MARI MERAYAKAN CINTA (2)

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Sebenarnya minggu ini adalah minggu yang sangat ‘sibuk’ untuk saya. Begitu banyak yang harus saya pikirkan. Tetapi ketika seorang sahabat di belahan dunia lain yang sudah lama tidak bertemu tiba-tiba saja menelepon dan bercerita banyak tentang masalahnya, rasanya saya tidak tega juga untuk menolak mendengarkan.

Dia kemudian bercerita banyak tentang hubungannya yang sedang memburuk dengan pasangannya. Hampir 15 menit lamanya dia menyebutkan ‘daftar kesalahan’ pasangannya. Setelah itu, dia meminta pendapat saya tentang apa yang seharusnya dia lakukan.

Mendengar semua itu, saya sempat terdiam beberapa saat. Selama beberapa saat saya hanya mampu menghela nafas panjang dan membiarkan pikiran saya mencari kata terbaik untuk menjawabnya.

Jika dia menelepon beberapa hari yang lalu, mungkin reaksi saya akan sangat berbeda.

Mungkin saat itu saya pun akan ikut menanggapinya dengan kesal, bahkan mungkin dengan kemarahan yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Mungkin nasehat saya kepadanya hanya akan berupa nasehat yang timbul dari pemikiran yang sempit.

Tapi hari ini berbeda…

Setelah tafakkur sangat panjang kemarin, sepertinya Allah telah menanamkan kesadaran baru dalam diri saya. Dengan kesadaran itu, saya rasanya bisa melihat semua permasalahannya dengan gambaran yang lebih luas…

Karena itu, reaksi yang saya keluarkan adalah dengan berkata begini,

« Sudah selesai? »

« Apanya yang sudah? » tanya teman saya.

Sepertinya dia agak kebingungan dengan reaksi saya.

« Daftarnya sudah selesai diomongin? » kata saya dengan nada sedikit bercanda.

« Kok gitu sih, ah, » katanya.

« Hehehe…. » jawab saya sedikit terkekeh.

« Kok malah ketawa? Jadi aku harus gimana nih? » tanyanya lagi.

Saya kemudian menjawab, « Daftar kesalahan pasanganmu yang panjang itu pasti belum selesai disebutkan, kan? Pasti tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Dan selama kamu memikirkan kesalahan-kesalahan itu, maka kesalahan itu setiap detiknya tidak akan pernah berkurang, melainkan akan selalu bertambah hingga kamu kebingungan untuk menghadapinya. Bahkan mungkin akan membuatmu membenci dan bertambah benci saja kepada pasanganmu. »

Dia terdiam.

Lalu saya melanjutkan, « Tahu tidak, mungkin dia pun punya daftar kesalahan yang sama panjangnya tentang kamu. Atau mungkin daftar kesalahanmu lebih panjang daripada daftar kesalahannya. »

Dia masih terdiam.

Karena itu saya lanjutkan lagi perkataan saya,

« Manusia tempatnya salah. Kesalahan demi kesalahan pasti akan selalu dibuat sampai kita mati. Hal tersebut tidak akan bisa dihindari. Karena itu, jika kita hanya berfokus kepada kesalahan, yang akan terpikir oleh kamu pasti bukanlah solusi, melainkan bagaimana caranya kamu berpisah dan bisa bebas dari pasanganmu itu. Dunia kamu terasa sangat sempit dan menghimpit. Betul kan? »

« Iya sih… Aku rasanya udah ga tahan, Nya. Aku cape. » jawabnya pelan.

« Kalau menurut saya, kesalahan yang harus kalian perbaiki hanya satu hal… Dan jika satu hal itu kamu perbaiki, Insya Allah kamu akan bisa melihat gambaran dan solusi yang lebih jernih. »

« Apa itu? »

« Kalian selama ini sering lupa membawa serta Allah dalam hubungan kalian. »

« Maksudnya? »

« Kalian sebagai suami istri lebih memikirkan kebahagiaan kalian masing-masing secara terpisah. Kalian lupa bahwa seharusnya ada Allah yang mengikatkan hubungan kalian. Seharusnya ada Allah di setiap bicara dan perilaku kita. Seharusnya Allah kamu bawa dalam setiap nasehat kamu kepada pasangan. Jika itu kamu lakukan, saya Insya Allah yakin, hidup kalian akan sangat damai. Allah pun Insya Allah akan menjadi sangat mencintai hubungan kalian dan serta merta menambah berkah dan rezeki kalian. »

« Aku masih belum paham betul, Nya. Maksudnya bagaimana? » tanyanya lagi.

« Seorang suami yang selalu membawa serta Allah dalam perkawinannya, hatinya akan serta merta terisi dengan cintaNya, sehingga ia mampu melihat apa yang membuat pasangannya bahagia dan tentram. Jika seorang istri sudah diberikan ketentraman batin, Insya Allah otomatis ia pun akan mengalirkan energi ketentraman yang sama untuk suaminya. Demikian pula jika istri selalu membawa serta Allah dalam perkawinannya, hatinya pun akan terisi penuh oleh cintaNya, dan otomatis bisa memberikan ketentraman pula kepada suaminya. »

Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening, dan tiba-tiba saya mendengar isaknya…

Tanpa mempedulikan isaknya, saya pun kemudian melanjutkan penjelasan saya,

« Jika kita selalu membawa serta Allah dalam semua segi kehidupan perkawinan kita, maka Insya Allah satu pelukan akan menjadi cahaya bagi hati, Insya Allah satu kecupan akan menambah cahaya itu, satu senyuman Insya Allah akan terasa nyaman dan mendamaikan hati, dan satu nasehat akan membuat kita merasa memiliki dunia dan siap menghadapi segala rintangan yang ada dengan semangat yang tak pernah putus.

Jika membawa Allah kita lakukan setiap detik, maka Insya Allah hati kita ini hanya akan berisi cahaya sangat terang benderang yang akan mengundang jutaan malaikat kebaikan untuk datang dan memberikan rahmat serta berkat Allah ke dalam perkawinan kita.

Jika membawa Allah kita lakukan setiap detik, maka Insya Allah sebesar dan sebanyak apapun kesalahan pasangan kita, kita akan melihatnya sebagai sarana untuk membuat kehidupan perkawinan kita menjadi lebih kaya pengalaman dan juga sebagai sarana agar bisa lebih mengenal pasangan kita lebih mendalam lagi. Kita juga akan semakin paham makna memaafkan secara tulus, hingga pada akhirnya dengan sendirinya akan membentuk keluarga yang benar-benar sakinah mawaddah wa rahmah. »

« Tapi masalah yang aku punya besar banget, Nya. Ini masalah harga diri. »

« Harga diri memang penting, tetapi jika itu terlalu diagungkan, maka akan menjadi kesombongan yang membutakan mata hati kita dalam melihat kebaikan-kebaikan pasangan kita… Kesalahan pasangan kita mungkin memang banyak, tetapi kebaikannya pun pasti banyak jika kita mau melihat dengan mata hati. Lagipula, sebenarnya tidak ada yang namanya masalah yang besar jika kita membawa serta Allah. Sebesar apapun masalah kita, jika kita mampu melihatnya dengan hati nurani yang jernih, Allah pasti akan menunjukkan solusinya pada kita. Selama pasangan tidak menyiksamu hingga nyawamu terancam, saya Insya Allah yakin setiap ketidakberesan dalam perkawinan pasti bisa diperbaiki. Dengan membawa serta Allah, kita akan selalu punya kekuatan dan nyali untuk menghadapi setiap rintangan seberat apapun. »

« Begitu ya, Nya? » ucapnya sambil masih sedikit terisak.

« Itulah yang saya pahami dan saya yakini saat ini setelah tafakkur yang panjang kemarin… » jawab saya perlahan

Lalu saya melanjutkan,

« Menurut saya, sebaiknya kamu mulai melakukan apa yang saya sarankan tadi. Kamu masih belum terlambat. Bawalah Allah dalam setiap segi kehidupan perkawinanmu. Dan kamu Insya Allah akan merasakan bedanya. Semuanya akan menjadi jauuuuuuh lebih baik. Insya Allah. »

« Iya deh, Nya. Aku mau renungkan semua kata-kata kamu baik-baik. Terima kasih ya. »

« Sama-sama. »

Dan telepon pun ditutup….

———–

Saya belum tahu apa sebenarnya maksud Allah dengan mengijinkan teman saya untuk menelepon di saat saya sudah memiliki gambaran dan perspektif yang sama sekali baru tentang bagaimana seharusnya perkawinan itu dijalankan. Mungkin Allah ingin saya menjadi perpanjangan tanganNya agar keluarga mereka diselamatkan dari kemungkinan yang buruk. Entahlah…

Tapi apapun itu, saya yakin Allah memasukkan pemahaman tersebut ke dalam hati dan pikiran saya adalah agar saya menjadi manusia dan istri yang jauh lebih baik. Allah pun mungkin bertujuan agar saya bisa menuliskannya di sini serta menyebarkannya kepada siapa saja yang mau memperbaiki dirinya…

Maka saya pun akhirnya menuliskannya di sini, agar bisa terbaca banyak orang. Agar setiap rumah tangga yang sedang berada diujung tanduk mau mengkaji ulang setiap permasalahan yang ada dengan membawa serta Allah di dalamnya. Agar rumah tangga yang retak mau memikirkan lebih dalam lagi tentang pentingnya membawa Allah dalam kehidupan pernikahan. Dan juga mungkin agar bagi yang sudah terlanjur berpisah seperti saya bisa memperbaiki diri dan memiliki keluarga yang lebih baik di pernikahan selanjutnya….

Semoga kita semua selalu diberi berkah dan rahmat yang berlimpah oleh Allah SWT.

Semoga kita semua tidak pernah lelah untuk berusaha keras menjadi hambaNya yang terpilih.

Mari merayakan cinta dalam keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, hingga akhirnya diijinkan Allah untuk berdiam di surga firdaus bersama-sama pasangan kita.

Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

*terima kasih, Ya Allah untuk segala ilham yang telah kau berikan kepadaku….

Kanya Puspokusumo 2013

NB: Judul tulisan ini « Mari Merayakan Cinta (2) », karena sebelumnya saya pernah menulis tentang kehidupan single parent dengan judul yang sama pada tahun 2009.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :