Archive for the Fiction Category

THE DANCER

Posted in Fiction on March 30, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

The Dancer

“Do you believe in God? I didn’t. It was not because I didn’t like God or tried very hard to be an atheist, but it was because I didn’t understand at all what or who God is. I could sense that there is something so powerful in this universe, but still, I need years until I sincerely called GOD to That Power…”

“Have you ever think about life? What is it life? Why do we live? What kind of life that we’ve been through? Right now, I really want to say “been there, done that”, but I just can’t. I’m still “being there, doing that”. Doing what? Well, let’s say that I’m still counting the opportunity cost; i.e. the opportunity to get all positive values in my life. Then, what could I get in this life? Time, money, quality of life; Can we get them all? I don’t think so!

We will never be able to have all these positive values at one time. There’s always an option that should be selected. The options would be NOT FAST – rich – good, fast – NOT RICH – good, or fast – rich – NOT GOOD. There’s always one component which should be sacrificed to get positive values for the other two.

Well, life is indeed a trade-off. Whenever we gain something, we have to prepare of losing something. Whichever choice we got, there’s always a lost of at least one value…”

#KutipanNovel_TheDancer

Advertisements

CINTA DI BANTIMURUNG

Posted in Fiction on March 30, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Cinta di Bantimurung

“Aku benar-benar tak mengerti dengan sikap Arini. Aku tak mengerti mengapa ia berkeras menutup dirinya rapat-rapat. Aku tak pernah sungguh-sungguh tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya. Ia selalu menampilkan semua emosinya dalam dua sikap saja;  gembira atau diam. Ia memang tak pernah menolakku dengan kasar. Ia pun tak pernah menolak jika aku mengajaknya bicara dan berdiskusi tentang apa saja. Ia selalu baik padaku. Bahkan beberapa kali tindakannya benar-benar membuat hatiku tersentuh. Arini bagiku adalah manusia langka yang mampu menerjemahkan sebuah kasih sayang dan ketulusan murni dalam sebuah tindakan nyata. Pendeknya, Arini benar-benar berbeda dengan puluhan wanita cantik yang pernah dekat denganku. Tetapi, setiap kali ia menangkap niatku untuk mengajaknya menjadi lebih dari sekedar teman, benteng tebal dan tinggi itu serta merta selalu berdiri di hadapanku…

Allah-lah Sang Pemilik Hati, maka kubiarkan saja Allah yang menentukan kepada siapa hatiku berlabuh dan tinggal. Mungkin padamu, mungkin juga tidak…”

#KutipanCerpen_CintaDiBantimurung

THE PHILOSOPHER’S PLAYGROUND

Posted in Fiction on March 27, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

The Philosopher's Playground

“Bukan karena ingin jadi filsuf jika kukatakan KEGILAAN itu NISBI , melainkan karena kata ‘gila/aneh’ sering diartikan “DI LUAR NORMALITAS”. Padahal makna NORMAL itu sendiri jg NISBI.

Di dunia penuh kerusakan akhlak, yang berusaha keras memegang kebenaran Allah akan dianggap tidak normal/aneh/gila. Demikian juga sebaliknya. Tapi bagaimanapun kita harus memilih, ingin menjadi normal di dunia Kebenaran Allah atau menjadi normal di dunia kerusakan akhlak?? …”

#Kutipan Novel_ThePhilosophersPayground

FIVE LANTERNS for Mrs. CHANG

Posted in Fiction on March 27, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Five Lanterns for Mrs. Chang

“Aku ingin kau menjadi cahayaku. Tak perlu terlalu terang; karena cahaya temaram yang tak pernah redup bagiku lebih baik daripada cahaya menyilaukan tapi padam seketika. Dan aku pun ingin kita seperti kodrat dua sayap pada seekor burung; sayap-sayap yang saling melengkapi, yang tak mungkin mengangkasa jika salah satunya patah…”

#KutipanNovel_FiveLanternsForMrsChang

Good Morning, Father Marco!

Posted in Fiction on March 27, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Good Morning Father Marco

“Agama adalah pendalaman pemikiran, bukan semata kepatuhan tanpa memahami dan memaknai. Untuk benar-benar memahami sebuah agama, seringkali diperlukan sebuah pemikiran filosofis. Kita harus membuka ribuan lapisan; selapis demi selapis dengan pemikiran sangat mendalam, mengkaji setiap pernyataan yang ada dalam ajarannya.

Aku menemukan agamaku yang sekarang pun dengan cara berusaha mencoba berusaha keras membuka lapisan itu selapis demi selapis. Membuka dengan berpikir keras secara sangat mendalam. Dan sampai saat ini, lapisan itu belum sanggup aku buka semuanya. Dibalik satu pintu selalu masih ada pintu yang harus aku cari kuncinya untuk memahami lebih dalam lagi. Di setiap perjalanan pencarian dan usaha membuka pintu selanjutnya, pasti selalu ada peristiwa pahit yang harus aku jalani lebih dahulu. Makin lama makin berat. Sampai kadang aku merasa begitu sesak, sulit bernafas, saking beratnya. Kemudian aku masih harus terus belajar berpikir keras.

Kadang-kadang pencarian itu diselingi dengan acara terperosok, kelelahan, hampir putus asa, dan bingung. Namun ada satu hal yang semakin melekat dalam hatiku; keputusanku meninggalkan altar dan menuju mihrab adalah keputusan yang benar.

Karena pada mihrab itu aku melihat cahaya. Aku melihat cahaya lebih terang daripada cahaya yang pernah kau tawarkan padaku…”

#KutipanNovel_GoodMorningFatherMarco

THE SOUL of INNOCENT

Posted in Fiction on March 27, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

The Soul of Innocent

“I’m Lorna. A fairy.

I live in Mr. Marco’s garden; a small but beautiful garden in a small town called Orvieto[1]. I’ve been living in this garden since hundreds years ago.

Hundreds years of living made me understood human’s emotions; happy, sad, anger, disappointed, vain, etc. I learned those emotions from human lived around the garden. Then, -I don’t know when it was started-, it is slowly become a habit of me to come to their houses, try to make ‘contact’ with those who still believe in the existence of my kinds, and make some radical digging to find out how human could have such emotions like those. Sometimes, my habit dragged me into curiosity that might kill the cat. But, the sensation of searching and finding always made me feel great. I could feel my heart piled up with magic to its fullest.

This story is rolling based on those kinds of experiences. Well, I’m not a good story teller, I don’t even have much talent to be said as a good writer, but I think my story is worth reading. At least, (maybe) I could give you some boring thoughts of the ultimate values…”

[1] A small town in Italy

#KutipanNovel_TheSoulOfInnocent

SIMPAN AKU DALAM HATIMU

Posted in Fiction on March 27, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Simpan Aku dalam Hatimu

“… Dari seringnya berdiskusi dan berdialog dengan Radu, semakin lama pemikiran kami pun semakin bisa berkompromi. Dari segi sifat, kami tetap sangat berbeda. Namun pada saat itu, kami sudah sangat bisa melihat perbedaan itu sebagai alat untuk saling melengkapi. Bukan sebagai hal yang harus dipertengkarkan atau diperdebatkan.
Keadaan itu membuat perasaan di antara kami perlahan-lahan berubah. Sedikit demi sedikit kami menjadi saling mencintai. Sangat dalam. Tuhan saat itu rupanya ingin mengajariku bahwa dari perbedaan yang sangat besar dapat lahir sebuah cinta sejati.

Hubunganku dengan Radu pun membuatku menjadi sangat mengerti bahwa kenyamanan dalam suatu hubungan adalah ketika membiarkan pasangan kita menjadi dirinya sendiri. Kompromi-kompromi memang harus tetap ada, tetapi kompromi itu harus lebih didasari keinginan tulus kami untuk saling membahagiakan pasangan. Kami sama-sama lebih suka untuk berpikir ‘apa yang dapat kami berikan’, bukan berpikir ‘apa yang dapat kami tuntut’. Kalaupun ada di antara kami yang harus berubah, perubahan itu harus dilakukan atas dasar jalan Tuhan, bukan karena ego kami menginginkannya.

Pemikiran dan prinsip seperti ini membuat cinta kami bersih dari segala kekejian yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Tak pernah ada pemaksaan, tak pernah ada permintaan ungkapan kasih sayang yang menyalahi aturan moral. Kami sama-sama mengerti bahwa kasih sayang dan cinta sejati tak mungkin meminta hal-hal yang dapat merusak orang yang kita cintai. Aku tak kan memungkiri bahwa kami pun memiliki nafsu. Bagaimanapun kami masih manusia biasa yang pasti memiliki nafsu. Tetapi, kami berdua sangat paham bahwa manusia pun diberi kemampuan untuk dapat memilih berdasarkan akal dan nuraninya. Jadi, jika akal dan nurani kita dapat mengatur diri dan perilaku kita untuk memilih hal yang baik menurut Tuhan, maka mengapa kita memaksakan diri memilih jalan yang tidak direstui Tuhan? Berkaitan dengan hal tersebut, tindakan Radu yang paling jauh terhadapku adalah hanya mencium punggung tangan dan keningku dengan rasa hormat. Aku pun hanya begitu terhadapnya; mencium punggung tangannya dengan rasa hormat. Tak ada tindakan lebih….. Kami benar-benar saling menghargai….

Cintaku dan Radu seperti sekerat kecil spons berdaya hisap tinggi yang mampu menampung air kasih sayang melebihi besar tubuhnya. Dan seperti sekerat spons, hati kami pun mampu memancarkan kasih sayang dengan deras dan mampu membasahi setiap sel yang ada dalam hati dan jiwa kami dengan kasih sayang. Murni….
Semua itu membuatku merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Yang mampu memisahkan kami hanyalah kehendak Tuhan…”

#KutipanNovel_SimpanAku DalamHatimu

%d bloggers like this: