AL- UMMU MADRASATUL ‘ULA (Ibu adalah sekolah pertama)

Back to HOME  –  ABOUT KANYA


“karena wanita adalah sumber cahaya peradaban”

 

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah kelas parenting, saya pernah mendadak diminta berbicara tentang sosok ibu. Sejenak saya tertegun, karena saya pun merasa masih banyak yang harus saya pelajari untuk menjadi seorang ibu terbaik; yaitu ibu yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih/shalihah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengawalinya dengan menceritakan pengalaman bagaimana ibu saya berusaha keras mendidik saya menjadi  seorang wanita dan ibu yang tak pernah lepas dari jalan Allah.

Saya beruntung memiliki seorang ibu yang cerdas dan berpendidikan cukup tinggi bagi wanita di masanya. Ibu jebolan Fakultas Hukum Unpad, walaupun hanya sampai tingkat 3 (dulu namanya Sarjana Muda). Hal itu membuatnya memiliki wawasan yang luas melebihi wanita-wanita pada umumnya saat itu. Kemampuannya berbicara dalam beberapa bahasa asing pun menjadi nilai plus.

Namun menurut saya, yang paling hebat dari ibu saya bukanlah hal tersebut. Yang paling hebat dari ibu saya adalah, dengan semua kecerdasan dan pendidikannya, beliau ikhlas menjadi ibu rumah tangga, mendampingi ayah saya kemanapun ayah saya pergi, dan mengurus ketujuh anaknya dengan tangannya sendiri. Jika pun ada pengasuh bagi setiap anaknya, itu hanya untuk melayani hal-hal kecil seperti mencuci dan menyetrika pakaian, atau hanya sekali-sekali menjaga kami ketika ayah dan ibu harus pergi tanpa bisa membawa kami. Selebihnya, terutama dalam pendidikan formal dan moral, ibulah yang menangani semuanya secara langsung.

Dalam menanamkan pendidikan moral, ibu lebih suka mendidik dengan keteladanan, bukan dengan banyak kata-kata larangan atau ancaman hukuman.

Dari teladan ibu, saya belajar bagaimana memiliki pola pikir tentang kebaikan, kesetiaan, ketulusan, dan kasih sayang sejati. Dari teladan ibu, saya belajar bagaimana pentingnya  memelihara cinta, kelembutan, dan kasih sayang dalam keluarga. Dari teladan ibu, saya belajar tentang semua tanggung jawab yang berkaitan dengan kewajiban seorang ibu dan istri. Dari teladan ibu, saya belajar untuk menjaga kesucian diri dan kehormatan diri, dan tak pernah berpaling dari jalan Allah apapun yang terjadi.

Menurut saya, menjaga kesucian diri dan kehormatan diri haruslah ditekankan hingga kapanpun, karena berapa banyak sudah kita mendengar para wanita yang tak mengerti hijab (batas) antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim. Mereka tak malu dan tak ragu berzina dengan siapa saja, senang berkumpul dan bergaul bebas bersama-sama para lelaki yang bukan mahramnya, senang keluar rumah di waktu-waktu yang tak pantas, memanfaatkan ‘tubuh’nya untuk melancarkan bisnis/urusannya, dan suka berdandan tak sepantasnya dengan tujuan memikat lawan jenis.  Dan jika seandainya terjadi kehamilan di luar pernikahan, tak jarang mereka tega membunuh anaknya sendiri. Na’udzubillah!

Bayangkan jika wanita seperti ini menjadi seorang istri. Jika suaminya sama bejatnya, maka jadilah mereka pasangan bejat, yang tak ragu sama-sama selingkuh, bertukar-tukar pasangan tanpa rasa berdosa sama sekali, dan sebagainya. Tetapi bagaimana jika suaminya orang baik? Tentu ini hanya akan menjadi pertengkaran-pertengkaran yang tiada putus.

Lalu bayangkan jika wanita ini menjadi seorang ibu. Apa yang bisa diharapkan dari ibu seperti ini? Apa yang bisa diajarkan pada anak-anaknya? Perilaku seorang ibu seperti ini hampir dipastikan akan mengarahkan anak-anak yang ada dalam pengasuhannya kepada penyimpangan akhlak dan membuat anak-anaknya akan jauh dari perilaku terpuji. Na’udzubillah!

Karena itu, sudah saatnya kita sadar bahwa Madrasah utama, Guru Terbaik, Pendidik Pertama bagi seorang anak adalah seorang Ibu. Ya, Ibu adalah Lembaga Pendidikan pertama bagi setiap generasinya, bahkan pendidikan itu sebaiknya sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan. Maka sebelum mengharapkan anak kita menjadi shalih/shalihah, kita harus dulu bisa memberikan teladan langsung tentang upaya-upaya keshalihan itu sendiri.

Ketika mengandung Rayhan, anak saya, banyak yang menertawakan kebiasaan saya yang begitu gemar berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan saya. Saya selalu ajak dia bicara setiap kali saya melakukan kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan.  Saya ajak dia mengaji, saya bacakan dia shalawat-shalawat yang menenangkan batin.

Setelah Rayhan lahir, ketika hampir semua orang meninabobokan anak-anaknya dengan lagu-lagu buaian sebelum tidur, saya lebih suka meninabobokannya dengan lagu-lagu shalawat yang indah. Setiap kali terdengar adzan, saya akan diam dan membiarkan dia mendengarkannya dengan seksama.

Dalam praktik pendidikan moral seperti kejujuran, kesetiaan, kasih sayang, ketulusan, dan sebagainya, saya melakukan persis seperti yang ibu saya lakukan; yaitu dengan keteladanan, bukan dengan caci maki kasar dan hukuman-hukuman.

Singkatnya, seorang ibu yang berusaha keras menjadikan dirinya sebagai madrasah (sekolah) pertama yang terbaik, tentu akan selalu menggembleng dirinya sendiri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik di jalan Allah. Ya, gemblenglah diri kita sekeras mungkin untuk menjadi pribadi terbaik di mata Allah, agar mendidik dengan keteladanan tidak hanya menjadi slogan kosong tanpa makna.

Akhir kata…

Kepada para wanita, ingin jadi wanita seperti apakah kalian? Wanita yang hanya melulu mementingkan duniawi hingga melupakan Allah dan menelantarkan kebaikan keluargamu, atau wanita yang mampu mencetak manusia-manusia shalih/shalihah?

Kepada para lelaki, wanita seperti apa yang akan kau pilh sebagai calon istri dan ibu anak-anakmu? Apakah wanita yang tak peduli dengan kehormatanmu dan hanya mau mendampingimu di saat senang, atau wanita yang mampu mendampingimu  dalam segala keadaan, mampu menjaga kehormatanmu, dan mampu menjadi madrasah terbaik bagi anak-anakmu?

Hati-hatilah dalam memilih, karena pilihan kalian akan berdampak langsung dengan pembentukan insan-insan yang akan menjadi penerus cahaya peradaban…

[Sungguh, tidak ada yang sangat sangat sangat saya inginkan di dunia ini selain suatu saat ada seorang perempuan muda yang datang kepada saya dan berkata, « Ibu, terima kasih karena telah mendidik dan membentuk Rayhan menjadi suamiku yang shalih… »  Karena  itulah salah satu bukti nyata bahwa saya telah melakukan hal yang benar di mata Allah.]

-Kanya Puspokusumo-

Une Réponse to “AL- UMMU MADRASATUL ‘ULA (Ibu adalah sekolah pertama)”

  1. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq“, ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
    ternyata syair arab ya, di al quran atau hadist ada tidak?

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :