HIDUP ADALAH PELAJARAN

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) itu bermacam-macam. Tidak hanya berupa kekerasan fisik, namun dapat juga berupa kekerasan verbal; misalnya ucapan kasar dan ucapan-ucapan yang ‘menyerang’ dan ‘mematikan’ jati diri korban hingga membuat si korban tertekan secara psikologis karena dipaksa untuk menghilangkan jati dirinya.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, tetapi untuk masalah KDRT verbal dengan ‘menyerang dan ‘mematikan’ jati diri korban, bisa jadi hal tersebut disebabkan karena si pelaku merasa minder dan tidak percaya diri, dan mengira kelebihan yang ada pada diri pasangannya (si korban) bisa mengancam ego dan ‘kedudukannya’ sebagai « Raja », « Pemimpin », dan « Imam », sehingga semua ‘kelebihan’ itu harus ‘dimusnahkan’ dengan cara ‘mengecilkan dan menjatuhkan’ mental si korban habis-habisan… Padahal si korban bisa saja sama sekali tidak pernah berpikir buruk untuk mengancam siapapun.

Kalimat-kalimat seperti, « Kamu tau apa?! Jangan sok pinter lah! », atau « Aku ini pemimpin. Kamu harus nurut semua kata-kata saya! », « Bodoh kamu! Gimana sih, orang bodoh kayak kamu bisa jadi doktor! Mendingan saya cuma sarjana S-1, tapi jauh lebih pinter daripada kamu! Dasar bodoh! T*l**!! Go*l*k », dan sebagainya…

Bagaimana jika kalimat-kalimat semacam itu diucapkan setiap hari?
Seperti juga anak kecil yang berpotensi akan benar-benar menjadi bodoh ketika orang tuanya mengata-ngatai « Kamu anak bodoh! », maka seseorang yang setiap saat ‘dicuci otak’ oleh pasangannya dengan kata-kata negatif seperti di atas pun akan berpotensi menjadi benar-benar negatif dan kehilangan jati dirinya…
Berdasarkan hal ini, bisa jadi kekerasan verbal (yang mampu membunuh karakter dan bisa membuat orang jadi gila) sebenarnya lebih kejam dan lebih merusak daripada sekedar kekerasan fisik.

Berhati-hatilah wahai para lelaki yang menjadi pelaku… Menjadi pemimpin dan imam bukan berarti menjadi raja lalim. Bukankah Rasulullah pun mencontohkan kelembutan dalam berbicara, bersikap, dan mendidik? Dan tak patut pula kamu menuntut apa maumu jika kamu sendiri tak memiliki kualitas yang baik sebagai pemimpin dan imam. Sebelum menunjuk pada orang lain, tunjuklah dirimu sendiri lebih dahulu.

Mendidik dengan cara lalim hanya akan mematahkan ‘tulang rusukmu’, atau jika ‘tulang rusuk’ itu tak bisa patah, tulang rusuk itu akan menjadi baja yang semakin kuat tiap detiknya hingga kamu tak mampu lagi merusaknya, atau tulang rusuk itu dengan senang hati akan melepaskanmu hingga akhirnya suatu saat kamu akan terjebak dalam kesengsaraan yang sudah kamu ciptakan sendiri.

……

Bagi para perempuan yang menjadi korban…
Jika terjebak pada situasi seperti ini, jangan mau karakter/jati dirimu dibunuh. Mungkin ada saatnya kamu (demi keselamatan nyawamu) harus menyembunyikan dirimu di satu ruang kecil dalam diri, namun jangan pernah kau kosongkan ruang itu untuk menjadi orang lain. Kuatlah, jadilah baja, dan tetaplah menjadi dirimu walaupun (untuk beberapa waktu) harus kamu lakukan dalam diam.

Daripada menyerah dan ‘mati’ menjadi orang lain, lebih baik aturlah strategi hidupmu dengan cerdas. Hingga akan ada satu saat, si pelaku akan putus asa padamu dan meninggalkanmu karena tak pernah berhasil ‘membunuh’/membuatmu menjadi orang lain yang diinginkannya, atau mungkin kamulah yang meninggalkannya dengan senyum lebar karena kamu tahu bahwa kamu pergi dengan bahagia.

Ditinggalkan atau meninggalkan…
Jika peristiwa ditinggalkan atau meninggalkan itu terjadi karena strategi hidupmu yang CERDAS, tentunya akan membuatmu mudah untuk terus berjalan maju (alias mudah move on) dan mendapatkan kebahagiaan dengan semua yang ada pada dirimu, tanpa dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi.

Namun apapun yang sedang dan pernah terjadi dalam hidup, jangan pernah menyesali setiap episodenya. Baik atau buruk episode dalam kehidupan kita, tentunya akan selalu mampu menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik di mata Allah. Lagipula, siapa tahu Allah memberikan kita jalan terjal berbatu karang itu untuk membuat kita menjadi hambanya yang terbaik? Bukankah Allah telah jelas menyatakan bahwa tak kan dibiarkanNya seorang mukmin/mukminat berjalan mulus tanpa ujian? Bukankah Allah pun telah jelas menyatakan bahwa pintu Jannatul Firdaus akan terbuka bagi hamba-hambaNya yang senantiasa sabar dan selalu mengingatNya dalam menghadapi segala ujian?

Maka tunggu apa lagi?
Raihlah hari, tetaplah berjalan lurus di jalanNya, berterima kasihlah kepada setiap hal yang sedang dan pernah hadir dalam hidup (baik atau buruk), dan BERBAHAGIALAH!

 

Bandung, 3 Februari 2015

:::Hanya sekedar berbagi dan mengkaji pengalaman hidup
:::Hidup single itu pilihan (alias bukan karena ga laku!), dan saya memilihnya dengan bahagia…

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :