FENOMENA KYOUIKU MAMA DI MASYARAKAT JEPANG

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Jepang pasca perang dunia kedua hampir selalu menjadi perhatian umat manusia karena berbagai hal. Mulai dari semangat kebangkitannya untuk menata negeri yang sudah porak poranda, hingga kecanggihannya dalam meniru dan mengalahkan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang industri. Kesejahteraan rakyatnya yang saat itu meningkat dengan cepat pun menjadikan Jepang sebuah negara yang mengundang decak kagum pengamatnya.

Bagaimana Jepang dapat menjadi sebuah bangsa yang begitu tegar dan bersemangat seperti itu? Tentunya banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari keadaaan alam dan geografis yang tidak begitu menguntungkan sehingga membentuk sebuah masyarakat yang tahan banting, yang bisa survive dengan hasil alam yang sedikit, hingga peranan para ibu sebagai pendidik individu-individu dalam kelompok masyarakat terkecil (nuclear family/keluarga inti) yang mencetak individu-individu yang mampu berkiprah dalam kemajuan di segala bidang.

Keberhasilan para ibu yang menghasilkan individu-individu semacam ini menurut penulis sangat menarik untuk dikupas. Terutama tentang bagaimana sebenarnya bentuk dan proses pendidikan tersebut berlangsung? Adakah sisi positif dan negatifnya (terutama jika dikaitkan dengan perkembangan jiwa si anak sebagai orang yang dididik)? Jika positif, adakah nilai-nilai yang dapat kita tiru? Jika negatif, bagaimana sebaiknya proses pendidikan tersebut dilakukan?  dan sebagainya.

Berkaitan dengan peran dan fungsi ibu sebagai pendidik, muncul fenomena di kehidupan masyarakat Jepang modern, yaitu tentang Kyouiku Mama (=Ibu pendidik) dikaitkan dengan pengaruh positif dan negatif bagi perkembangan jiwa anak sebagai orang yang dididik.

 

Munculnya Fenomena dan Istilah Kyooiku Mama

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Jepang sekarang ini telah mencapai keadaan yang maju dan dan sejahtera antara lain adalah hasil dari usaha-usaha bangsa Jepang dalam pendidikan. Mulai jaman Restorasi Meiji yang banyak menimbulkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, sampai perang dunia kedua yang membuat Jepang semakin merasa tertantang untuk mengubah diri bukan hanya dengan semangat bushido, tetapi juga melalui pendidikan yang diraih setinggi-tingginya, serta gemblengan para ibu terhadap anak-anaknya.

Keinginan yang semakin lama semakin kuat dalam diri kaum ibu untuk mencetak individu-individu yang berkualitas memunculkan sebuah fenomena baru yang disebut Kyouiku Mama.

Istilah Kyouiku Mama mulai berkembang pada akhir tahun 1980-an dan mulai marak sejak tahun 1990-an sampai sekarang.

Kyouiku Mama secara harfiah berarti Ibu Pendidik. Namun jika dilihat dari makna, istilah Kyouiku Mama sebenarnya mengandung unsur negatif karena Kyouiku Mama adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan sikap seorang ibu yang terlalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya sampai-sampai cenderung memaksakan kehendaknya pada si anak tanpa mempedulikan kemampuan si anak. Yang menjadi tujuan seorang Kyooiku Mama semata-mata hanya bagaimana caranya membuat anaknya berhasil di sekolah, dapat masuk ke sekolah favorit, dan mendapat pekerjaan yang bagus. Dan segala cara akan dilakukan untuk mewujudkannya tanpa mempedulikan si anak.

 

Ibu, Dunia Anak dan Pendidikan

Pendidikan bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan untuk menjadikan seseorang menjadi masyarakat yang baik. Jika kita mengkaitkannya dengan dunia anak, mungkin kita dapat menyimak pendapat  Ki Hajar Dewantara, seorang ahli pendidikan Indonesia, yang berkata bahwa pendidikan merupakan suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka, sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat, dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Peranan penting pendidikan sebagai proses penanaman nilai-nilai dan norma dalam diri individu, tidak hanya melalui pendidikan formal saja, yaitu sekolah, akan tetapi dimulai sejak individu lahir ke dunia sebagai anggota baru dalam keluarga. Yang berarti bahwa proses pembentukan pribadi seorang anak dimulai pertama kali dalam lingkungan keluarga. Sebagaimana pendapat Purwanto Ngalim, seorang pakar pendidikan, tentang pentingnya pendidikan keluarga bahwa pendidikan keluarga sebagai pondasi atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya.  Dan hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa kedua orangtua memegang peranan penting dalam mendidik anak, di mana cara orang tua dalam mendidik anaknya sangat dipengaruhi oleh nilai budaya tertentu yang dominan dalam lingkungan masyarakatnya.

Pada konteks masyarakat Jepang, keluarga umumnya terdiri dari orang tua dengan satu  atau dua orang anak, tidak lebih (nuclear family/keluarga inti). Di mana peranan seorang ibu dalam mendidik anak lebih besar daripada seorang ayah. Dalam masyarakat Jepang umumnya, seorang ayah sebagai kepala rumah tangga hanya bertugas mencari nafkah bagi keluarganya, sehingga tidak jarang mereka berangkat pagi dan pulang larut malam hanya untuk mengejar karir semata. Karena kesibukannya di luar rumah, menyebabkan waktu untuk berkumpul bersama keluargajadi sangat sedikit. Sehingga pada umumnya, mereka benar-benar menggunakan hari libur semaksimal mungkin untuk kebersamaan dengan keluarga, misalnya memacing atau berekreasi sekeluarga.

Sebaliknya, tugas seorang ibu dalam keluarga di Jepang selain mengatur kehidupan rumah tangga, juga memegang peranan penting dalam mendidik anak, baik dari hal-hal terkecil sampai dengan hal-hal terbesar. Mendidik anak pada usia balita sampai dengan masuk sekolah merupakan masa-masa yang sangat penting dan merepotkan, sehingga segala perhatian dan tenaga sepenuhnya tercurah untuk perkembangan si anak.

Dalam menentukan jenjang pendidikan selanjutnya pun, keinginan atau kehendak seorang ibu juga sangat ikut berperan terhadap masa depan si anak. Karena selain mendidik anak dengan menanamkan nilai  moral yang baik yang terdapat dalam masyarakat, juga mengarahkan anak supaya menjadi seperti harapan kedua orangtuanya.

Bentuk pendidikan seperti di atas sebenarnya baik jika dilakukan dalam porsi yang sewajarnya. Tetapi kenyataannya, pada masa ini, seperti yang telah ditulis dalam pokok bahasan sebelumnya, para ibu ini semakin berlebihan mendidik anaknya. Sehingga pendidikan di dkeluarga si Kyouiku Mama cenderung semakin lama semakin memforsir seorang anak. Si anak, baik secara fisik maupun psikis, selalu dituntut untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Contoh yang terlihat pada masyarakat Jepang dewasa ini adalah, para Kyouiku Mama tersebut berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit. Dengan adanya anggapan bahwa sekolah  dengan jadwal yang padat dari pagi hingga sore, akan membuat anak lebih pandai. Padahal hal itu belum tentu benar, karena setiap anak memiliki kemampuan dan daya tangkap yang tidak sama. Untuk anak dengan daya tangkap yang tinggi akan dapat menerimananya, sebaliknya bagaimana dengan anak yang tidak mampu atau mempunyai daya tangkap lebih lambat?

Disatu pihak, Kyouiku Mama tersebut mungkin  memang melakukannya dengan dasar pemikiran “demi kebaikan anak”, namun dilain pihak mereka juga memaksakan anak tanpa mau melihat kemampuannya.

Dalam mendidik anak hendaknya orang tua memperhatikan benar-benar akan kemampuan anak dengan melihat pada usianya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat J.J. Rousseau, seorang pakar pendidikan dari Prancis, bahwa pendidikan anak harus disesuaikan dengan tiap-tiap masa perkembangannya sedari kecilnya. Pendidikan menurut Rousseau ialah alam anak-anak yang belum rusak, anak-anak harus dididik sesuai dengan alamnya. Ia pun menegaskan bahwa ‘anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil’. Pikiran, perasaan, keinginan,dan kemauan anak itu lain dengan orang dewasa.

Sejalan dengan peningkatan usia, seorang anak juga mengalami perkembangan baik fisik maupun psikologi, yang artinya pada setiap tingkatan umur, anak-anak akan mengalami pertumbuhan sesuai dengan fasenya. Sehingga kemampuan pada anak secara kodrat telah ditentukan berdasarkan usia. Akan tetapi, tidak semua anak akan dapat menyelesaikan ‘tugas fasenya’ sesuai dengan usianya, seperti yang kita ketahui kenyataannya dalam masyarakat, ada seorang anak yang pada usia 1,5 tahun mampu berbicara dengan lancar, dan sebaliknya ada juga seorang anak di usia 1,5 tahun belum bisa berbicara, tapi sudah pandai berjalan. Terlaluinya ‘tugas’ pada diri si anak ini selain dipengaruhi oleh kemampuan tubuhnya juga didukung oleh faktor eksternal, seperti keluarga, dan lain-lain

Misalnya mendidik anak di usia balita. Untuk mendidik seorang anak usia balita, kita harus mengerti bagaimana sebenarnya perkembangan jiwa pada masa tersebut. Misalnya, dunia anak pada usia balita adalah dunia bermain. Dengan demikian, pemaksaan-pemaksaan dalam pemberian pendidikan dan pengajaran hanya akan merusak mentalitas si anak.

Selanjutnya Ngalim pun berpendapat bahwa pendidikan yang dilakukan orang tua kepada anaknya juga sebaiknya didasarkan kepada rasa kasih sayang dan yang diterima sebagai kodrat. Maksudnya kasih sayang di sini adalah hendaknya kita sebagai orang tua harus bersikap bijak dalam mendidik anak, tidak memaksakan suatu keinginan pada si anak, akan tetapi harus tetap memberikan tuntunan dan dorongan demi tumbuh kembangnya jiwa dan pikiran si anak.

Jika mengacu pada pendapat Ngalim, Kyouiku Mama memiliki pemikiran yang berbeda. Mereka bisa jadi memang sayang pada anaknya, tetapi kasih sayang para Kyouiku Mama itu terwujud dalam bentuk sikap over-protective . Anak seringkali dilarang melakukan ini dan itu, karena rasa kekhawatiran yang berlebihan, mereka takut kalau anaknya terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya, yang penuh dengan bahaya, mereka cenderung menahan anaknya supaya main di rumah.

Pola, watak,dan karakter anak dalam keluarga Kyouiku Mama hampir-hampir tidak memiliki kebebasan untuk berkembang. Pola, watak, dan karakter tersebut dibentuk oleh kedua orang tuanya dimana seorang anak diharuskan untuk memenuhi harapan kedua orang tua. Orang tua, terutama ibu, memberikan didikan pada anaknya bukan hanya dari segi emosi, akan tetapi juga melalui segi kognitif yaitu tuntutan seorang anak untuk dapat memasuki jenjang sekolah yang terbaik di lingkungannya. Anak dijejali bermacam-macam ilmu dan kemampuan dengan waktu yang terkesan cukup padat. Sehingga tidak jarang bahwa anak di Jepang pada usia yang masih muda (SD kelas I) sudah dapat mengoperasikan komputer,dan lain-lain.

Kyouiku Mama cenderung memaksakan pilihannya, baik itu dalam hal memilih sekolah ataupun dalam memilih jabatan yang tidak sesuai dengan bakat dan kemampuan si anak. Semua tuntutan itu, selain merupakan tuntutan dari orang tua, juga sesuai dengan tuntutan zaman sekarang ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa sekarang ini teknologi telah berkembang dengan pesat dan menuntut kemampuan sumber daya manusia (SDM) untuk dapat menguasai dalam segala hal. Jepang sebagai negara yang berindustri maju berusaha untuk selalu nomor satu dalam kemajuan teknologi, sehingga secara tidak sadar sistem pendidikan pun diarahkan demi kecerdasan dan keahlian si anak dalam menguasai alat-alat elektronik. Semakin cepat si anak dalam menguasai teknologi, dikatakan semakin berhasilnya orang tua dalam mendidik anak. Sehingga tidak jarang anak di Jepang sering terlihat stress karena tuntutan orang tuanya, dengan menjejalkannya beraneka macam mata pelajaran dari pagi hingga sore. Bagi anak dengan kemampuan yang tinggi akan dapat melakukannya tanpa mengalami masalah. Namun bagi seorang anak dengan kemampuan yang pas-pasan bahkan cenderung kurang, akan menjadi perang batin yang berkepanjangan, yaitu antara berusaha memenuhi tuntutan orang tua dengan segala keterbatasan kemampuan yang ia miliki. Sehingga dalam masyarakat Jepang terlihat banyak anak-anak yang broken home bahkan memilih untuk mengakhiri hidupnya karena menilai bahwa hidupnya tidak sempurna. Untuk itu dalam mendidik anak, bahwa memang sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk menuntut dari anak-anak agar sejak kecil sudah dapat mulai belajar tanggung jawab atas beberapa hal yang tertentu, baik berupa hak dan kewajiban seorang anak kepada orang tua. Namun hendaknya tuntutan orang tua juga jangan terlalu berat bagi anak-anak. Orang tua perlu mengingat dan menyesuaikan dengan perkembangan anak-anak.

Singkatnya, dalam hal ini bukan anak-anak yang seharusnya menyesuaikan diri dengan cita-cita orang tua, melainkan anak-anaklah yang sebaiknya dibiarkan memiliki dan meraih cita-citanya sendiri. Orangtua cukup hanyaberdiri di belakang sebagai pendorong dan pendukung.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Juga menekuni bidang Kajian Filsafat, Budaya, dan Pendidikan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :