TATA NILAI DAN NORMA MASYARAKAT JEPANG

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

PENDAHULUAN

Bertahun-tahun menekuni bidang sastra dan budaya Jepang sempat membuat saya merasa sangat percaya diri ketika menginjakkan kaki di Nagoya International Airport  beberapa tahun yang lalu (untuk kemudian meluncur dengan shinkansen ke kota Shizuoka, tempat saya menuntut ilmu). Saat itu, saya pikir saya tidak akan mengalami kesulitan hidup di tengah-tengah masyarakat Jepang karena Reischauer, Benedict, dan Lebra (para penulis buku tentang kebudayaan Jepang) telah membekali saya cukup banyak pengetahuan tentang kebudayaan dan masyarakat Jepang.

Selain itu, keyakinan saya pun semakin kuat ketika media di tanah air hampir semuanya seolah menilai bangsa Jepang sebagai bangsa yang super dan unik. Super dalam artian bangsa Jepang hampir selalu digambarkan sebagai bangsa yang ulet, pantang menyerah, dan serba bisa (terutama di bidang teknologi); unik dalam artian dibalik segala ke-super-annya bangsa Jepang digambarkan sebagai bangsa yang selalu memegang tradisinya erat-erat. Dengan kata lain, menurut gambaran di atas, bangsa Jepang seolah  bangsa yang mudah berubah sekaligus tidak mau berubah. Dari segi teknologi ia berlari lebih cepat daripada makhluk yang larinya paling cepat, tetapi dari segi budaya ia seperti peti terkunci yang tidak bisa menerima pengaruh apapun dari luar.

Namun, setelah beberapa waktu tinggal di tengah-tengah masyarakat Jepang, saya mulai merasakan adanya ketimpangan antara yang tertulis di buku-buku dengan kenyataan yang saya lihat secara langsung. Jepang yang saya lihat tidak banyak berbeda dengan bangsa Barat, mulai dari sikap sampai pola pikirnya. Banyak pula yang mulai terbuka menerima dan kebudayaan dari luar, baik budaya positif maupun negatif.

Kenyataan ini membuat saya berpikir bahwa mungkin  buku-buku Benedict, Reischauer, dan sebagainya mungkin sudah tak bisa sepenuhnya lagi dijadikan pegangan, mengingat  definisi bangsa Jepang yang tertulis di buku-buku Benedict, Reischauer, dan lain-lain adalah hasil penelitian mereka pada tahun 1960-1970an.  Dalam kurun waktu puluhan tahun, tidak mustahil jika ada perubahan-perubahan dalam budaya masyarakat Jepang, terutama setelah adanya globalisasi disegala bidang.

Berkaitan dengan masalah perubahan budaya, Soekmono (1987) mengatakan bahwa kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan ada jika masih ada masyarakat yang pendukungnya.  Masyarakat memiliki sifat tumbuh dan berkembang sesuai dengan jaman di mana masyarakat tersebut hidup. Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat pun otomatis membuat kebudayaan terus tumbuh dan berkembang. Anasir dalam kebudayaan yang tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan sendirinya akan disesuaikan dan diubah.

Soekmono lebih lanjut mengatakan bahwa pada dasarnya perubahan kebudayaan disebabkan oleh dua hal, yaitu:

    1. Penyebab dari dalam, yaitu dari masyarakat pendukungnya sendiri
    2. Penyebab dari luar, yaitu dari luar lingkungan masyarakat tersebut.

Berbeda dengan Soekmono, Koentjaraningrat (1981) lebih menyoroti perubahan kebudayaan berdasarkan cara masuknya ke dalam sebuah masyarakat.

Menurut Koentjaraningrat,  kebudayaan dapat berubah karena revolusi dan evolusi. Revolusi kebudayaan biasanya terjadi pada saat perang. Kebudayaan penjajah akan dipenetrasikan secara paksa ke dalam kebudayaan bangsa yang dijajah sampai akhirnya (bukan tidak mungkin) kebudayaan penduduk asli musnah. Evolusi kebudayaan biasanya terjadi akibat kontak terus menerus antara penduduk asli dan pendatang dalam waktu yang sangat lama. Dua kebudayaan yang berbeda tersebut kemudian perlahan-lahan berasimilasi menjadi sebuah kebudayaan campuran dengan format baru.

Berdasarkan beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada bangsa yang statis. Bangsa Jepang pun pasti demikian. Jadi, sama sekali tidak mustahil jika budaya, tata nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat Jepang tentunya mengalami perubahan di sana-sini, dan mungkin saja beberapa diantaranya menjadi sangat  berbeda dengan budaya, tata nilai, dan norma bangsa Jepang pada masa Benedict, Reischauer, dan  Sugiyama mengadakan penelitian.

Tetapi, terlepas dari sejauhmana budaya itu mengalami perubahan di masa kini, saya ingin menjelaskan beberapa tata nilai dan norma bangsa Jepang yang selama ini mendasari kehidupan bermasyarakatnya.

 

TATA NILAI DAN NORMA MASYARAKAT JEPANG

Banyak pendapat dan tafsiran tentang bangsa Jepang.  Ruth Benedict, seorang antropolog Amerika, dalam Pedang Samurai dan Bunga Seruni mengatakan bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki dua buah sifat bertentangan sekaligus sampai kadar yang paling ekstrem dalam dirinya. Ia dapat bersifat agresif sekaligus tidak agresif, militeristis dan estetis, kasar sekaligus sopan, kaku dan mudah menyesuaikan diri, pemberani dan pengecut, konservatif dan modern, dan sebagainya.  Tetapi, pendapat Benedict tersebut dibantah oleh seorang antropolog Jepang, Takie Sugiyama Lebra. Lebra mengatakan bahwa Benedict terlalu cepat menafsirkan dan menyimpulkan pola perilaku bangsa Jepang. Menurutnya, dualisme seperti yang dikemukakan Benedict tidak sesuai dengan moralitas bangsa Jepang. Bangsa Jepang tidak memiliki dualisme seperti itu, melainkan bangsa Jepang percaya akan kerelatifan segala sesuatu. Bagi bangsa Jepang, kebaikan dan keburukan adalah relatif, tergantung situasi dan kondisi sosial, yang hakekatnya seringkali di luar jangkauan pemahaman siapapun.

Masih banyak lagi tafsiran para ahli tentang bangsa Jepang, namun pada umumnya para ahli tersebut sepakat dalam satu hal, yaitu bahwa dalam hubungan bermasyarakat, Jepang merupakan bangsa yang sangat memperhatikan interaksi sosial dan kebersamaan dalam kelompok. Keharmonisan dan keseimbangan hubungan antar individu dengan kelompoknya menempati posisi yang amat penting dalam masyarakat Jepang. Kelompok yang dimaksud bagi orang Jepang tidak hanya terbentuk berdasarkan ikatan darah (ketsuen) ataupun ikatan geografis (chien), tetapi juga ikatan yang terbentuk karena pekerjaan seperti dalam perusahaan (shaen). Begitu pentingnya kelompok bagi orang Jepang, sehingga dalam sebuah perkenalan, alih-alih menanyakan nama (Onamae wa?), yang akan ditanyakan pada seseorang adalah “Dochirasama desuka?” yang berarti anda orang  dari mana?. Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban tentang identitas diri secara pribadi, melainkan menuntut jawaban dimana seorang individu mempunyai keterikatan. Contohnya, bila yang ditanya adalah seorang pelajar, maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebutkan nama diri dan nama sekolahnya: Watashi wa Kenritsu kookoo no Naoko desu, yang artinya: Saya Naoko dari SMA Kenritsu.

Rasa keterikatan dan saling memiliki pada bangsa Jepang begitu kuat sehingga seseorang yang tidak mempunyai keterikatan yang jelas akan dianggap sebelah mata. Bahkan di masa lalu, individu yang keterikatannya tercampur, seperti anak-anak hasil perkawinan antara bangsa Jepang dengan bangsa Asing seringkali tidak dipercaya dan dikucilkan dari masyarakat. Anak-anak seperti itu biasanya dianggap berasal dari kebangsaan yang tidak dikenal (kokuseki fumei).

Kekuatan rasa keterikatan dan rasa saling memiliki seperti ini menuntut komitmen dan loyalitas secara total, sehingga rasa bangga dan aib pribadi akan dianggap sebagai kebanggaan dan aib kelompok; demikian pula sebaliknya, rasa bangga dan aib kelompok akan menjadi kebanggaan dan aib anggotanya.

Keterikatan, komitmen, dan ketergantungan seperti ini berkaitan erat dengan tata nilai dan norma masyarakat Jepang yang disebut Omoiyari, Amae, On, Gimu, dan Giri. 

 

OMOIYARI (Empati)

Omoiyari (empati) menempati peringkat yang tertinggi dalam kerangka moral bangsa Jepang, dan sekaligus merupakan norma yang paling mendasar yang harus dimiliki oleh orang Jepang. Omoiyari merupakan kemampuan dan kemauan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, merasakan suka dan duka yang mereka alami, dan membantu mereka untuk mewujudkan keinginan mereka. Omoiyari bisa berbentuk kesiapan seseorang dalam mengantisipasi keperluan orang lain. Dan dia berusaha meningkatkan kesenangan orang lain dengan memberikan apa yang dibutuhkan dan disukainya, serta berusaha mencegah apa yang mungkin membuatnya tidak suka.

Sebagai contoh, misalnya X mendapat musibah. Musibah itu membuatnya depresi. Orang yang sedang tertimpa musibah dan mengalami depresi seperti itu tidak akan dibiarkan terlantar, melainkan akan diperhatikan oleh teman atau keluarganya. Seorang teman atau keluarga yang dekat bisa jadi akan segera mengetahui kesusahan yang dirasakan X tanpa X bercerita banyak, dan akan segera menghiburnya.

Omoiyari berkaitan pula dengan ketulusan. Seseorang yang memberikan empatinya kepada orang lain tidak mempunyai maksud meminta balasan. Balas budi hanya timbul dari pihak penerima empati.

 

 

AMAE (Ketergantungan)

Bila konsep Omoiyari berlaku di Jepang, maka tentunya konsep Amae menjadi suatu konsep yang penting dalam kerangka moral bangsa Jepang karena si pelaku Omoiyari memerlukan orang yang bergantung padanya dan sebaliknya.

Amae pada awalnya lahir di dalam lingkungan ilmu Psikologi. Menurut Takeo Doi, seorang psikoanalis dan penulis Jepang, Amae memiliki makna hubungan kejiwaan antara bayi dan ibu yang sedang menyusuinya. Takeo Doi mengatakan bahwa jiwa seorang anak mengalami perkembangan.  Setelah si anak memahami bahwa eksistensi ibunya berbeda dengan dirinya, ia memberi pengakuan terhadap eksistensi ibunya tersebut dengan Amae. Kata Amae sendiri mengandung makna manja. Tetapi istilah manja ini tidak bisa disamakan dengan makna manja dalam bahasa Indonesia, yang berkesan negatif. Manja dalam konsep Amae adalah perwujudan pengakuan eksistensi orang tua dalam bentuk keinginan akan kedekatan hubungan dengan orang tua.

Konsep Amae yang berlaku sebagai tata nilai dan norma bangsa Jepang hingga sekarang adalah sikap diri yang menganggap bahwa orang lain selalu memiliki niat yang baik dan selalu siap menolong dirinya bila ia mengalami kesulitan.

 

ON, GIMU, DAN GIRI (Hutang dan Balas Budi)

Hal yang penting lainnya dalam tata nilai dan norma bangsa Jepang adalah masalah hutang budi dan kewajiban untuk membayarnya. Dalam masyarakat Jepang hal ini dikenal dengan istilah On, Gimu, dan Giri.

Konsep On sendiri tidak mudah untuk dijelaskan artinya, karena mempunyai pengertian yang amat luas. On bukan sekedar mengandung arti kewajiban, tetapi juga terkandung di dalamnya makna kesetiaan, keramahan, bahkan cinta kasih. Namun secara umum On mengandung arti beban, hutang, atau sesuatu yang harus dipikul seseorang sebaik mungkin.

Para pengamat kesusastraan dan kebudayaan Jepang tentunya mengenal kisah Nijuushichinin Roonin, dan Kisah HachikoNijuushichinin Roonin bercerita tentang 27 samurai yang sangat setia terhadap majikannya, sehingga ketika majikannya  ber-harakiri karena merasa telah dipermalukan oleh musuhnya, mereka pun turut ber-harakiri bersama-sama.

Hachiko bercerita tentang seekor anjing yang sangat setia. Ia selalu setia menunggu tuannya di depan stasiun Shibuya (Shibuya Eki). Setiap pagi Hachiko mengantar tuannya bekerja sampai stasiun, dan pada sore harinya, ia pun kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya. Hachiko melakukan semua ini setiap hari, bahkan hingga 10 tahun setelah tuannya meninggal. Ia tetap setia menunggu, walaupun tuannya tak pernah muncul lagi karena sudah meninggal. Kesetiaan Hachiko pada tuannya yang tak terbatas akhirnya diabadikan dengan pendirian patung Hachiko di dekat Stasiun Shibuya.

Kedua kisah ini merupakan perwujudan On yang sangat kuat. Menanggapi dua buah kisah di atas, Edwin Reischauer dalam Manusia Jepang (1982) menyebutkan bahwa kisah-kisah tersebut mencerminkan moralitas bangsa Jepang yang sangat tinggi nilainya. Kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian menjadi sesuatu yang sangat dihormati dan diagungkan. Ruth Benedict dalam Pedang Samurai dan Bunga Seruni (1982) menyebutnya sebagai sifat ekstrem bangsa Jepang yang tidak mungkin dipahami oleh bangsa lain, sedangkan Djodjok Soepardjo (1999) , seorang ahli budaya Jepang, menyebutnya sebagai pola komunikasi intrapersonal dalam budaya Jepang.

Pada masa kini, contoh On masih dapat dilihat pada hubungan antara ibu dan anak. Contohnya, seorang laki-laki yang sangat sayang pada ibunya berkata bahwa ia tidak dapat melupakan On yang diterima dari ibunya. Istilah On tersebut tidak sepenuhnya tertuju pada cinta si anak kepada ibunya, melainkan pada segala sesuatu yang telah dilakukan sang ibu baginya semenjak ia bayi. Ia merasa berhutang atas segala kerepotan yang dihadapi orang tuanya selama memelihara dan membesarkan dirinya, dan ia merasa harus menebusnya dengan segala cara.

Gimu dapat diartikan sebagai kewajiban membayar On yang telah diterima seseorang. Gimu harus dibayar seseorang karena adanya ikatan-ikatan yang kuat dan ketat pada saat ia dilahirkan, misalnya ikatan pada keluarga dan ikatan pada negaranya. Pembayaran ini tidak memiliki batas waktu, dan pembayaran yang telah dilakukan pun kadang-kadang tidak pernah cukup walaupun dilakukan seumur hidup.

Giri merupakan jenis kewajiban pemenuhan On yang lain. Lain halnya dengan Gimu, Giri mempunyai batas waktu pembayaran, dan hutang-hutang tersebut wajib dibayar dalam jumlah yang tepat sama dengan yang telah diterima. Giri mempunyai pembagian yang jelas. Yang pertama adalah Giri kepada dunia, yaitu kewajiban seseorang untuk membayar On kepada sesamanya, misalnya karena seseorang telah menerima hadiah uang, menerima jasa dari orang lain, dan sebagainya. Yang kedua adalah Giri kepada nama sendiri, yaitu kewajiban untuk tetap menjaga kebersihan nama dan reputasi seseorang. Kewajiban ini termasuk kewajiban untuk membersihkan nama baik seseorang dari penghinaan atau tuduhan atas kegagalan dengan cara melakukan balas dendam, kewajiban seseorang untuk menunjukkan atau mengakui kegagalan atau ketidaktahuannya dalam menjalankan suatu peran dalam masyarakat, dan kewajiban seseorang untuk mengindahkan sopan santun Jepang dengan melaksanakan semua norma yang berlaku serta dapat mengekang emosi dalam situasi yang tidak tepat.

Berdasarkan pengalaman saya hidup di Jepang, masalah Giri pada masa kini tidak lagi terlalu diperhatikan seperti jaman dahulu. Tidak banyak yang masih paham tentang pentingnya Giri. Beberapa anak remaja bahkan mengira bahwa istilah Giri hanya dipakai pada saat Valentine Day dan White Day, yaitu Giri Choko. Pada saat itu, para anak perempuan merasa ‘berkewajiban’ untuk memberi coklat (chokoreeto/チョコレート) pada anak laki-laki yang disukainya, dan para anak laki-laki akan membalas pemberian mereka pada acara di bulan Maret yang disebut White Day (howaito dee/ホワイトデー) .

 

PENUTUP

Sampai saat ini di antara para pengamat, pengajar, dan pembelajar kebudayaan Jepang masih banyak yang mendewakan buku-buku karya Ruth Benedict dan Edwin Reischauer sebagai rujukan utama penelitian kebudayaan Jepang. Pendewaan ini tidak menjadi masalah jika yang dijadikan objek penelitiannya adalah kebudayaan Jepang sebelum tahun 1980. Tetapi jika buku-buku tersebut masih dijadikan rujukan untuk penelitian tentang kebudayaan Jepang masa kini, saya pikir penelitian tersebut hanya akan menjadi penelitian budaya Jepang masa kini yang isinya tidak masa kini. Benar-benar tidak relevan.

Bagaimanapun, tata nilai dan norma masyarakat Jepang seperti konsep Giri Ninjo ini, bisa jadi telah mengalami perubahan yang cukup besar dibandingkan dengan kondisi 20-30 tahun yang lalu. Dengan semakin banyaknya orang Asing yang masuk ke Jepang dewasa ini, tentunya akan membawa pengaruh pula pada pergeseran budaya. Karena itu, seharusnya ada lebih banyak penelitian baru yang menggali lebih dalam tentang sampai sejauh masa sebenarnya bangsa Jepang telah berubah di masa kini. Jika dilihat dari pelaksanaan konsep Giri Ninjo, sampai sejauh mana masyarakat Jepang masih mempercayai, memahami, dan melaksanakan konsep tersebut? Adakah pergeseran makna yang cukup besar? Apakah konsep ini masih dianggap relevan dengan kehidupan sekarang? Jika ada orang Jepang yang menikah dengan warga negara asing, apakah konsep tersebut masih dilaksanakan? Apakah pelaksanaan konsep ini juga diterapkan pada orang asing yang tinggal di Jepang? Apakah orang Jepang yang tinggal di luar negeri juga masih melaksanakannya? Adakah perbedaan pemahaman terhadap konsep Giri Ninjo di antara bangsa Jepang yang tinggal di kota megapolitan seperti Tokyo dengan orang Jepang yang tinggal di kota kecil?

Penelitian-penelitian seperti ini akan dapat memberi masukan baru tentang kebudayaan Jepang masa kini yang lebih aktual. Dengan demikian para pengamat, pengajar, dan pembelajar kebudayaan Jepang akan mendapat pencerahan, tidak lagi terpaku dengan gambaran bangsa Jepang yang diuraikan Benedict dan Reischauer.

Adakah yang sanggup melakukan penelitian mendalam tentang hal ini? Tentunya membutuhkan biaya dan waktu yang cukup besar dan lama, karena penelitian ini tidak bisa dilakukan hanya di Jepang saja, melainkan juga harus dilakukan di luar Jepang. Dengan demikian, kita bisa membandingkan secara akurat antara tata nilai dan norma yang berlaku di masyarakat Jepang masa kini yang tinggal di Jepang dan masyarakat Jepang yang tinggal di luar negeri.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Juga menekuni bidang Kajian Filsafat, Budaya, dan Pendidikan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

Hanami di Sunpu Kou-en (Sunpu Park), Shizuoka, Jepang

Hanami di Sunpu Kou-en (Sunpu Park), Shizuoka, Jepang

 

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :