My Daddy, My Idol

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Almarhum ayah, RM Soetjipto Poespokoesoemo (1931 – 1990), selalu menjadi idola saya.

Saya menjadikan beliau idola bukan karena beliau seorang pejabat tinggi di masa hidupnya, bukan pula karena level ekonomi beliau yang tinggi.

 

Saya mengidolakan beliau semata-mata karena kemuliaan hatinya.

Di mata saya beliau adalah seorang ayah dan sahabat yang sempurna buat saya dan juga seorang suami yang sempurna untuk ibu saya.

 

Ayah yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, selalu saja masih punya waktu yang berkualitas untuk saya.

Ayah yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, selalu saja masih punya waktu untuk mendengarkan setiap cerita saya.

Ayah yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, selalu saja masih punya waktu untuk berdiskusi dan menggali ilmu dengan saya.

Ayah yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, selalu mampu membuat saya merasa tetap menjadi bagian yang penting dalam hidupnya.

Ayah yang begitu sibuk dengan pekerjaannya, selalu mampu memberikan perhatian dan kasih sayang yang sangat besar dan nyata untuk saya.

 

Dari ayah…

Saya belajar tentang kesetiaan dan kejujuran sejati.

Beliau selalu berkata, « Kesetiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita tetap jujur dan setia walaupun pasangan kita tidak mengetahui/melihat apa yang sedang kita perbuat ».

Itulah kesetiaan sesungguhnya yang saat ini mungkin keberadaaannya semakin langka.

Sekarang ini, bukankah banyak laki-laki pembohong besar yang terlihat baik dan setia hanya ketika berada di depan istrinya, namun di yahoo messenger, sms/bbm, dan inbox FB/FB chat mereka sibuk chatting sana-sini dengan lawan jenis dengan obrolan-obrolan yang tidak pantas dan mengundang murka Allah?

 

Dari ayah…

Saya belajar tentang kasih sayang

Saya ingat bagaimana beliau tidak pernah menunjukkan rasa lelah saat mengajak kami bermain, padahal beliau baru saja pulang kantor.

Di setiap perjalanan beliau ke luar negeri, beliau pun tidak pernah lupa memastikan bahwa kami semua bisa tetap merasa menjadi perhatian dan prioritas utamanya. Ayah sangat mengerti bahwa sebuah telepon atau selembar surat sederhana yang menanyakan kondisi/kabar kami adalah jauh lebih berharga dibandingkan kiriman oleh-oleh yang mahal harganya. Pendeknya, Ayah telah membuktikan kepada kami, bahwa ketika hati bicara, jarak yang jauh pun bisa menjadi sangat dekat dan bisa membuat hati kami tetap terisi dan bahagia sepanjang waktu.

 

Saya ingat bagaimana beliau pun selalu bersabar jika ibu sekali-sekali mengomel. Beliau hanya berkata kepada para anak lelakinya, « Perempuan tidak boleh dikerasi, karena ia adalah tulang rusuk yang akan patah jika kita berusaha meluruskannya secara paksa. Mereka pun akan membangkang dan semakin menjauh jika kita melawannya dengan kekerasan. Beritahulah dan bimbinglah mereka dengan kelembutan dan kasih sayang, niscaya mereka akan sukarela mengabdi kepadamu dan melayanimu dengan senang hati, tanpa paksaan. »

 

Saya pun menjadi saksi hidup bagaimana indahnya perlakuan ayah terhadap ibu ketika ibu sakit.

Saya bisa melihat bagaimana besarnya kasih sayang ayah. Ayah selalu memastikan ibu tetap merasa aman dan nyaman serta terlindungi. Ayah mendukung sepenuhnya dengan segala cara agar ibu bisa cepat sembuh.

 

Dari ayah…

Saya belajar tentang pentingnya menggali dan menuntut ilmu

Dari ayah…

Saya belajar banyak prinsip hidup yang membuat saya bisa tetap bertahan di jalan lurus, walaupun begitu banyak yang ingin menyeret saya ke arah negatif.

Beliau selalu berkata, « Lebih baik berjalan sendirian di jalan Allah, daripada berjalan ramai-ramai di jalan yang dimurkai Allah. »

 

Dari ayah…

Saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

 

Dan dari ayah..

Saya mendapatkan gambaran tentang laki-laki, ayah, dan suami yang sempurna.

 

Saya sungguh beruntung memiliki ayah seperti beliau.

Ibu sungguh beruntung memiliki suami seperti beliau.

 

Mudah-mudahan anak saya Rayhan, kelak menjadi sosok seperti ayah yang selalu memiliki kemuliaan hati dan sikap, menjadi sosok yang selalu dirindukan kehadirannya, dan menjadi sosok yang selalu dibanggakan dan dicintai oleh anak dan istrinya….

 

Dan mudah-mudahan saya pun suatu saat bisa sebahagia dan seberuntung ibu…

Aamiin.

 

*miss you, daddy….

 

 

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :