AYAH, IBU, MARI KITA MENDIDIK DENGAN KELEMBUTAN HATI

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Sekitar 10 tahun yang lalu, Rere (bukan nama sebenarnya), salah seorang sepupu Rayhan (anak saya) dari pihak ayahnya tiba-tiba berbicara kepada saya seperti ini,

“Uwa, Rere boleh tinggal sama uwa aja?”

“Boleh. Tapi harus minta ijin sama ummi dan abahnya Rere ya. Kalau ga, nanti Ummi sama Abahnya Rere sedih dong tiba-tiba ditinggalin Rere.”

“Ga, ummi sama abah ga akan sedih. Mereka ga sayang Rere. Rere mau bunuh diri aja kalau ga boleh tinggal sama Uwa!”

….

Saat itu saya benar-benar terkejut dengan ucapan Rere yang ‘ingin bunuh diri’. Saya pikir, sangat aneh  jika seorang anak berusia 4 tahun sudah punya pikiran mengerikan seperti itu.

Di waktu yang lain, tanpa alasan apapun, Rere tiba-tiba mendorong Rayhan  hingga terjatuh ke got di belakang rumah. Kepala Rayhan terantuk pinggiran got hingga harus mendapat 4 jahitan.  Ketika ditanya mengapa ia mendorong Rayhan seperti itu, jawabannya sangat singkat dan dingin tanpa merasa bersalah, “Biarin aja.”

Melihat kenyataan ini, sembari menjauhkan Rayhan dari Rere untuk sementara waktu (saya takut terjadi sesuatu yang lebih buruk), saya pun mulai menyelidiki mengapa Rere sampai bisa memiliki perilaku ‘aneh’ seperti itu.

Setelah saya perhatikan, ternyata semuanya sangat berkaitan dengan pola pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan di rumahnya. Di rumahnya, hampir semua hal dilakukan dengan marah-marah. Contohnya;  ketika lantai baru saja di pel, kemudian anaknya menginjak lantai yang masih basah, langsung ummi-nya marah besar, “Aduh…kamu ini bagaimana sih, ngepel itu cape tau, sekarang kotor lagi kamu injak.  Ummi bilang tunggu di luar sampai lantainya kering!!” tandasnya, dengan volume suara yang sangat keras. Contoh lain, ketika Rere tak sengaja menumpahkan makanannya, maka ummi atau abahnya tak segan memukulnya.  Atau ketika Abahnya pulang kerja, bukan kehangatan yang diterimanya, melainkan perlakuan tidak baik. Abahnya berkata, “Sana main di luar, jangan berisik disini, abah cape baru pulang kerja!!” dengan nada ketus dan suara keras.

Melihat hal itu, mendadak hati saya seperti teriris. Saat itu saya benar-benar menangis membayangkan apa saja yang harus Rere lalui setiap harinya. Saya pun kemudian membandingkan dengan apa yang saya lakukan di rumah jika Rayhan melakukan keteledoran yang sama.

Ketika Rayhan menginjak lantai yang masih basah karena baru dipel, saya hanya memandangnya dan berkata lembut, “De, hati-hati ya, itu lantainya masih basah, ibu ga mau lho kalau kamu sampai jatuh.”

Jadi daripada berfokus pada kesalahan ‘sudah bikin ibunya cape’ karena menginjak lantai yang baru dipel sampai kotor lagi, saya lebih suka Rayhan memahami teguran saya sebagai ungkapan kasih sayang bahwa ‘saya tidak mau ia terjatuh gara-gara lantai basah’.  Cara orang tua Rere dan cara saya sama-sama membuat anak-anak jadi tidak berani lagi menginjak lantai basah, tetapi ada dampak yang sangat berbeda secara psikologis. Cara orang tua Rere akan membuat Rere tertekan dan merasa sebagai anak nakal tukang menyusahkan ibunya, sedangkan cara saya akan membuat Rayhan merasa disayangi.

Ketika Rayhan tak sengaja menumpahkan makanan atau minuman yang dipegangnya. Saya tak pernah membentaknya sedikit pun apalagi memukulnya (haram bagi saya memukul anak). Biasanya, tanpa banyak bicara saya ambil pel atau sapu, dan mengajak Rayhan untuk sama-sama membersihkan apa yang tumpah dengan gembira. Mengapa saya tidak mau marah sedikit pun? Karena saya tahu, di usia Rayhan saat itu yang masih sekitar 4-5 tahun, sistem sensorik dan motoriknya belumlah sempurna. Karena belum sempurna itulah, wajar jika anak kecil sering menumpahkan sesuatu. Jadi, akan sangat tidak adil jika kita memarahi anak atas sesuatu yang  masih berada di luar kendalinya. Yang terpenting di sini, ketika makanan atau minuman yang dipegangnya tumpah, daripada marah-marah dan merusak psikisnya, lebih baik ajarkan saja untuk bertanggung jawab membersihkannya dengan cara-cara yang menyenangkan.

Ketika pulang kerja, saya biasanya tak pernah memperlihatkan wajah lelah sedikit pun di depan Rayhan. Sering saya langsung bermain-main dengan Rayhan sepulang kerja. Tetapi seandainya saya memang terlalu lelah dan sangat membutuhkan istirahat, daripada membentak dan mengusirnya untuk menjauhi saya, saya lebih suka menggunakan trik beberapa permainan yang membuat saya akhirnya bisa tidur di sebelahnya tanpa Rayhan merasa tidak diperhatikan.

Intinya, sesibuk apapun pekerjaan kita, tak selayaknya jika pekerjaan itu malah menjadi tembok pemisah antara kita dan keluarga, apalagi menjadi alat menghancurkan psikis keluarga kita. Kita bekerja juga untuk keluarga, bukan? Jadi jangan abaikan/marahi keluarga yang meminta perhatian, karena permintaan mereka itu sangat wajar. Ingat, atas doa mereka jugalah pekerjaan kita lancar. Karena itu, mereka pun berhak memiliki sebagian waktu kita secara berkualitas. Singkatnya, bekerja dan berkasih sayanglah dengan seimbang. Inilah cara bekerja yang cerdas. Dengan cara seperti ini, maka keluarga pun akan tentram, dan jika keluarga tentram maka dengan sendirinya kita pun akan tentram dan akan lebih semangat lagi bekerja.

Ayah dan ibu, dari beberapa ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa apa yang kita anggap sebagai kemarahan biasa, ternyata mampu menjadi perusak psikis seorang anak. Karena itu, berhati-hatilah. Jiwa anak tak seharusnya dirusak oleh kekejaman-kekejaman orang dewasa.

Berapa banyak dari kita yang masih suka berkata begini ketika anak kita nakal, “Awas ya, kalau nakal terus ayah/ibu pergi lho!” atau “Ayah/ibu ga sayang kamu kalau kamu nakal!”?

Jika masih ada yang suka berkata begitu, lebih baik hentikan segera, karena semua kata-kata itu walaupun terdengar sederhana tapi dampaknya akan sangat merusak jiwa anak.

Jika anak melakukan kesalahan, jangan memenuhi kepala dan hatinya dengan kebencian-kebencian yang tak perlu seperti itu. Jika anak melakukan kesalahan, fokuslah pada kesalahannya saja, jangan mengaitkannya dengan kadar kasih sayang kita untuknya.

Ingatlah ayah dan ibu, kita hendak membentuk anak dengan pribadi yang baik dan penuh kasih sayang, bukan hendak membentuk monster yang senang mengancam dan membuat keributan!

Tahukah wahai ayah dan ibu? Dalam sebuah artikel yang pernah saya temukan di internet, disebutkan tentang penelitian mutakhir yang mengatakan bahwa setiap bayi baru dilahirkan memiliki milyaran sel otak. Anak yang cerdas adalah anak yang memiliki banyak sambungan antara sel otak yang satu dengan sel otak lainnya. Seorang Ibu asal Amerika yang juga seorang peneliti, melakukan penelitian perkembangan otak bayinya sendiri. Sebuah alat khusus dipasang di kepala bayinya. Kemudian alat itu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer. Sehingga dia bisa melihat pertumbuhan sel otak anaknya melalui layar monitor. Ketika bayinya bangun, dia memberikan ASI. Ketika bayinya minum ASI , dia melihat gambar-gambar sel otak itu membentuk rangkaian yang indah.

Ketika sedang asyik menyusui, bayi yang berusia 9 minggu itu tiba-tiba menendang kabel komputer. Si ibu kaget dan berteriak, “No”! Teriakan si ibu membuat bayinya kaget. Saat itu juga, si ibu melihat gambar sel otak anaknya menggelembung seperti balon, membesar dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel.

“Mungkin kesedihan ini hanya saya yang menanggungnya. Sebagai ibu dan sekaligus sebagai scientist, saya menyaksikan otak anak saya hancur oleh teriakan saya sendiri, ibunya,” tukas Lise Eliot, PhD, seorang Neuroscientist di Chicago Medical School dalam bukunya What’s Going On in There? How the Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life (Bantam, 2000).

Nah, jika demikian apa yang terjadi jika seorang anak setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang dilaluinya selalu dipenuhi dengan pelototan, teriakan, apalagi ditambah amarah dan pukulan?

Tak terbayangkan berapa jumlah sel otaknya yang akan mati akibat perlakukan buruk orang dewasa di lingkungannya!

Ayah dan ibu, tegakah kita merusak anak sampai sedemikian?

Marilah kita ubah pola pengasuhan dan pendidikan kita. Jadilah orang tua yang cerdas yang selalu memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu pendidikan anak seluas-luasnya. Jadilah orang tua yang mampu membimbing mereka dengan lembut. Jadilah orang tua yang mampu menggunakan seluruh ketulusan hati untuk membawa mereka menuju kemandirian.

Ingatlah, kelembutan sebenarnya bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan tak ternilai yang mampu mencetak anak kita menjadi anak-anak cerdas dan berbudi luhur.

Kita tak ingin anak kita kelak jadi monster, bukan?

Jadi, berhentilah merusak anak dengan amarahmu!

 

Bandung, 9 Maret 2014

Kanya Puspokusumo

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :