METODE PENGAJARAN BAHASA BERLANDASKAN TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PSIKOLOGI

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Total Physical Response (TPR)

Disebut dengan metode total physical response karena, metode ini menitikberatkan pada kemampuan mendengar dan mereaksi hasil pendengaran secara total melalui gerakan tubuh. Metode ini dikembangkan oleh Asher, seorang ahli psikologi yang memodelkan cara penguasaan bahasa ibu yakni, seorang anak sebelum mulai berbicara, terlebih dahulu ia mendengarkan banyak bahasa sasaran dari lingkungan sekitar, kemudian dia menyatukan perbuatan (arti) dan bahasa (fonetik)dari hasil pendengaran, dan mereaksinya melalui gerakan badan. Hal ini telah dibuktikan oleh Asher sendiri, yakni kala itu, istrinya menyuruh dengan menunjuk anaknya yang masih balita untuk melihat ayahnya, “Look at Daddy, look at Daddy!”, kemudian dengan hasil pendengarannya, dan dengan mengikuti petunjuk tangan ibunya yang mengarah pada si ayah, si anak melihat wajah ayahnya. Asher menyebut hal ini dengan ‘A Language Body Conversation’, karena si ibu berbicara, dan anak menjawab dengan gerakan badannya, seperti tersenyum, tertawa, jalan, merangkak dll.

Cara berpikir yang menyatukan perbuatan dan bahasa ini sebenarnya juga dapat ditemukan pada metode pengajaran François Gouin (seorang guru bahasa latin pada abad ke-19), akan tetapi keistimewaan pada metode TPR adalah tidak adanya interverensi terjemahan bahasa ibu, dan tidak memaksa si pembelajar untuk berbicara, sampai dia bisa dan siap berbicara sendiri. Sehingga keuntungan dari metode ini adalaah, pemahaman yang cepat (instant undertanding) serta terbebas dari stress.

 

Natural Approach

Pendekatan natural adalah metode pengajaran yang bertujuan menguasai bahasa sasaran secara alami. Tracy Terrel, seorang guru bahasa di Amerika,  mengamati proses penguasaan bahasa ibu, dan mendukung teori Stephen Krashen (seorang ahli linguistik dari Amerika) dengan lima hipotesisnya  yang berhubungan dengan bahasa kedua (Five Main Hypothesis on Second Language Aqcuisitions), yakni cara pendidikan bahasa asing melalui praktek yang sering dilakukan.

Kelima hipotesisnya itu antara lain:

1. Hipotesis (pemerolehan – pembelajaran) : pemerolehan kemampuan berbahasa ada dua jenis, yaitu belajar secara sadar dan pemerolehan secara tidak sadar.

2. Hipotesis (urutan alami): penguasaan unsur-unsur tata bahasa yang penting pada pemerolehan bahasa ibu diakui sebagai satu tingkatan tertentu yang alami (natural order).

3. Hipotesis (Monitor): sistem bahasa yang diperoleh dari belajar, hanya berperan sebagai monitor yang mencek kebenaran percakapan tanpa memberikan konstribusi pada hasil keluaran percakapan.

4. Hipotesis (Input): penguasaan si anak akan berkembang, ketika dimasukkan struktur yang melebihi sedikit dari tahap perkembangan.

5. Hipotesis (Affective Filter): jika memiliki rasa ketidaknyamanan dalam pembelajaran, maka affective filter akan bereaksi, dan input tidak akan berfungsi.

 

Metode Suggestopedia

Metode Suggestopedia adalah metode pengajaran yang mengaplikasikan teori sugestologi pada pembelajaran bahasa asing, dari Lozanov dari Bulgaria, seorang dokter psikiatri. Sugestopedia merupakan bentuk jamak dari sugestion. Metode ini didasarkan pada teori suggest, melalui reorganisasi proses belajar yang sistimatis, dengan cara menggali kemampuan potensial manusia yang belum digunakan, kemudian berusaha untuk menerapkannya.

Menurutnya, pada dasarnya semua manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar lebih banyak lagi, akan tetapi seringkali terpengaruh oleh pendidikan di sekolah, lingkungan keluarga serta masyarakat, yang memberikan batasan pada kemungkinan belajar dan menilai rendah pada kemampuan diri sendiri. Nilai-nilai yang menjadi penghalang (anti-suggestive barrier) tersebut antara lain:

  1. Nilai Logis, kritis
  2. Nilai intuisi
  3. Nilai moral, etis beradab

Ketiga nilai tersebut di atas, tentu sangat penting bagi kita, akan tetapi jika sekiranya mengekang kemampuan potensial seorang anak, maka bisa menjadi penyebab utama belajar yang tidak menyenangkan. Untuk itu dalam proses belajar, sedapat mungkin mempunyai suggest yang positif, yakni sambil mengontraskan dengan nilai-nilai penghalang tersebut, berusaha mempraktekkan kecepatan belajar dalam memperoleh informasi dalam waktu yang singkat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa penguasaan bahasa dapat berkembang dengan kecepatan yang menakjubkan, oleh karena pemisahan rintangan psikologis (anti-suggestive barriers) dan mengeluarkan potensi yang dimiliki pembelajar.

Kemudian Lozanov menyarankan tiga prinsip bagi para pembelajar yaitu:

  1. Membuang ketegangan, tidak nyaman, dan stress dari proses belajar dan lingkungan belajar, serta meningkatkan konsentrasi dan merelakskan jiwa pembelajar, agar dapat belajar dengan menyenangkan.
  2. Karena Rangsangan intelegensi bukan hanya disampaikan pada tingkat kesadaran saja, tetapi juga pada tingkat ketidaksadaran, maka menerapkan keduanya secara utuh dalam proses pembelajaran.
  3. Menggerakkan sisi kognitif dan emosi bersama, serta mengembangkan tingkat ketidaksadaran.

Dengan berlandaskan pada ketiga prinsip di atas, diselenggarakanlah pelajaran melalui 3 tahap yakni secara psikologi, secara pembelajaran, dan secara teknis. Seperti itulah cara kerja metode pendekatan sugestopedia yakni metode pengajaran yang hollistik, yang memasukkan luasnya pengetahuan baik sebagian maupun seluruhnya secara terus-menerus, dan dalam waktu yang bersamaan, sisi psikologi dan aktifitas kesadaran proses belajar juga diambil dari sisi fungsi kerja otak. Pelaksanaan Metode Suggestopedia di kelas, dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Introduction (perkenalan)

Memperkenalkan point-point yang berhubungan dengan tatabahasa dan isi melalui percakapan sederhana, akting, lagu dll, untuk memperkuat kesan pada bahan pengajaran baru.

  1. Concert (Sesi concert aktif)

Dilakukan dengan cara, guru berdiri di depan kelas, membacakan teks yang dipadukan dengan musik aliran klasik, romantis dll. Kemudian, siswa sambil mendengarkannya, memberikan tanda pada kutipan yang dianggap penting.

Kemudian pada sesi concert pasif, guru hanya diam duduk di kursi, dan membaca teks dengan irama yang biasa, serta mencocokkannya pada isi dengan latar belakang lagu  baroque. Sedangkan siswa menutup teks mereka, duduk di kursi dengan relaks, dan memusatkan pendengaran pada bacaan.

  1. Elaborasi

Mengukur ketepatan dan meningkatkan kemampuan penggunaan bahasa melalui macam-macam aktivitas, seperti dansa, lagu, role play, game dan teks. Para pembelajar dalam perkenalan bab pertama, memilih pekerjaan dan nama sendiri-sendiri, kemudian berdasarkan karakter yang dipilihnya, ia memperkenalkan diri sendiri dengan cara meningkatkan kuantitas percakapan.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Sekarang aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri

 

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :