INTERFERENSI FONOLOGI PADA DWIBAHASAWAN

Posted in Language and Literature with tags , , , , , , , , , , , , , on April 1, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Banyak pengertian tentang dwibahasawan. Menurut definisi yang baku, dwibahasawan berarti seorang individu yang menggunakan dua atau lebih bahasa dengan kefasihan yang sama dengan penutur asli, dengan anggapan bahwa kedua bahasa itu dijaga perbedaannya oleh si pengguna dan tidak ada saling pengaruh. Tetapi pada kenyataannya, jika definisi itu diterapkan secara tegas, akan sulit seseorang dianggap sebagai dwibahasawan sejati, karena ternyata saling pengaruh atau interferensi antara dua bahasa tersebut akan selalu ada walau sekecil apapun. Continue reading

KESUSASTRAAN JEPANG SELAYANG PANDANG

Posted in Language and Literature with tags , , , , , , , , , , , , on September 17, 2014 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

PEMBAGIAN ZAMAN SEJARAH KESUSASTRAAN JEPANG

  1. Kesusastraan JOODAI (Kesusastraan Zaman Yamato Nara)
  1. Kesusastraan CHUUKO (Kesusastraan Zaman Heian)
  1. Kesusastraan CHUUSEI (Kesusastraan Zaman Kamakura-Muromachi)
  1. Kesusastraan KINSEI (Kesusastraan Zaman Edo)
  1. Kesusastraan KINDAI (Kesusastraan Zaman Meiji, Taisho dan Showa)

 

1. KESUSASTRAAN JOODAI

a. Asal-usul Kesusastraan Jepang

Lahirnya kesusastraan Jepang Tidak diketahui dengan pasti. Hanya diketahui asal-usul kesusastraan Jepang dari lagu, tarian dan cerita yang menyatu menjadi sebuah Buyo (tari Jepang klasik), serta sandiwara sederhana yang dimainkan dalam kelompok, untuk sebuah acara hiburan, dan untuk upacara ritual keagamaan (kepercayaan).

Kemudian, kesusastraan dibagi dari zaman pra-purba, dan lahirlah Mitos (Shiwa), Legenda (Densetsu), dan Dongeng (Setsuwa) yang masing-masing berdiri sendiri.

Kesusastraan Joodai juga disebut dengan Yamato Nara Jidai Bungaku (kesusatraan zaman Yamato Nara), karena kebanyakan dilakukan di wilayah Yamato, yang ibu kotanya terakhir ditentukan berpusat di Nara. Continue reading

PROSES PENERJEMAHAN PUISI

Posted in Language and Literature with tags , , , , , , , , , , , , on October 20, 2009 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

(Termuat di Jurnal Bahasa dan Pariwisata, STBA Yapari-ABA Bandung, 2008)

ABSTRACT

To translate is one thing; to say how we do it, is another.  Translating poetry without losing its beauty maybe is the most difficult thing, because when we try to do it, we cannot just take a dictionary and  find the words we need and apply them. We need more than that. The privilege of poetry forces us to find some appropriate translation methods, i.e. methods that can help us to transfer language from the source to the target language without losing its meaning and its beauty. This article tries to prove that translating poetry without losing its beauty is not a nonsense job. We only need to ‘know how’  to do it. Continue reading

PENGAJARAN BAHASA DENGAN METODE SILENT WAY, CALEB GATTEGNO

Posted in Language and Literature with tags , , , on October 20, 2009 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

  1. Pendahuluan

Silent Way adalah nama suatu metode pengajaran bahasa yang ditemukan oleh Caleb Gattegno.

Hipotesis-hipotesis pembelajaran yang mendasari metode Gattegno ini adalah:

  1. Pembelajaran dipermudah jika si pembelajar mendapatkan atau menciptakan hal baru dibandingkan dengan mengingat dan mengulang apa yang harus dipelajari.
  2. Pembelajaran dipermudah dengan menggunakan objek fisik.
  3. Pembelajaran dipermudah dengan pemecahan masalah yang melibatkan materi yang diajarkan. Continue reading

DEVIATIONS IN LINGUISTIC CONVENTION ON POETRY (English Version)

Posted in Language and Literature with tags , , , , , , , , on October 20, 2009 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

I. Introduction

Poetry is kind of literary work in which the conciseness of meaning is emphasized in every single word. Every word in poetry can have ambiguity in it. And this often makes people think poetry hard to understand, mysterious, or even mystical. We can find this kind of problem in some works of our contemporary poets’ such as Sutardji Calzoum Bachri’s Tragedi Winka dan Sihka, Sepisaupi, O,etc., or Ibrahim Sattah’s Sang Sing Song Where they seem to be boundless and have absolute freedom not only in word choice but in shapes as well. We, therefore, may agree with Auden that words in poetry arise from a confused mind of a poet (Kennedy, 1971:331).And it is also said that their works are noyhing but a bunch of meaningless words from those who claim themselves poet. Continue reading

%d bloggers like this: