GIONGO dan GITAIGO (2)

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Learning Japanese is difficult, especially for foreign learners. The language they learn at school is quite different from that in daily life conversation in Japan. One of aspects that seems hard to learn is Giongo and Gitaigo. Giongo is the word used for imitating or describing sound. And Gitaigo is the word used for explaining or describing the situation.  Learning and understanding Giongo and Gitaigo will make the learners speak a better and more natural Japanese, not ‘awkward’ one.

 

Pendahuluan 

Setiap bahasa merupakan bagian penting dari kebudayaan penutur aslinya (Fukuda:1993). Dengan kata lain, bahasa merupakan pintu menuju pemahaman akan cara berpikir suatu bangsa.  Itulah sebabnya setiap bahasa memiliki perbedaan, kesulitan, dan daya tariknya masing-masing. Belajar bahasa asing sangat berharga karena akan membuat kita dapat berhubungan dengan orang asing, baik sebagai sarana untuk saling berbagi ide atau sebagai alat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi untuk memahami sebuah bahasa, kita memerlukan lebih dari sekedar tatabahasa dan kamus. Banyak hal-hal lain yang harus dipelajari sampai kita dapat berkomunikasi dengan bangsa asing dengan lancar dan tidak kaku. Demikian pula dengan Bahasa Jepang.

Bahasa Jepang termasuk bahasa yang sulit dipelajari; setidak-tidaknya itulah yang dirasakan oleh sebagian pembelajar Bahasa Jepang. Banyak pembelajar asing (yang sebelumnya sudah bertahun-tahun belajar Bahasa Jepang di sekolah) terkejut ketika mereka berkunjung  ke Jepang untuk pertama kalinya. Mereka mengeluh karena tidak dapat menangkap percakapan orang Jepang. Kendala ini timbul karena Bahasa Jepang tidak seperti Bahasa Inggris yang perbedaan antara bahasa tulisan dan bahasa lisannya tidak terlalu banyak.  Bahasa Jepang yang dipelajari di sekolah sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang biasanya dipelajari di sekolah adalah bahasa Jepang yang formal dan kaku, sedangkan bahasa lisan yang tumbuh dalam masyarakat Jepang adalah bahasa Jepang yang (bisa jadi) sangat tidak resmi, sehingga kadang-kadang kita pun tidak akan menemukannya di dalam kamus.  Inilah yang membuat para pembelajar asing biasanya kebingungan bila untuk pertama kali harus berkomunikasi langsung dengan orang Jepang.

Salah satu aspek bahasa yang biasanya terasa sangat sulit dipelajari oleh para pembelajar asing adalah Giongo dan Gitaigo, yaitu kata-kata yang meniru bunyi dan melukiskan keadaan. Misalnya, [ニャーニャー/Nyaa nyaa] untuk menerangkan bunyi kucing mengeong, [ザーザー/zaa zaa] untuk menerangkan keadaan hujan yang sangat lebat, [ピカピカ/pikapika] untuk melukiskan keadaan benda yang berkilauan, [ゲラゲラ/geragera] untuk melukiskan bunyi tertawa yang keras (terbahak-bahak),dan sebagainya.

Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang Giongo dan Gitaigo beserta contoh kata-kata, arti dan pemakaiannya dalam kalimat.

 

Pola-pola yang terdapat dalam Giongo dan Gitaigo

Ada ratusan kata yang termasuk Giongo dan Gitaigo. Namun menurut pembentukannya, pada dasarnya Giongo dan Gitaigo terbagi menjadi 11 pola yang umum, seperti yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No. Pola Contoh
1 「αつ」型 そっ、はっ、あっ, dsb
2 「αβつ」型 がさっ、ぷつっ、どきっ, dsb
3 「αん」「αβん」型 ぽん、ぱん、がしゃん、がくん、かちん, dsb
4 「α―ん」型 あーん、がーん、しーん, dsb
5 「α―」型 きゅー、しゅー、じゃー, dsb
6 「α―α―」型 かーかー、どーどー、すーすー, dsb
7 「αい」型 ぽい、ちょい、ぷい, dsb
8 「α―い」型 すーい、ずーい, dsb
9 「αβり」型 ちらり、とろり、ちくり, dsb
10 「αβαβ型 ひそひそ、うきうき、ぞろぞろ, dsb
11 「αんβり」型 あんぐり、すんあり、しんわり, dsb

Berdasarkan fungsinya, gitaigo dan giongo berfungsi untuk memberikan perasaan yang lebih kuat pada sebuah kata atau kalimat. Karena itulah, biasanya giongo dan gitaigo biasanya ditulis dengan huruf katakana. Sesuai dengan sifat hurufnya yang kaku dan keras, katakana berfungsi sebagai penguat atau untuk memberi tekanan pada kata. Namun tidak semua giongo dan gitaigo ditulis dengan huruf katakana, banyak juga yang ditulis dengan huruf hiragana.

Di bawah ini diberikan sedikit contoh gitaigo dan giongo beserta arti dan pemakaiannya dalam kalimat.

1. Gangan: Kata yang melukiskan tindakan yang kuat atau keras.

Contoh:

Uwaki ga barete nyoubo ni gangan shiboraremashita ne, toubun atama ga agarimasen.(Ketika istri saya melihat saya selingkuh dengan perempuan lain, maka ia pun merendahkan saya. Sekarang saya sepenuhnya berada dalam kekuasaannya)

2. Hetoheto: Menunjukkan keadaan sangat lelah.

Contoh:

2jikan mo rasshu no densha ni notte tsuukin suru to, kaisha ni tsuku koro wa mou hetoheto desu yo (Setelah dua jam naik kereta pada jam sibuk di pagi hari, begitu sampai di kantor kaki saya capai sekali).

3. Karakara: Menunjukkan keadaan kering kerontang

Contoh:

Toukyou no fuyu wa kaze ga hayatte mo muri nai desu ne. Kuuki ga karakara de nodo o itamerun desu yo. (Tidak mengherankan jika begitu banyak orang Tokyo yang masuk angin selama musim dingin. Udaranya kering sehingga menyebabkan tenggorokan kita sakit.

4. Dotabata: Kata ini memiliki pengertian yang cukup banyak. Yang pertama adalah menerangkan suara atau gerakan terbang, melompat, maupun berlari. Yang kedua, bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa mampu berhenti. Yang ketiga, untuk mengkritik orang yang melakukan tidakan seperti pada pengertian yang pertama dan kedua. Jika digunakan untuk membicarakan diri sendiri, kata ini dapat diartikan sebagai malu dan rendah diri.

Contoh:

– Uchi de wa kodomo ga dotabata shitteiru mono de, ochitsuite hon mo yomenain desu yo. (Dengan anak-anak yang gaduh di sekitar rumah, saya tidak mendapatkan cukup ketenangan dan kedamaian bahkan untuk membaca buku sekalipun)

Kyou wa shanai no hikkoshi de ichinichijuu dotabata shite shimaimashite ne, shigoto ni naranakattan desu yo. (Hari ini hari perpindahan di kantor, karena itu semua orang sibuk mondar-mandir. Tidak ada yang mengerjakan pekerjaannya sampai selesai.)

5. Gohongohon: Menerangkan suara batuk yang keras dan berat dari kerongkongan bagian dalam, atau batuk basah.

Contoh:

Hito no kao ni mukatte, gohongohon to seki o suru nante, shitsurei ne.(Batuk di hadapan orang betul-betul merupakan perbuatan yang tidak sopan)

Kachou ittara, gohongohon to sekikominagara mo tabako o hanasanai no yo. Douka to omou wa. (Kepala bagian itu memang hebat. Ia tetap merokok sekalipun ia batuk berat. Saya benar-benar tidak dapat mempercayainya)

6. Puutto: Menerangkan bunyi tiba-tiba dari klakson, terompet, hembusan keras dari lubang mulut atau bagian tubuh lainnya. Juga digunakan untuk melukiskan tertawa yang tidak dapat ditahan. Dapat juga untuk melukiskan keadaan raut muka yang sedang bersungut-sungut.

Contoh:

Kono hen wa , yuugata ni naru to puutto rappa o fukinagara otoufuya-san ga mawatte kuru no yo. (Setiap sore tukang tahu datang ke sini dan meniup terompetnya).

– Amari no okashisa ni, omowazu puutto fukurete kita mono. (Karena sangat lucu, saya tidak bisa menahan tawa)

Ki ni iranai to sugu puutto fukurerunja, maru de kodomo to onaji janai ka. (Cara kamu bersungut-sungut setiap kali kamu tidak menyukai sesuatu itu seperti anak kecil.

7. Hakkiri: Menerangkan keadaan yang jelas, tidak salah.

Contoh:

Are kara mou juugonen mo tatsu noni, maru de kinou no koto no youni hakkiri to oboeteiru wa. (Sudah lima belas tahun yang lalu, tetapi saya masih mengingatnya dengan jelas seolah-olah baru kemarin terjadi)

Doumo hakkiri shinai otenki ne. (Cuaca ini berubah-ubah (tidak jelas ) ya.)

8. Sarasara: Menunjukkan keadaan mulus, kering, bersih, tidak lengket. Digunakan untuk melukiskan perasaan atau suara kain atau rambut yang halus seperti sutera yang digosokkan dengan lembut. Dapat juga menunjukkan perasaan atau suara yang halus dari air yang mengalir di sungai. Digunakan juga untuk melukiskan kefasihan seorang pembicara atau penulis.

Contoh:

Nonda ato no ochazuke sarasara, kore ga umain da na. (Setelah minum-minum, tidak ada yang lebih enak daripada semangkuk teh yang meluncur mulus di kerongkongan).

Masih banyak lagi kata-kata yang termasuk giongo dan gitaigo. Untuk lebih lengkapnya, pembaca dapat melihat buku-buku yang khusus mengulas tentang giongo dan gitaigo, atau mengunjungi situs-situs internet yang mengkaji tentang giongo dan gitaigo secara lebih mendalam

 

Penutup

Giongo dan gitaigo merupakan aspek bahasa yang sulit dipelajari bagi pembelajar asing yang belajar bahasa Jepang. Namun bukan berarti kedua aspek ini pantas untuk ditakuti. Sebaliknya, harus dipelajari dengan lebih keras lagi sehingga kita dapat berbicara bahasa Jepang dengan lancar dan tidak kaku.

Untuk mempermudah mempelajari kedua aspek ini, di masa depan dapat dicoba untuk membuat permainan kata yang dikhususkan mempelajari giongo dan gitaigo, dan dikhususkan untuk pembelajar yang berbahasa ibu bahasa Indonesia.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Sekarang aktif sebagai penulis, penerjemah, dan editor bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

 

Rujukan

Atoda, Toshiko. 1998. Giongo-Gitaigo Tsukaikata Jiten. Tokyo: Soutakusha

Fukuda, Hiroko. 1993.  Flip, Slither, and Bang. Tokyo: Kodansha International.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :