UNTUKMU, NAKODAKU

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Sudah lama kita berharap pada kapal karam.

Aku dengan kapal karamku.

Kamu dengan kapal karammu…

 

Kapal-kapal karam yang

menyisakan luka dan kenangan kelam,

Kapal-kapal karam yang tak menjanjikan apa-apa

selain menunggu untuk hancur dan tenggelam.

 

Hingga saatnya kita sadar,

bahwa meninggalkan kapal adalah

solusi terbaik yang dapat kita lakukan,

agar kita tak ikut hancur dan tenggelam.

MATI.

 

Namun, satu atau dua kapal karam,

tak kan pernah membuat pelaut-pelaut seperti kita

jera untuk berlayar kembali.

Karena kita tahu, akan selalu ada harapan baru

dalam setiap pelayaran…

 

Kita hanya perlu menemukan kapal baru,

Tidak. Tak perlu kapal mewah,

yang penting kapal itu bisa lebih kuat dan rela menghadapi badai,

dan mampu pula mengendalikan tiupan angin yang

kadang kala ingin mengubah arah sekehendak hatinya…

 

Lalu aku bertemu dirimu,

dengan semua gambaran tentang kapal yang kumau….

Maka tanpa pikir panjang,

kubiarkan kau menjadi nakodaku,

dan merelakan diriku berlayar bersamamu

menuju matahari di batas cakrawala.

Menjauhi pedih

Menjauhi benci.

 

Kubiarkan kau menjadi nakodaku,

Karena kau mampu merajut cerita baru,

tentang pelayaran yang mungkin tak sempurna,

namun mampu mengubah badai menjadi

angin yang lembut….

 

Kubiarkan kau menjadi nakodaku,

Karena kutahu kau selalu memiliki sayap-sayap pengaman,

yang mampu menjagaku dalam setiap serangan badai,

dan mampu mengubah rasa sakit menjadi rasa rindu.

 

Kubiarkan kau menjadi nakodaku,

karena kau selalu mampu melukis senyum,

dan menghapus cemasku

setiap kali kita melewati karang-karang tajam…

 

Kubiarkan kau menjadi nakodaku,

Karena kutahu jiwamu seperti langit biru,

mencintaiku tak berbatas…

dan menyayangiku seperti awan putih yang menghiasinya…

 

Kubiarkan kau menjadi nakodaku,

karena kutahu hanya kau dan aku yang sanggup

menggenapi takdir kita,

tentang  berlayar menuju matahari di batas cakrawala,

tentang merajut cerita baru dengan cinta yang bertambat

pada restu Sang Pencipta….

 

Bandung, 11 Februari 2014

 

-Kanya Puspokusumo

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :