PERANAN FILSAFAH HA-NA-CA-RA-KA DALAM PENDIDIKAN MORAL MASYARAKAT JAWA

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Nora kurang wulang wuruk

Tumrape wong tanah Jawi

Laku-lakune ngagesang

Lamun gelem anglakoni

Tegese aksara Jawa

Iku guru kang sejati

(tak kurang piwulang dan ajaran/

bagi orang tanah Jawa/

perilaku dalam kehidupan/

jika mau menjalaninya/

maknanya aksara Jawa/

itu guru yang sejati)

-Paku Buwana IX-

 

Orang Jawa dan Pendidikan Moral

Pemikiran-pemikiran dan ide-ide tentang pendidikan moral sudah banyak sekali dikupas oleh para tokoh filsafat dunia. Mulai dari jaman Sokrates hingga Capra.  Namun saya berpendapat, pada intinya bila kita berbicara tentang tujuan pendidikan moral, maka berarti kita sedang berbicara tentang pendidikan yang selalu bertujuan menciptakan manusia yang utuh dan seimbang. Utuh dan seimbang dalam artian menjadi manusia yang dapat memandang dan memahami kehidupan dengan proporsi yang benar menurut adat dan agama, serta selaras dengan alam, sehingga tidak akan melangkah ke arah negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pada dasarnya pendidikan moral berlaku universal (Bertens:1993). Ia ada di mana-mana. Tidak kurang di negara kita yang terdiri dari banyak kelompok suku bangsa, nilai-nilai itu tumbuh subur dan mengakar dalam keberagaman. Ia ada di setiap kelompok masyarakat. Mungkin yang berbeda hanyalah bentuk dan cara penyampaian pada anggota masing-masing kelompok. Ada yang disampaikan dengan kaku dan keras beserta sanksi-sanksinya, ada juga yang disampaikan dengan cara lebih lembut. Namun, karena kebetulan lahir di lingkungan keluarga Jawa, saya ingin membatasi karya tulis ini hanya tentang pendidikan moral dalam lingkungan masyarakat Jawa.

Jika kita berbicara tentang pendidikan moral dalam masyarakat Jawa, mungkin tidak berlebihan jika saya berpendapat bahwa orang Jawa selama hidupnya umumnya kenyang disuapi dengan berbagai wejangan tentang moral dan  tentang kautamaning urip (kehidupan yang utama). Terutama orang Jawa yang hidup dan dibesarkan di keluarga Jawa yang masih kuat memegang adat tradisinya. Di mana pun ia berada, di dalam atau di luar negeri; setinggi apa pun status pendidikan dan stratifikasi sosialnya; selama ia dibesarkan di keluarga yang masih kuat memegang adat tradisinya, wejangan demi wejangan akan selalu mengisi hidupnya. Bagaimana tidak? Sejak masih dalam buaian, ibu dan ayahnya (atau bahkan kakek dan neneknya) sudah mendengung-dengungkan, menyenandungkan berbagai macam nasihat dan ajaran hidup melalui tembang-tembang kinanti, dandanggula, dan sebagainya. Kemudian di usia kanak-kanak sampai remaja, dongeng sebelum tidur yang bersumberkan cerita pewayangan pun menjadi santapan sehari-hari. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam pewayangan tersebut dijadikan panutan; tokoh dan peristiwa yang baik dijadikan cerminan untuk menjadi manungsa utama (manusia  yang secara vertikal taat pada kehendak dan aturan sang Pencipta dan secara horisontal tak pernah menyakiti dan merugikan sesama), sedangkan tokoh dan peristiwa yang buruk (misalnya seperti ketika tokoh Pandawa Lima terpaksa hidup dalam pengasingan dan menyamar hanya karena satu kekhilafan Puntadewa (Yudhistira) yang terjebak dalam perjudian)  dijadikan pelajaran supaya kita tidak menirunya dan tidak mengalami kerugian yang sama seperti tokoh tersebut.

Sebagai orang Jawa, saya pun mengalami semua itu. Entah sudah berapa tembang yang disenandungkan orang tua saya sejak bayi sampai dewasa (yang biasanya bersumber dari serat WulangReh). Entah sudah berapa pula dongeng pewayangan yang disuguhkan pada saya sebelum tidur; misalnya tentang keutamaan sifat si sulung Puntadewa (Yudhistira), kejujuran Wrekudara (Bima), kecakapan Permadi (Arjuna), tentang dampak buruknya berjudi, dan sebagainya.

Semua wejangan melalui tembang dan dongeng itu sebenarnya adalah suatu bentuk pendidikan moral yang amat luhur. Penyajian melalui tembang dan dongeng yang sudah berlangsung turun temurun ini saya pikir mungkin muncul dari kesadaran nenek moyang orang Jawa akan sulitnya pendidikan moral jika dengan hanya memberlakukan aturan-aturan yang kaku, dan kesadaran tentang kenyataan bahwa sikap moral yang baik adalah sikap moral yang tumbuh dalam diri individu tanpa paksaan dan tumbuh subur dalam suasana pendidikan yang tentram dan damai.

Selain pendidikan moral melalui tembang dan dongeng pewayangan, ada satu cara lain yang menurut saya sangat menarik, yaitu bentuk pendidikan moral yang pertamakali dicetuskan oleh  Sinuhun Paku Buwana IX. Beliau mengungkapkan wejangannya melalui tembang dan aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka. Setiap orang Jawa yang berlatar belakang kehidupan keraton Surakarta biasanya hafal makna setiap hurufnya.

Berikut akan dikupas tentang sejarah munculnya aksara ha-na-ca-ra-ka,  makna huruf, dan filsafah yang terkandung di dalamnya.

Dua Konsepsi Dasar tentang Asal Usul Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang asal usul ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut. Konsepsi yang kedua berdasarkan pada pemikiran ilmiah. Berdasarkan cara pandang itu, konsepsi yang pertama disebut konsepsi tradisional, sedangkan konsepsi yang kedua disebut konsepsi ilmiah.

Konsepsi Tradisional.

Konsepsi secara tradisional berdasar pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka.  Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip, ada pula yang sudah dicetak dalam bentuk buku. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka, dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya, Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar , Lajang Hanatjaraka, dan Manikmaya.

Dalam manuskrip Serat Aji Saka (Anonim) dan kutipan Serat Aji Saka, diceritakan bahwa Sembadha dan Dhora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain. Suatu hari, Aji Saka tiba di suatu daerah yang bernama Medangkamulan, lalu kemudian bertahta di negeri itu. Dibawah pemerintahan Aji Saka, negeri itu kemudian menjadi negeri yang termashur sampai kemana-mana. Kabar kemashuran Medangkamulan akhirnya terdengar oleh Dhora sehingga tanpa sepengetahuan Sembadha ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dhora melaporkan bahwa Sembadha tidak mau ikut, Dhora lalu dititahkan Aji Saka untuk menjemput Sembadha. Jika Sembadha tetap tidak mau ikut, Aji Saka berpesan agar keris dan perhiasan yang dititipkan pada waktu itu dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembadha bersikukuh menolak ajakan Dhora dan memilih untuk tetap mempertahankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka. Kekukuhan sikap Sembadha berakibat timbulnya perkelahian antara Sembadha dan Dhora. Namun karena kesaktian mereka seimbang, akhirnya mereka mati bersama. Ketika mendengar kabar kematian Sembadha dan Dhora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra kalih puluh (sastra dua puluh) yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut Sastra Sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga (empat baris) yang masing-masing mencakupi lima sastra (lima suku kata), yaitu :

Ha-na-ca-ra-ka

Da-ta-sa-wa-la

Pa-dha-ja-ya-nya

Ma-ga-ba-tha-nga

Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga  beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 dalam Nino) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.

Namun karena sifat legenda yang cenderung fiktif, konsepsi secara tradisional ini menurut saya kurang tepat jika dijadikan acuan  untuk menentukan asal usul aksara ha-na-ca-ra-ka.

Konsepsi secara Ilmiah

Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya  dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat (Molen, 1985 : 3, dalam Nino). Untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, maka sarana yang nyata dan kekal berupa aksara pun diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara (Poerbatjaraka, 1952 : vii) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.

Hasil teknologi baru berupa tulisan memainkan peranan yang amat penting dalam sejarah manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di bidang ilmu pengetahuan dan politik.

Ada perbedaan mendasar antara peradaban tanpa tulisan dan peradaban tulisan (Molen, 1985 : 3, dalam Nino) peradaban tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju daripada peradaban tanpa tulisan.

Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Palawa dan menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi. Setelah ditemukan beberapa prasasti lainnya, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan (Molen 1985 : 4, dalam Nino). Berdasarkan temuan-temuan berbagai macam prasasti inilah, aksara Jawa diperkirakan muncul sekitar abad XII.

Filsafah yang Terkandung dalam Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka menurut Sinuhun Paku Buwana IX

Di awal makalah ini, saya telah mencantumkan wejangan Sinuhun Paku Buwana IX yang dinyatakan melalui syair tembang Kinanti. Pada syair tersebut terkandung makna bahwa jika ingin menjadi insan yang utuh dan seimbang, khususnya bila ingin menjadi orang Jawa yang njawani atau sosok orang Jawa yang wis Jawa, cukuplah hanya dengan memahami dan mengamalkan filsafah yang terkandung dalam setiap huruf  Jawa tersebut.

Berikut adalah makna setiap huruf  beserta artinya:

AksaraJawa

Secara garis besar, huruf-huruf tersebut memiliki filsafah sebagai berikut:

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada  » utusan  » yakni utusan hidup, berupa  nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya, dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).  Bagian pertama dari aksara Jawa ini berkaitan erat dengan ajaran tentang bagaimana seharusnya orang Jawa bersikap secara vertikal (berhubungan dengan Tuhan).  Franz Magnis (1988) menyebutnya sebagai Pandangan Dunia Jawa terhadap Tuhan. Di dalamnya terkandung filsafah nrima atas segala sesuatu yang diberikan Tuhan, percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita walaupun mungkin dari luar tampaknya buruk. Filsafah nrima tersebut dengan sendirinya akan menuntun kita pada sikap-sikap tawadhu’ (tidak sombong/takabur), lembut hati,  dan berserah diri.

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data  » saatnya (dipanggil)  » tidak boleh sawala  » mengelak « . Manusia (dengan segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. Pada bagian kedua aksara Jawa ini terkandung filsafah eling; maksudnya kita harus selalu ingat dari mana kita berasal, ingat pada kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan. Filsafah eling ini akan memandu kita untuk berusaha keras menjalani hidup yang lurus dan tidak melakukan hal yang sia-sia, mengingat dunia ini hanyalah persinggahan untuk mencari bekal ‘pulang’.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya,  padha maksudnya  » sama  » atau “sesuai, cocok  » Jaya itu  » menang, unggul « . Menang yang dimaksud di sini adalah menang dalam artian yang sportif. Kita boleh lebih berkuasa daripada orang lain, tapi bukan berarti boleh semena-mena.  Filsafah Padha dan Jaya ini disebut Franz Magnis (1988) sebagai Prinsip Rukun dan Prinsip Hormat, yaitu prinsip-prinsip yang berkaitan dengan dua kaidah dasar yang harus dipahami dan diamalkan orang Jawa dalam pergaulan (hubungan manusia secara horisontal). Selanjutnya Franz mengemukakan bahwa Prinsip Kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Rukun berarti dalam keadaan selaras, tenang dan tentram, tanpa perselisihan dan pertentangan, bersatu dalam maksud saling membantu.

Dalam masyarakat Jawa, rukun adalah keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan dalam semua hubungan sosial, dalam keluarga, rukun tetangga, desa, dan sebagainya. Rukun dapat diwujudkan dengan sikap alus (halus) dalam menyatakan ketidaksetujuan akan sesuatu hal, tidak berterusterang secara serampangan semata-mata untuk menjaga perasaan lawan bicara dan menghindari terjadinya konflik yang tidak perlu.

Contoh yang paling nyata dari sikap tersebut di atas adalah makna kata inggih. Makna kata inggih bagi orang Jawa tidak selalu berarti persetujuan akan sesuatu. Dengan kata lain, inggih dapat berarti ya, tidak, kurang setuju, dan sebagainya. Semuanya tergantung dari situasi, kondisi, dan intonasi. Setahu saya, ada sekitar tujuh intonasi kata inggih yang membuat arti kata tersebut berbeda.

Prinsip hormat berkaitan dengan keadaan masyarakat Jawa yang biasanya amat sadar dengan tempat (status sosial) di mana dia berada.  Sikap hormat ini tidak hanya harus dimiliki oleh seseorang yang memiliki tingkat sosial rendah. Seseorang yang berstatus sosial tinggi pun harus menunjukkan sikap hormat dengan cara-cara tertentu. Misalnya, seseorang yang memiliki status sosial yang lebih rendah akan menunjukkan sikap hormatnya dengan selalu menggunakan bahasa Jawa halus jika berbicara dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi, sedangkan seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi akan memperlakukan seseorang yang tingkat sosialnya lebih rendah dengan sikap kebapaan atau keibuan (melindungi dan mengayomi). Dengan kata lain penguasa dan yang dikuasai dua-duanya tidak boleh bertindak semena-mena atau serampangan.

Dalam keluarga Jawa, sikap hormat ini dipelajari dalam 3 tahap, yaitu tahap wedi, isin, dan sungkan.

Tahap wedi adalah tahap dimana anak-anak belajar untuk merasa wedi atau takut pada orang-orang yang harus dihormati. Pendidikan untuk merasa takut ini biasanya disampaikan dengan teguran halus jika si anak bersikap serampangan terhadap orang yang seharusnya dihormati.

Setelah tahap wedi dilewati, mulailah dipelajari tahap isin. Isin berarti malu, malu-malu, atau merasa bersalah. Sikap ini biasanya dikembangkan dengan sindiran yang membuat si anak malu jika melakukan sesuatu kesalahan dihadapan tetangga atau tamu.

Sikap isin (ngerti isin) adalah langkah pertama ke arah kepribadian Jawa yang matang. Anak yang tidak berhasil dalam pendidikan pada tahap ini biasanya disebut dengan orang yang ora ngerti isin (tidak tahu malu).

Tahapan yang paling tinggi dalam ajaran ini adalah tahap Sungkan. Sungkan adalah rasa malu dalam arti yang lebih positif. Berbeda dengan isin, sungkan bukanlah suatu rasa yang harus dicegah. Sungkan adalah rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau sesama yang belum dikenal, sebagai pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormat terhadap pribadi lain.

Sungkan berkaitan dengan sikap batin. Rasa ini timbul dari batin yang telah terdidik untuk menjadi sedemikian peka terhadap segala sesuatu yang dapat merusak keselarasan sosial. Didalamnya terkandung rasa pengertian dan kerelaan serta kepasrahan yang tinggi untuk menjalani kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Sikap ini diyakini dapat membawa individu untuk mencapai keadaan psikis yang paling tinggi yang disebut slamet. Slamet adalah ketenangan, ketentraman batin, dan rasa aman.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagian terakhir dari aksara Jawa ini berkaitan dengan sikap batin yang wajib dimiliki oleh orang Jawa, yaitu:

Waspada, berarti suatu sikap mawas diri. Seseorang harus selalu waspada terhadap segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Jangan sampai terperosok melanggar ajaran moral.

Sikap-sikap batin lain yang harus dimiliki adalah prasaja (sederhana), andhapasor (rendah hati), tepa selira ( tahu dan sadar akan batas-batas moral), dan Pracaya (percaya) yang mempunyai pengertian bahwa setiap orang Jawa harus percaya adanya bimbingan Tuhan dalam setiap detik kehidupannya, sehingga tidak akan seenaknya dalam bertindak.

Penutup

Setelah kita membaca uraian yang cukup panjang tentang filsafah yang terkandung dalam aksara ha-na-ca-ra-ka seperti yang diajarkan oleh Sinuhun Paku Buwana IX, dapat kita simpulkan bahwa aksara Jawa bukanlah hanya sekedar huruf-huruf yang kering tanpa makna. Sebaliknya, aksara Jawa dapat berperan sebagai dasar pendidikan moral yang amat penting dalam masyarakat Jawa. Penyampaian melalui tembang sekaligus dongeng, tentunya tidak akan membuat pendengarnya merasa terpaksa. Jika pendidikan moral melalui aksara Jawa ini diterapkan pada anak-anak, saya pikir pendidikan moral akan lebih berhasil mencapai tujuannya daripada dengan cara-cara yang kaku seperti cara pujian dan hukuman. Bagaimanapun, seperti yang saya ungkapkan di bagian pendahuluan, sikap moral yang baik adalah sikap moral yang tumbuh dalam diri individu tanpa paksaan dan tumbuh subur dalam suasana pendidikan yang tentram dan damai.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Juga menekuni bidang Kajian Filsafat, Budaya, dan Pendidikan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

 

RUJUKAN

Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia

Bertens, Kees. 1993.  Etika. Jakarta: Gramedia.

Hardjowirogo, Marbangun.1984. Manusia Jawa.  Jakarta: Inti Idayu Press.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Magnis-Suseno, Franz.1988. Etika Jawa: Sebuah Analisis Falsafi tentang

Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta:Gramedia

__________________.1993. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral

Jakarta: Kanisius

__________________.1982. Kita dan Wayang.

Jakarta: Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :