DISTORSI dan INTERFERENSI FONOLOGI PADA DWIBAHASAWAN

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Banyak pengertian tentang dwibahasawan. Menurut definisi yang baku, dwibahasawan berarti seorang individu yang menggunakan dua atau lebih bahasa dengan kefasihan yang sama dengan penutur asli, dengan anggapan bahwa kedua bahasa itu dijaga perbedaannya oleh si pengguna dan tidak ada saling pengaruh. Tetapi pada kenyataannya, jika definisi itu diterapkan secara tegas, akan sulit seseorang dianggap sebagai dwibahasawan sejati, karena ternyata saling pengaruh atau interferensi antara dua bahasa tersebut akan selalu ada walau sekecil apapun.

Faktor yang saling mempengaruhi antara dua bahasa tersebut biasanya berada pada area fonologi. Misalnya, yang terjadi pada  seorang bangsa Jerman yang sudah tinggal di Amerika selama 10 tahun. Bahasa Jerman tidak memiliki bunyi /w/, sehingga walaupun ia sudah tinggal cukup lama di Amerika, ia masih saja kesulitan mengucapkan kata /word/. Ia mengidentifikasikan bunyi /w/ dengan bunyi /v/ seperti yang ada di dalam bahasa Jerman, dan kemudian terjadilah interferensi, sehingga alih-alih mengucapkan /word/, ia malah mengucapkan kata tersebut dengan /vord/.

Hal ini pun kita jumpai pada orang Jepang yang sudah lama tinggal di Indonesia. Sekilas ia akan terlihat fasih berbahasa Indonesia dan layak disebut dwibahasawan sejati, namun karakteristik Bahasa Jepang yang tidak memiliki bunyi /l/ dan /e/ pepet, akan membuatnya kesulitan mengucapkan kata-kata yang mengandung bunyi /l/ dan /e/ pepet. Ia cenderung akan mengidentifikasikan bunyi /l/ dengan bunyi /r/, dan bunyi /e/ pepet dengan bunyi /u/. Misalnya, kata/kalau/ akan ia ucapkan dengan /karau/, dengan variasi bunyi /r/ yang lemah, atau kata /semua/ akan ia ucapkan dengan /sumua/.

Karakteristik Bahasa Jepang yang juga turut mempersulit kemampuan mengucapkan bunyi dalam Bahasa Indonesia secara sempurna adalah karakteristik Bahasa Jepang yang tidak menggunakan konsonan (kecuali /n/), melainkan suku kata. Sehingga dalam pengucapan Bahasa Indonesia akan cukup banyak dijumpai distorsi fonologi seperti, kata /sekejap/ diucapkan /sukujappu/.

Berdasarkan kenyataan di atas, mungkin akan lebih aman jika kita mendefinisikan dwibahasawan hanya sebagai individu yang dapat menggunakan dua bahasa atau lebih,  tanpa mempedulikan distorsi atau interferensi dalam fonologi. Dengan kata lain, distorsi atau interferensi dalam fonologi hanya dianggap sebagai  foreign accent .  Atau mungkin kita lebih baik tidak menggunakan istilah dwibahasawan, melainkan semi-dwibahasawan, sehingga kefasihan yang dimiliki tidak perlu sama dengan kefasihan yang dimiliki oleh penutur asli, dan kesalahan-kesalahan kecil baik dalam area fonologi maupun area lainnya masih bisa dimaafkan.

Masalah lain yang timbul dalam kedwibahasaan adalah ketika terjadi perbedaan antara kompetensi dengan performa. Seseorang dengan kompetensi berbahasa yang baik belum tentu memiliki performa yang baik, demikian juga sebaliknya.

Jika kita dituntut untuk bisa membantu seorang semi-dwibahasawan menjadi dwibahasawan sejati, kita harus menentukan di mana ‘kesalahannya’ terjadi atau kemungkinan besar terjadi. Dan kemudian kita harus berusaha ‘membereskan’ kedua bahasanya. Langkah untuk menentukan ‘kesalahan’ ini mungkin mudah, tetapi langkah berikutnya untuk membetulkan ‘kesalahan’ tersebut akan sangat sulit dilakukan, karena ikatan antara kedua bahasa tersebut pasti sudah sangat kuat. Dengan kata lain, kemampuan fonologis dalam bahasa kedua pada seorang semi-dwibahasawan selalu terikat dengan bahasa pertamanya. Didalamnya akan selalu terjadi identifikasi-identifikasi dan interferensi-interferensi antara bahasa pertama dengan bahasa kedua.

Singkatnya, sangatlah mudah untuk membuat dan menghapus sesuatu di atas kertas, tetapi ketika hal itu terjadi pada linguistik, pada kenyataannya membuat aturan baru atau menghapus sesuatu yang sudah tertanam begitu lama dalam diri  seseorang merupakan suatu proses yang sangat sulit. Tetapi, tidak ada cara lain, inilah yang  harus kita lakukan jika kita ingin membantu seorang semi-dwibahasawan menjadi dwibahasawan sejati.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Juga menekuni bidang Kajian Filsafat, Budaya, dan Pendidikan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :