Archive for the Culture Category

SUPERNATURAL WORLD IN JAPAN: Animal with Supernatural Powers

Posted in Culture with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , on April 2, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

(Perlu versi bahasa Indonesia? klik di sini)

According to legend, certain animal are created with supernatural powers. They can transform themselves into anything they desire, and can even acquire other magical abilities. The Japanese raccoon (tanuki) and the fox (kitsune) are the most popular animal attributed with magical powers. They have similar roles in folklore. They are pictured as mischievous rogues who often get themselves into trouble. They can, at times, be frightening creatures, and at other moments be capable of making a negative situation positive. Sometimes they are treated as godly figures and become cultural heroes.

The ‘tanuki’ is sometimes seen as a witch, a cannibal monk, or a one-eyed demon who murders his victims with thunder, lightning or earthquakes. It is depicted as a small hairy animal, and it is believed that he can transform into a frightening creature. Sometimes, it can appear as a Buddhist monk dressed in robes as well. Continue reading

Advertisements

TATA NILAI DAN NORMA MASYARAKAT JEPANG

Posted in Culture, Philosophy and Education with tags , , , , , , , , , , , , , , , , on April 1, 2015 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

PENDAHULUAN

Bertahun-tahun menekuni bidang sastra dan budaya Jepang sempat membuat saya merasa sangat percaya diri ketika menginjakkan kaki di Nagoya International Airport  beberapa tahun yang lalu (untuk kemudian meluncur dengan shinkansen ke kota Shizuoka, tempat saya menuntut ilmu). Saat itu, saya pikir saya tidak akan mengalami kesulitan hidup di tengah-tengah masyarakat Jepang karena Reischauer, Benedict, dan Lebra (para penulis buku tentang kebudayaan Jepang) telah membekali saya cukup banyak pengetahuan tentang kebudayaan dan masyarakat Jepang.

Selain itu, keyakinan saya pun semakin kuat ketika media di tanah air hampir semuanya seolah menilai bangsa Jepang sebagai bangsa yang super dan unik. Super dalam artian bangsa Jepang hampir selalu digambarkan sebagai bangsa yang ulet, pantang menyerah, dan serba bisa (terutama di bidang teknologi); unik dalam artian dibalik segala ke-super-annya bangsa Jepang digambarkan sebagai bangsa yang selalu memegang tradisinya erat-erat. Dengan kata lain, menurut gambaran di atas, bangsa Jepang seolah  bangsa yang mudah berubah sekaligus tidak mau berubah. Dari segi teknologi ia berlari lebih cepat daripada makhluk yang larinya paling cepat, tetapi dari segi budaya ia seperti peti terkunci yang tidak bisa menerima pengaruh apapun dari luar. Continue reading

FENOMENA KYOUIKU MAMA DI MASYARAKAT JEPANG

Posted in Culture, Philosophy and Education with tags , , , , , , , , on September 18, 2014 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Jepang pasca perang dunia kedua hampir selalu menjadi perhatian umat manusia karena berbagai hal. Mulai dari semangat kebangkitannya untuk menata negeri yang sudah porak poranda, hingga kecanggihannya dalam meniru dan mengalahkan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang industri. Kesejahteraan rakyatnya yang saat itu meningkat dengan cepat pun menjadikan Jepang sebuah negara yang mengundang decak kagum pengamatnya.

Bagaimana Jepang dapat menjadi sebuah bangsa yang begitu tegar dan bersemangat seperti itu? Tentunya banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari keadaaan alam dan geografis yang tidak begitu menguntungkan sehingga membentuk sebuah masyarakat yang tahan banting, yang bisa survive dengan hasil alam yang sedikit, hingga peranan para ibu sebagai pendidik individu-individu dalam kelompok masyarakat terkecil (nuclear family/keluarga inti) yang mencetak individu-individu yang mampu berkiprah dalam kemajuan di segala bidang. Continue reading

DUNIA SUPRANATURAL DI JEPANG

Posted in Culture with tags , , , , , , , on November 15, 2009 by Kanya Puspokusumo

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

1. Mitos versus Logos

Di mata dunia, Jepang sekarang lebih dikenal sebagai negara industri yang semata-mata mendewakan logos (ilmu), teknologi dan rasio, sama seperti umumnya negara-negara industri di Barat. Religi dan kepercayaan pada dunia supranatural sering menjadi sesuatu yang terpisah dan dikesampingkan sampai batas terluar dari kehidupan manusia. Banyak orang Jepang tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa dirinya tidak beragama dan tidak percaya dengan segala macam yang berbau supranatural. Tetapi benarkah demikian? Benarkah religi dan kepercayaan pada dunia supranatural telah sama sekali lepas dari kehidupan mereka?  Saya pikir tidak. Jika mereka memang sangat tidak percaya dengan hal-hal supranatural, mengapa banyak rumah sakit yang tidak mempunyai lantai empat atau kamar nomor empat? Mengapa angka sembilan dianggap sama sialnya dengan angka empat?  Angka 42 dan 420 pun seringkali dihindari hanya karena berbunyi shi-ni (mati) dan shi-ni-rei (roh orang mati). Hal tersebut menunjukkan bahwa dibalik pengakuan ketidakberagamaannya, bahwa dibalik pemujaannya pada logos, masyarakat Jepang seringkali masih memiliki kepercayaan kuat pada hal-hal supranatural yang berbasis agama (terutama agama Shinto, Budha), mitos, dan tahyul. Continue reading

%d bloggers like this: