KESUSASTRAAN JEPANG SELAYANG PANDANG

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

PEMBAGIAN ZAMAN SEJARAH KESUSASTRAAN JEPANG

  1. Kesusastraan JOODAI (Kesusastraan Zaman Yamato Nara)
  1. Kesusastraan CHUUKO (Kesusastraan Zaman Heian)
  1. Kesusastraan CHUUSEI (Kesusastraan Zaman Kamakura-Muromachi)
  1. Kesusastraan KINSEI (Kesusastraan Zaman Edo)
  1. Kesusastraan KINDAI (Kesusastraan Zaman Meiji, Taisho dan Showa)

 

1. KESUSASTRAAN JOODAI

a. Asal-usul Kesusastraan Jepang

Lahirnya kesusastraan Jepang Tidak diketahui dengan pasti. Hanya diketahui asal-usul kesusastraan Jepang dari lagu, tarian dan cerita yang menyatu menjadi sebuah Buyo (tari Jepang klasik), serta sandiwara sederhana yang dimainkan dalam kelompok, untuk sebuah acara hiburan, dan untuk upacara ritual keagamaan (kepercayaan).

Kemudian, kesusastraan dibagi dari zaman pra-purba, dan lahirlah Mitos (Shiwa), Legenda (Densetsu), dan Dongeng (Setsuwa) yang masing-masing berdiri sendiri.

Kesusastraan Joodai juga disebut dengan Yamato Nara Jidai Bungaku (kesusatraan zaman Yamato Nara), karena kebanyakan dilakukan di wilayah Yamato, yang ibu kotanya terakhir ditentukan berpusat di Nara.

 

b. Kooshoo Bungaku

Kooshoo bungaku merupakan kesusastraan yang disampaikan lewat nyanyian dan cerita dari telinga ke telinga, dan dari mulut ke mulut orang-orang. Contohnya mitos, legenda dan dongeng. Dan cerita-cerita tersebut disampaikan oleh orang yang disebut KATARIBE (pendongeng).

Kooshoo bungaku tidak dapat dikatakan kesusastraan murni/asli, tetapi nilainya sangat tinggi sebagai dokumen/catatan penting untuk mengetahui perasaan dan kehidupan orang-orang, serta negeri dan bangsa-bangsa kuno.

 

c. Publikasi Kesusastraan:

– Kojiki

Kojiki disusun oleh Oonoyasumaro tahun ke-5 Wado (712) dan ditulis dengan huruf Manyogana. Kojiki terbagi dalam tiga bab. Bab pertama, yakni berupa mithos yang berisikan tentang penciptaan langit dan bumi, sampai pada peringatan kematian kaisar Jimmu, yaitu nenek moyang keluarga kaisar. Bab kedua dan ketiga, berisikan tentang legenda dan periode pemerintahan dari beberapa orang kaisar.

Untuk sebuah catatan sejarah, mitos, legenda, dan balada (nyayian) sangatlah penting, karena bisa melihat kehidupan negara yang dinamis dan menyenangkan melalui daya khayal masyarakat yang sederhana.

 

– Nihon Shoki

Nihon shoki disusun oleh Tenno Shinno tahun 720 (Yoso tahun ke-4). Ditulis dengan huruf Kanbun., dan dibagi dalam 30 bab. Isinya terutama menceritakan tentang sejarah pembentukan negara Jepang.

 

– Fudoki

Fudoki ditulis pada tahun 733 M. Berisi tentang kehidupan dan sejarah masyarakat setempat. Fudoki pada umumnya berupa kanbun. Bentuk sempurna dari fudoki saat ini adalah izumofudoki.

 

– Manyoushuu

Manyoushuu ditulis pada tahun 759 M. Sebagian besar manyoushuu terbentuk syair yang dikumpulkan oleh Otomono Yakamochi. Manyoushuu terbagi dalam 3 bagian yaitu soomonka, banka, zooka yang seluruhnya berjumlah 20 bab dan sekitar 4500 bait. Monyooshuu dikenal luas mulai dari Tenno, kalangan bangsawan hingga rakyat jelata dan tersebar  pada semua daerah di Barat dan Timur Jepang.

Bentuk syair dalam manyooshuu kebanyakan berupa syair pendek. Semua syair ditulis dengan manyoogana. Masa keberadaan manyoushuu selama lebih kurang 400 tahun. Jenis syair dalam manyoushuu adalah :

  1. chooka, syair panjang yang berupa pengulangan dari bentuk 5, 7 dan 5, 7, 7
  2. tanka, syair yang berbentuk 5, 7, 5, 7, 7
  3. sedooka, syair yang berbentuk 5, 7, 7, 5, 7, 7

 

2. KESUSASTRAAN CHUUKO (KESUSASTRAAN HEIAN)

Kesusastraan chuuko berawal pada tahun 794. Masa kesusastraan ini berlangsung sekitar 400 tahun dan dimulai Tenno Kanmu berkuasa di zaman Heian hingga mulainya pemerintahan Shoogun di Kamakura oleh Minamoto Noyoriyomo pada tahun 1192. Kesusastraan zaman ini disebut juga kesusastraan zaman Heian.

 

a. Dari Karafu ke Kokufu

Pada permulaan zaman Heian banyak bermunculan kanshibun (syair-syair Cina) sebagai akibat pengaruh kuat budaya karafu. Namun, seiring dengan pengaruh yang dalam dari budaya karafu ini, lalu disisi lain munculkah budaya kokufu. Seiring dengan perkembangan hiragana saat itu, memperkuat minat terhadap waka (syair Jepang) sendiri. Sehingga pada awal abad ke-10 munculkan kokinwakashuu atau chokusenshuu yang merupakan titik awal dari lahirnya waka.

 

b. Waka:

– Kokinwakashuu

Salah satu dari 4 orang terpilih yang ditunjuk oleh Tenno saat itu untuk menyusun kokinwakashuu adalah Kino Tsurayuki. Berdasarkan tahun pembuatan dan cara pembacaannya secara umum di bagi kedalam 3 periode, yaitu :

  • Periode I , manyoofu sebagai karya yang memuat pengutaraan perasaan hati.
  • Periode II, manyoofu ditulis dengan menggunakan teknik baru yang berisi mengenai keindahan dan perasaan hati.
  • Periode III, kokinshuu yang berupa kafu sebagai karya yang mewakili karya-karya yang diciptakan oleh 4 orang terpilih pada masa itu (termasuk Kino Tsurayuki) yang ditulis dengan indah dengan menggunakan ungkapan dari kata-kata yang terpilih yang berasal dari kepuasaan perasaan penciptanya sendiri (4 orang terpilih tersebut).

 

– Monogatari:

Mitos dan legenda yang banyak ditemukan pada zaman Joodai (zaman sebelum KODAI) merupakan hikayat-hikayat lama yang jauh dari kondisi kehidupan nyata. Namun sejak zaman Nara hingga Heian novel-novel yang diimpor dari Cina banyak digemari. Lalu dengan berkembangnya hiragana membuat karya-karya sastra yang muncul setelah itu menggambarkan kehidupan masyarakat Jepang yang sebenarnya. Pada akhir abad ke-9 lahir taketori monogatari (dongeng pemotong) bambu). Disamping itu sebagai salah satu contoh lahirlah karya-karya besar diantaranya isemonogatari.

**Taketori Monogatari

Dari dulu sampai sekarang, Taketori Monogatari adalah monogatari yang paling tua, sehingga disebut nenek moyangnya monogatari.   Karya sastra ini berdasarkan pada cerita rakyat yang dapat kita lihat dalam (Niki),(fudoki), (manyoshu) dll, dengan mengangkat  dongeng-dongeng dari Cina dan India, dan diselaraskan dengan kehidupan nyata masyarakat, sehingga menjadi suatu karya sastra yang tinggi.  Isi dari cerita itu adalah menceritakan tentang Putri Kaguya (Kaguya Hime) yang ditemukan oleh Taketori Okina, sambil melontarkan sindiran-sindiran yang sederhana pada masyarakat nyata, juga menggambarkan tentang kesedihan terhadap keduniawian dan kerinduan pada hal-hal yang indah.

**Ise Monogatari

Pada awal zaman Heian, dibuatlah sebagai kerangka waka oleh Ariwara Naribira yang populer di masyarakat bangsawan.  Juga memaparkan budi pekerti satu generasi masyarakat bangsawan dengan citarasa yang indah.  Sebagai kitab suci waka karya tersebut sangat dihormati bersamaan dengan Genji Monogatari.

**Genji Monogatari

Pengarang Genji Monogatari adalah Murasaki Shikibu.  Terdiri dari 54 babak.  Sampai babak 41 menggambarkan kehidupan Hikaru Genji dari lahir sampai wafat, kemudian 3 babak berikutnya menggambarkan kehidupan Hikaru Genji setelah wafat, juga memaparkan kehidupan  anaknya bernama Kaoru, sedangkan 10 babak terakhir menggambarkan tentang Kaoru.  Berisi tentang 4 kaisar yang telah melewati 70 tahun lebih, disusun menjadi satu kesatuan berdasarkan ide-ide yang diatur menjadi cerita panjang yang menampilkan kira-kira 300 orang.

Digambarkan pula tentang alam, sifat dan psikologi manusia dan kemanusiaannya dengan indah sekali. Genji Monogatari telah menyumbangkan sesuatu yang besar pada kebudayaan yang tinggi pada umumnya, sehingga mempunyai reputasi yang tinggi pada zaman itu.

**Rekishi Monogatari:

— (Eika Monogatari)

Terdiri dari 40 babak menggambarkan khusus tentang keadaan dalam Istana secara cemerlang selama 200 tahun (889-1092).

Ima Kagami

Menggambarkan tentang kehidupan yang nyaman pada awal zaman Heian, tetapi secara keseluruhan monoton dan datar.  Tetapi pengarang dengan tajam memperlihatkan pemandangan sejarah dan menarik.

 

– Setsuwa Bungaku:

**(Konjaku Monogatari)

Terdiri dari 1000 setsuwa lebih, dan terbagi atas 3 golongan besar, yaitu Cina, India, dan Jepang.  Setsuwa Budha menjadi bahan utama, tetapi juga menggambarkan kebiasaan golongan atas di Jepang, dalam cerita ini digambarkan bermacam-macam orang, dari kaum bushi sampai pada golongan maling, dan menceritakan keadaan nyata dari rakyat kecil.  Cara pengungkapannyapun dibuat secara hidup dan sederhana.

 

– Nikki:

**Tosa Nikki

Tosa Nikki  ini disebut karya sastra terakhir dari Kiki (sastrawan besar zaman Heian).  Penggambaran para pelaku yang indah, mengungkapkan keduniawian dan kemanusiaan dengan humor-humor dan kepadaian yang alami, sehingga dimulainya bentuk kesusastraan nikki yang baru. 

**Kagero Nikki

Pengarangnya adalah anak perempuan dari Fujiwarano Tomoyasu.  Isinya   menggambarkan kesedihaan sebagai pengarang wanita selama 21 tahun. Namanya Tabi Nikki.  Tabi Nikki sebagai kesusastraan Nikki yang reputasinya selangkaah lebih maju secara kesusastraan dari pada Tosa Nikki. 

**Sarashina Nikki

Pengarangnya adalah Putri dari Sugawara Takasue. Karya sastra ini ditulis untuk mengenang pengalaman hidupnya sebagai sorang wanita  selama 40 tahun. Isinya menggambarkan perubahan hidupnya dimulai dari khayalannya sewaktu kecil, kehidupan pernikahannya dan di masa tuanya.  Ia percaya pada keindahan ajaran  Budha. Impian dan khayalan yang muncul silih berganti  merupakan keistimewaan dari karya sastra ini.

 

– Zuihitsu:

**Makura no Soushi

Pengarangnya adalah Seishounagon. Isinya menceritakan tentang impian yang indah dan besar dan juga menunjukkan pandangan hidup pengarang yang dijelaskan  menjadi satu kesatuan melalui ungkapan kritikan yang  umum dan menggambarkan keadaan istana dan masyarakat sekelilingnya dengan jelas.

 

3. KESUSASTRAAN CHUUSEI (ABAD PERTENGAHAN)

Kesusasteraan Chuusei yang berlangsung sejak berdirinya Bakufu di Kamakura, disusul jaman Muromachi dan berakhir pada saat jayanya Tokugawa Ieyasu yang berlangsung selama kira-kira 400 tahun.

 

a. Kesusastraan Inja

Secara formal kesusateraan Chuusei diwakili oleh Buke (keluarga Samurai) dan Soryo (pemuka agama/pendeta). Kegiatan sastra pada masa ini mendapat perhatian yang penting karena para Inja  adalah golongan istana atau bangsawan yang menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan merupakan juru bicara dari kaum bangsawan yang dianggap Dewa.Karya sastra ini disebut Kesusateraan Inja yang konsepnya dibuat berdasarkan keadaan lingkungan sekeliling mereka. Dua hasil karya yang terkenal dan merupakan keistimewaan kesusateraan Inja adalah Hoojooki karya Kamono Chomei dan Tsurezure Gusa karya Yoshida Kenko.

 

b. Waka

Pada awal permulaan Chusei, kaum Kuge kehilangan peranan dalam bidang politik dan juga kesempatan unuk berkarya sastra. Gotoba Tenno yang naik tahta setelah pengaruh Heikei Ichimon mulai berkurang, sangat menaruh perhatian pada sastra seiring dengan usahanya untuk mengembalikan politik kaisar dan sangat memaksimalkan kemajuan waka yang berpusat pada kaum bangsawan dan Kuge, dengan membantu perkembangan secara finansial. Kemudian dibuatlah kumpulan Waka yang sangat besar seperti Roppyakuban Utaawase  dan sengohyakuban Utaawase dan lain sebagainya. Di antara semua itu kaisar memilih Shinkokin Wakashuu.

– Shinkokin Wakashuu

Setelah kaisar Gotoba melepaskan tahta pada tahun pertama Kennin (1201), Ia mulai berminat kembali pada Waka, kemudian memerintahkan Minamoto no Michitomo, Fujiwara Teika, Fujiwara Ietaka, Fujiwara Ariie, Fujiwara Masatsune untuk kembali menyusun Wakashuu. Pada tahun kedua Genkyuu (1205)  Shinkokin Wakashuu berhasil disusun dan direvisi. Syair Manyosushuu juga dikumpulkan tapi bukan Choku senshuu, Titik berat penyair zaman ini yang disebut yang disebut okareshinkokinchou merupakan keistimewaan zaman ini. Penyair Shinkokin yang berpusat pada istana Gotoba membuat gaya Yuugen (abstrak dan halus) yang dicetuskan oleh Fuyjiwara shunzei dan gaya Ushin (realisme) yang dirintis oleh fujiwara Sadaie yang merupakan gambaran kehiduapn pribadi mereka yang melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras dan hidup dengan kebudayaan dinasti di masa lalu. Untuk mendapatkan gaya bahasa seperti ini, diperlukan berbagai macam teknik,  seperti teknik taigendome, sankugire, shokugire, dan honkadori.  Hasilnya cenderung bersifat simbolik dan terlihat seperti bersifat lukisan. Pada akhirnya Shinkokincho membawa pengaruh yang besar terhadap kesusteraan zaman ini.

 

c. Kayoo

Kayoo merupakan (bentuk seni) yang  menggabungkan berbagai macam seni yang populer pada akhir zaman Heian, dan (bentuk seni ini)  populer terutama pada pertengahan Zaman Kamakura hingga Zaman Muromachi. Terlebih-lebih, karena banyak dimainkan di tempat-tempat hiburan maka disebut dengan  engyoku. Kayou biasa dimainkan di kalangan bangsawan istana, keluarga samurai dan para pendeta. (Isinya) terutama menyanyikan tentang percintaan pria dan wanita.

 

d. Monogatari

– Gikoomonogatari

Pada Zaman Kamakura, banyak dihasilkan karya sastra yang meniru cerita monogatari yang ada pada Dinasti Heian, terutama sekali meniru  cerita “Genji Monogatari”. Para pengarang bangsawan telah kehilangan daya ciptanya yang  mendasar yang menyebabkan mundurnya kesusastraan di kalangan istana. Karena itu, mereka menulis kembali/ menyadur  ataupun membuat tiruan yang mengingatkan kembali pada monogotari yang terdahulu. Karya sastra yang ditulis ulang misalnya: “Sumiyoshi Monogatari” , “Torikaebaya Monogatari “ .  Lalu ada juga karya sastra yang bukan tiruan namun mendapat pengaruh yang kuat (dari karya sebelumnya) seperti  “Ama no Karumo” , “Koke no Koromo” , “Iwashimizu Monogatari”  ,  “Sayo Koromo” ,  “Matsu uramiya Monogatari”  dsb. (Karya sastra) itu semuanya miskin akan ide-ide baru, namun bisa dilihat adanya kecenderungan pencerahan dengan dimunculkannya pemikiran ajaran baru Budha.  Bersama dengan setsuwa monogatari, (karya sastra ini) mempunyai peranan yang sangat besar dalam melahirkan (bentuk karya sastra) Otogizoushi pada periode berikutnya.

 

e. Otogizooshi

Karena (kesusastraan) monogatari mengalami kemunduran, maka sejak akhir Zaman Kamakura hingga awal Zaman Edo, dibuatlah cerita-cerita  pendek yang populer. Cerita pendek itu dikenal dengan nama Otogizooshi. Cerita-cerita pendek itu, kebanyakan tahun pembuatannya dan nama pengarangnya tidak dikenal. Isinya, kebanyakan menaruh perhatian pada anak-anak dan ibu-ibu sebagai objek cerita; dengan bahasa yang mudah dicerna, serta kuat akan unsur pendidikannya (=petuah atau nasihat).  Walaupun dari segi nilai sastranya rendah, namun kaya akan sifat-sifat/ watak  dari rakyat jelata dengan memasukkan adat istiadat dan hikayat/ dongeng rakyat.

 

e. Kesusastraan Setsuwa (hikayat/ dongeng)

Pada Zaman Kamakura dihasilkan karya sastra setsuwa seperti: “Ujishuui Monogatari”, “Jikkinshoo”,  dan “Kokinchoomonshuu”;   lalu pada Zaman Muromachi dihasilkan karya sastra seperti : “Yoshinoshuui”  dsb. Bisa dilihat nuansa untuk mambuat isi cerita yang menarik dan dengan kalimat yang mudah dimengerti.  Lalu ada karya sastra setsuwa ajaran Budha, seperti: “Hoobutsushuu” dan  “Hosshinshuu” dsb.

 

f. Rekishi Monogatari (Cerita Sejarah)

Pada awal Zaman Kamakura dihasilkan karya sastra rekishi monogatari seperti : “Mizu Kagami”   ;   lalu pada masa  Dinasti Nanboku  dihasilkan karya sastra:  “Masu Kagami”.   (Ket.   Nanboku Jidai   :   masa di mana Jepang berkuasa  dua dinasti, yaitu dinasti di utara dan di selatan)

– Mizu Kagami

Menceritakan dengan singkat sejak (pemerintahan)  Jimmu Tennoo hingga Nimmei Tennoo.  Kalimatnya pun  sederhana dan tidak terlihat adanya tekanan/ paksaan.

– Masu Kagami

Menceritakan dengan singkat sejak (pemerintahan)  Gootoba Tennoo hingga Godaigo   Tennoo. (Penggunaan) Kalinatnya mendapat  pengaruh kuat dari Genji Monogatari  dan sangat indah.

– Gunki Monogatari

Yang disebut dengan Gunki Monogatari adalah kesusastraan sejarah terutama berisikan tentang pertempuran. Sebagai pelopor (karya sastra Gunki Monogatari)  adalah “Shoumonki” dan  “Mutsu Waki” yang dihasilkan pada zaman Heian.  Dan karya sastra yang mewakili Zaman Kamakura adalah “Hogen Monogatari”. Di antara karya sastra Gunki Monogatari yang paling mengagumkan  adalah “Heike Monogatari”.

– Heike Monogatari

Menggambarkan keseluruhan perjalanan hidup keluarga Heike, mulai dari masa makmur/jayanya sampai masa runtuhnya.

 

g. Nikki, Kikoo

Pada jaman Kamakura ada beberapa tulisan yang ditulis oleh wanita dengan menggunakan huruf hiragana, yaitu Kenreimonin Ukyoo Daibushuu, Ben no Naishi Nikki, Nakatsukasa no Naishi Nikki, dan sebagainya. Selain itu, karena pada jaman ini banyak orang pulang pergi dari Tokyo dan Kamakura, maka muncullah catatan perjalanan/jurnal tentang perjalanan darat/laut. Contohnya : Kaidooki, Tookankikoo, Isayoi Nikki, dan sebagainya.

 

h. Zuihitsu (essai)

Penulis essai jaman chuusei adalah golongan terkahir dari Kuge, terutama orang-orang yang menjadi pendeta. Karena mereka melihat kekacauan, mereka kemudian mengasingkan diri dari dunia nyata dan menjadikan alam sebagai teman. Kemudian, karena mereka memiliki kelonggaran sebagai masyarakat intelek yang tidak terikat jabatan dalam masyarakat, mereka dapat berpikir dengan tenang tentang diri sendiri dan kehidupan manusia. Hoojooki dan Tsurezuregusa masing-masing adalah wakil/ contoh karya essai jaman chuusei.

– Hoojooki

Pengarangnya adalah Kamonochoomei. Isi pada bagian awal, ia menulis aspek-aspek pada masa ketika dia melihat diri sendiri, dan menguraikan ketidakkekalan kehidupan manusia. Pada bagian akhir, ia menguraikan perasaannya tentang kehidupan pendeta yang menjadikan alam sebagai teman.

– Tsurezuregusa

Pengarangnya adalah Yoshida Kenkoo. Isinya yang berupa penggambaran pemandangan alam sedikit, bagian yang terbesar adalah kritik terhadap kehidupan manusia dan masyarakat atau tentang perjalanan hidup.

i. Geki Bungaku

– Noh

Berkembang pada masa perang saudara Utara-Selatan. Tokoh Noh yang terkenal adalah ayah dan anak yang bernama Kanami dan Zeami. Mereka menciptakan/ menguraikan aturan yang diketahui dan dipatuhi oleh pemain drama. Selain itu, mereka juga membuat buku pedoman/aturan (kadensho) sebagai teori drama.

 

4. KESUSASTRAAN KINSEI (PRA-MODERN)

Kesusastraan pra modern adalah kesusastraan yang berlangsung kurang lebih 260 tahun, yaitu sejak dibentuknya pemerintahan Bakufu di Edo oleh Tokugawa Ieyasu tahun 1603 sampai Restorasi Meiji tahun 1868

 

a. Kesusastraan kaum pedagang (choonin bungaku)

Sampai saat ini para pedagang tidak sebatas hanya membaca karya-karya tulis bushi atau pendeta. Mereka juga menulis karya sastra sendiri yang berisi tentang kehidupan nyata yang dilihat berdasarkan pandangan mereka sendiri. Kesusastraan ini disebut Choonin Bungaku. Mengalami masa jaya dari tahun 1688 ~ 1764. Dan karena sekarang  berpusat di daerah Keihan, maka kesusastraan ini pun disebut juga Kamikata Bungaku.

– Haikai

Karena cara pembuatannya yang mudah atau sederhana, penuh kesenangan, maka Haikai ini populer di kalangan rakyat kecil.

**Teimon Haikai

Matsunaga Teitoku yang berhasil mendirikan aliran haikai yang bebas sebebas-bebasnya menyebut kelompok ini sebagai Teimon. Pengikutnya adalah Matsue Shigeyori, Yasuhara Teishitsu, Kitamura Kigin, dan lain-lain.

 **Puisi Haikai Danrin

Yang ingin diungkapkan yaitu pesan dan keinginan yang baru dari kelompok orang kota. Satu kelompok sebagai pusat yaitu Nishi Yama Soin (1605-1682), dan di pintu ada Ihara Saikaku, Tashiro Matsui dan lainnya.

**Puisi Haikai Shofu

Matsuo Basho (1644-1694) adalah Teimon, mengejar kebenaran dari Haikai dan bakat alam sendiri sambil menerima pengaruh Danbayashi, berdasarkan pelajaran yang ketat, menyelesaikan Shofu yang menemukan ruang kehidupan manusia merupakan puisi yang benar-benar indah. 「Jalan yang kecil」、「sarumino」、「karung arang」yang mewakili.

– Novel, Cerita

**Kanazooshi

Terutama adalah buku yang ditulis dengan Kanazosshi,bertujuan untuk praktis, kesenangan, asal-usul dan lain-lain. Pengarangnya adalah samurai, biksu, pengangguran terutama golongan intelektual. Pesannya yaitu warna cerita yang bersifat mendidik. Tetapi di dalam hasil karya tersebut tampak juga hasil karya yang bersifat novel yang berbeda ceritanya sampai saat itu dan hasil karya yang mengambil cerita baru dari buku pedoman tampat main, objek wisata, dan cerita lucu, kemudian seiring dengan perkembangan teknik percetakan, maka meluaslah sehingga disebut pelopor Novel Kinsei. Ada「Kashoki」yang mengomentari orang awam dan samurai berdasarkan bentuk esei yang ada di dalam pokok-pokok pelajaran. Di Jepang untuk Bukkyo Zangge「dua orang Biksuni Budha」terdapat terjemahan sastra Barat permulaan yaitu「cerita Isoho」mengincar hiburan yaitu 「dongeng Boko」, cerita lucu「Seizuisho」, buku pedoman untuk tempat menarik「Chikuzai」,「tempat menarik Tokaido」dan lain-lain. Kanazoshi ini belum dikuasai secara kesusastraan tetapi pembaca meluas sampai ke Shomin, karena memiliki makna sejarah kesusastraan dari tempat asal novel Shomin yang disebut Ukiyozoshi berikut ini.

 **Ukiyozooshi

Menunjukan novel yang berprinsip pada realitas yang dilaksanakan sebagai pusat masyarakat. Dimulai pada「Lelaki satu generasi yang menyukai wanita」Ihara Saikaku yang menggambarkan 1 garis dan Kanazooshi, tetapi pada zaman Saikaku masih disebut dengan nama Kanazooshi. Ukiyo adalah menunjukan dunia fana yang berprinsip pada kesenangan yang berlebihan.

**Yomihon

Yomihon adalah buku bacaan, karena arti yang disebut buku sebagai kepentingan bab yang dibaca, maka dimulai dari saduran dan terjemahan novel Cina. Katakanlah, novel yang ditulis diperuntukan orang dewasa.

 **Sharebon

Yang disebut dengan “sharebon” adalah bacan dengan bahan ceriteranya diambil dari dunia pelacuran (lokalisasi), tapi disebut pula “konyakubon”. Bacaan ini merupakan bacaan asli percobaan dengan mengambil kiat atau petunjuk dari sastra atau lokalisasi di negeri Cina, isinya menggambarkan tentang tingkah laku dan percakapan antara pelacur dengan tamu laki-laki.

 **Ninjoobon

Ninjoobon adalah novel rakyat yang menggambarkan dunia percintaan dan romantikanya didalam kehidupan sehari-hari. Yang paling aktif dalam pembuatan novel seperti ini adalah Tamenaga Shunsui, dan ia meninggalkan karya representatifnya berjudul “shunshoku urejoyomi”

 **Kokkeibon

Di dalam karya-karya seperti ini tidak terkandung petuah atau sarkasme, tetapi isinya hanya membawa para pembacanya tertawa terpingkal-terpingkal. Yang terkecil adalah”Tokaidoochuu Hizakurige” dari Jupensha ikku dan “Ukiya Buro” karya Sikitei   Sanba.

 **Kibyooshi

Di dalamnya digambarkan kehidupan dari rakyat biasa, dan selanjutnyapun merupakan buku bacaan rakyat yang cukup popular.

 **Gookan

Banyak mengandung petuah, dan yang menjadi inti ceriteranya adalah balas dendam “Nise Shibate Inaka Genji” karya Ryuutei Tanehiho yang sangat terkenal.

 

b. Kesusastraan Drama

– Joruri

Merupakan hasil perpaduan anatara permainan shamisen dengan permainan boneka. Pada tahun genroku, drama jenis ini sangat popular dengan bergabungnya Chikamatsu Monzaemon (1653 – 1724) sebagai pembuat musiknya, dan Tatsumatsu Hachirokei yang merupakan pemain ahli bonekanya.

Chikamatsu membuat karya besarnya yang berbentuk ceritera sejarah berjudul “Kokuseinya Gassen”, untuk ceritera roman berjudul “Shinjuuten no amijima”. Dalam ceritera-ceriteranya digambarkan dengan hidupnya rakyat yang kesusahan dan kesusahan untuk hidup sebagai manusia di bawah sistem feodalisme.

 

– Kabuki

Muncul pada jaman Edo dan mencapai kesempurnaannya. Ini merupakan drama tipikal khas Jepang yang tumbuh subur diantara rakyat Jepang. Selama 50 tahun, mulai tahun 1688 sampai dengan tahun 1763 dianggap sebagai masa perkembangan kabuki.

Chikamatsu Monzaemon yang aktif di dunia drama dalam sastra kinsei, menulis naskah “Keisei hotoke no hara” untuk bintang kabuki terkenal dari Kamigata (Kansai) yang bernama Sakata Tojuro. Kebanyakan dari karya chikamatsu berakhir dengan shinju. (bunuh diri bersama sepasang kekasih).

 

5. KESUSASTRAAN KINDAI (MODERN) 

Banyak pendapat terhadap pertanyaan  “kapan sastra modern Jepang dimulai?”

Sama seperti mulainya kontak masyarakat modern Jepang dengan negara-negara barat yang telah maju. Modernisasi sastra Jepangpun terbentuk berdasarkan kontak dengan sastra modern barat. Ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja Biasanya dikatakan bahwa sastra modern Jepang dimulai pada tahun 19 meiji.

Orang-orang yang dianggap penting berkaitan dengan munculnya sastra Jepang modern itu diantaranya: Tsubouchi Shooyoo, Futabatei Shimei.. Dalam hal ini, sastra Jepang modern diawali dengan “Shoshitsu Shinzui” karya Tsubouchi Shooyoo, dan “ukigumo” karya Futabatei Shimei.

“Ukigumo” ditulis dari tahun 20 Meiji, setelah itu bukan hanya Futabatei, kaum intelek muda pun secara bersama-sama mengembangkan modernisasi sastra.  Sebagai contoh adalah Bizakikooyoo, Kodarohan, Izumikyooka.  Zaman itu berubah bersamaan dengan mengalirnya waktu.  Mengubah juga kebiasaan kehidupan masyarakat.  Alur karya sastra telah berubah sama seperti minat sastrawan.

Pada sejarah kesusastraan Jepang, aliran yang dikatakan sastra naturalisme adalah aliran yang berpusat pada sastra modern Jepang dan selanjutnya itu merupakan waktu yang penting.  Penegakan/berdirinya naturalisme diawali dengan kemunculan [futon] dari Tayama Katai dan [Hakai] dari Shimazaki Tooson. Oogawa Mimei, Masamune Hakuchoo, dan Takuda Shusei adalah orang-orang yang menegakkan posisinya sebagai pengarang naturalis.  Aliran naturalisme disebut kesusastraan yang aktifitas di dalamnya membuat dunia luar biasa.

Pengarang yang ada diluar kesusastraan naturalisme pada saat itu yang tidak boleh dilupakan adalah Natsume Sooseki dan Mori Oogai.  Natsume dan Mori adalah pengarang penting yang telah mengerjakan pekerjaan yang besar masing-masing di dalam sastra modern Jepang.  Yang dinamakan sastra Natsume pada saat itu, adalah hasil karya yang menjawab permintaan akan novel yang dapat dibaca masyarakat yang sifatnya hiburan intelektual untuk kaum intelek.  Sastrawan naturalisme saat itu menulis novel yang kaku lawan sastra muda.  Setelah itu Natsume tidak dikatakan mengambil masalah yang mendasar atau fundamental dari manusia.

Tahun 43 Meiji adalah suatu titik peralihan besar yang memiliki banyak makna pada sastra modern Jepang.  Waktu itu justru adalah puncak kejayaan sastra naturalisme tapi dilain pihak mulailah aksi yang muncul secara berbarengan yaitu aliran yang menentang sastra naturalisme. Secara berturut-turut muncul [Shirakaba] dari Shiga Naoya dan Washakoji Saneatsu, [Mita bungaku] dari Nagai Kafu Henshu dan rekan-rekan, serta [Dainijishinshicho] dari Tanizaki Junichiro dan rekan-rekan.

Pendek kata, pada tahun 43 Meiji, bersamaan dengan puncak kejayaan aliran naturalisme, muncul serentak karya sastra dan seni anti naturalisme.  Bukan hanya itu saja, pada tahun 43 Meiji banyak penulis yang berpikir tentang batasan yang luas dari sejarah Jepang modern.  Kesusastraan modern yang merupakan batas dari “taigyakujiken” yang terjadi pada tahun Meiji itu dianggap telah mengalami perubahan pada kesusastraan Taisho.  Pendek kata, banyak orang yang berpikir bahwa “taigyakujiken” merupakan kejadian yang memiliki arti simbolik sebagai permulaan dari Taisho.

Zaman Taisho biasanya dikatakan zaman (demokrasi Taisho) dan merupakan waktu yang benar-benar penting baik bagi sejarah kesusastraannya maupun sejarah pemikirannya.  Karya sastra apa yang telah ditulis oleh para sastrawan zaman ini?  Mari kita coba sedikit melihatnya.

Tanizaki Junichiro merupakan seorang pengarang yang muncul pertama kali dalam dunia kesusastraan Taisho.  Karya sastra Tanizaki seperti; Seishun Monogatari, Sasame Yuki dan lain sebagainya.  Tanizaki merupakan seorang sastrawan yang mewakili sejarah kesusastraan Jepang dan merupakan pengarang yang banyak menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing.

Eksistensi pusat kesusastraan Taisho adalah bermula dari Shinshicho ketiga dan keempat diikuti oleh pengarang muda lainnya seperti; Narisei Shouichira, Matsuoka Yuzuro, Yamamoto Yuuzou, Kikuchikan, Kumo Masao dan Akutagawa Ryuunosuke.  Di antara para sastrawan ini Akutagawa Ryuunosuke adalah sastrawan yang paling berbakat cemerlang dan dalam praktiknya ia merupakan wakil dari aliran ini.  Novel pendek yang bersifat intelektual dan tidak mencolok pada kesusastraan Kindai dimulai dari karya sastra Shinshichou, Hana, Imogayu dan lain sebagainya.  Yang disayangkan Akutagawa hanya hidup singkat.  Ia bunuh diri pada akhir masa kesusastraan Taisho.

Berbicara mengenai kebudayaan dari sejak akhir masa taisho sampai permulaan tahun showa, kelompok yang berpandangan moderen telah berubah menjadi golongan budaya kontemporer yang bertentangan dengan kelompok budaya Ploretarian.

Tidak lama kemudian budaya ploretarian mengalami penyusutan.

Karena terjadi stagnasi kelompok budaya di akhir tahun 10 showa, para budayawan memunculkan karya-karya baru untuk mengatasi kevakuman budaya di masyarakat. Selanjutnya timbullah eksistensi budaya masyarakat kota. Pada saat itu juga lahirlah kecenderungan rekontruksi seni budaya.

Berdasarkan hai itu, terjadi pemusatan budaya showa yang berkonfrontasi dengan fasisme, tetapi pada masa-masa selanjutnya terjadi penyatuan budaya karena desakan zaman.

Di akhir perang dunia ke dua karya-karya seniman terbebas dari kesedihan yang berkepanjangan selama perang, lalu muncullah karya-karya baru yang kebal budaya lama.

Para seniman Ploretarian dari awal masa perang dunia ke dua mendeklarasikan prinsip-prinsip budaya perkotaan. Kemudian muncullah pertentangan-pertentangan pada kelompok-kelompok budaya di akhir perang dunia ke dua.

***(dari berbagai sumber) 

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Juga menekuni bidang Kajian Filsafat, Budaya, dan Pendidikan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri.

 

2 Réponses to “KESUSASTRAAN JEPANG SELAYANG PANDANG”

  1. makasih banyak mba… tulisannya sangat membantu untuk menambah pengetahuan mngenai kesusastraan Jepang, kalau boleh tau ini sumbernya dari mana ya? terima kasih🙂

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :