KARIN

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Karin

Tuanku menamaiku si Awan, karena buluku putih seperti Awan. Aku hanya seekor kucing keturunan angora yang senang berjalan dari genting rumah yang satu ke genting rumah yang lainnya. Aku lebih senang berjalan di genting rumah karena dari atas sini aku dapat lebih luas melihat dunia sekelilingku.

Sangat banyak yang dapat kulihat; aku dapat melihat si kecil Ari mencuri mangga di pekarangan Ibu Dion, aku dapat melihat Ibu Hasnah bergosip dengan Ibu Sumi dan Ibu Angga, aku dapat melihat Pak Ramdhan diam-diam melambai genit pada Dina, seorang perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah tuanku. Namun… tak ada pemandangan yang lebih menarik daripada seorang perempuan muda yang setiap jam enam pagi termangu di balik jendela rumah yang berada tepat di seberang rumah tuanku.

Perempuan itu bernama Karin. Dia tinggal di kamar itu sejak satu bulan yang lalu. Dia tidak cantik. Biasa saja. Tapi kelihatannya dia baik. Aku sering melihatnya membelai anjing Pak Dion, membelai kucing-kucing kampung yang dekil dengan kasih sayang dan memberi mereka makan.

Setiap jam enam pagi, selalu ada ritual yang sama. Karin membuka tirai kamarnya yang berada di lantai dua, sudah dalam keadaan rapi berpakaian kerja. Lalu dia duduk termangu di balik jendela. Kadang-kadang dia melihat kepadaku sambil tersenyum. Aku pernah sekali melihatnya tertawa terbahak-bahak ketika monyet Pak Rusdi lepas dan mengejarku hingga aku mengeong-eong ketakutan. Tapi selebihnya, yang kulihat adalah wajah muram, seperti digayuti awan mendung. Kadang-kadang awan itu semakin gelap, dan kulihat dia mulai terisak. Dia baru berhenti menangis ketika telepon genggamnya berbunyi. Kata tuanku bunyi seperti itu artinya ada SMS. Aku tidak tahu apa itu SMS. Tapi setiap dia menerima SMS itu, dia langsung menghapus semua air matanya, dan menghilang dari balik jendela. Dan tak lama kemudian datang sebuah mobil dengan seorang laki-laki di dalamnya; menjemput Karin.

Aku tidak tahu apakah laki-laki itu mampu melihat sisa-sisa tangis Karin setiap pagi atau tidak. Tapi karena sepertinya Karin pun selalu berusaha tak memperlihatkan kesedihannya pada laki-laki itu dengan memasang topeng keceriaan, maka aku tak kan menyalahkan laki-laki itu jika dia tidak mampu melihat kesedihan Karin dibalik tawa cerianya.

Hampir setiap hari Karin pergi bersama laki-laki itu dan selalu baru muncul kembali setelah gelap. Kadang-kadang laki-laki itu yang kembali mengantar Karin pulang, kadang-kadang Karin pulang sendirian.

“Ritual” tersebut terus berlangsung hampir setiap hari, hingga akhirnya aku merasa harus mengetahui ada apa sebenarnya dengan Karin.

*****

Hari itu hari Minggu, Karin tidak pergi ke kantor. Namun pagi itu pun dia masih tetap termangu di balik jendela. Dia baru menghilang dari balik jendela satu jam kemudian. Saat itulah aku memberanikan diri memasuki kamarnya melalui jendela yang terbuka. Kamar itu sepi, hany ada debur suara air di kamar mandi. “Rupanya Karin sedang mandi,” kataku dalam hati. Aku lalu melihat ke sekeliling kamar. Kamarnya biasa saja, tak semewah kamar tuanku. Namun keadannya sangat rapi dan bersih. Tak ada televisi. Di meja, hanya kulihat tumpukan buku dan sebuah laptop dalam keadaan menyala. Sepertinya Karin sedang menulis… Sayang, aku tak bisa membaca, jadi aku tak tahu apa isi tulisannya…

Beberapa menit kemudian, Karin keluar dari kamar mandi. Untuk sesaat dia tampak terkejut melihatku, tetapi kemudian sedikit demi sedikit wajahnya berubah gembira. Aku pun lalu menggelendot manja di kakinya. Sikapku membuatnya segera menggendong dan mengelus-elusku sambil berkata, “Halo, kamu kucing yang selalu ada di atas genting rumah di seberang itu ya…”

Aku mengiyakan dengan eongan panjang yang tentunya tak kan pernah dimengerti oleh Karin.

Kemudian Karin berkata lagi, “Mengapa kau selama ini lebih suka berada di atas genting? Siapa namamu? Mmmm…. aku namakan kamu Joseph ya!”

Aku kembali mengeong, aku bilang namaku Awan. Tapi tentu saja Karin tak mengerti ucapanku. Jadi aku membiarkan Karin memanggilku dengan nama Joseph. Lalu Karin pun melanjutkan kata-katanya,

‘Kau tahu, Joseph adalah nama sahabatku yang paling baik. Dia selalu berada di sisiku ketika aku dalam kesulitan, bukan hanya ketika aku senang. Ketika aku berbulan-bulan terjebak di kursi roda, hanya dia yang setia menemaniku. Ketika semua orang memfitnah dan menghujatku, hanya dia yang mau percaya. Ketika aku terpuruk dan terjatuh penuh luka, hanya dia yang mau mengangkatku dan melindungiku dari jalan berbatu tajam. Sayang, Tuhan menjemputnya begitu cepat, dan sampai kini aku belum mendapat penggantinya lagi. Kau tahu, kebanyakan manusia hanya ingin mengambil keuntungan dariku… Mereka tak pernah benar-benar peduli pada sosok Karin itu sendiri. Tak pernah ada yang benar-benar mau menerimaku apa adanya. Kadang aku lebih senang pada kucing sepertimu daripada manusia. Manusia selalu berbuat keji padaku dengan berbagai cara. Sedangkan kamu, yang kamu perlukan hanya makan kenyang dan kasih sayang. Kamu tak kan pernah mampu memikirkan bagimana caranya menyakiti aku sampai hancur, kan?”

Aku lagi-lagi hanya bisa mengeong. Ya, aku memang tak bisa berpikir untuk menyakiti batin manusia. Yang bisa aku lakukan palling-paling hanya mencakar dan menggigit manusia yang menggangguku, atau hanya membuat manusia marah karena aku telah mencuri makanan di meja makan.

Setelah berkata begitu, kulihat Karin terdiam. Matanya menerawang, lalu perlahan-lahan di matanya tampak kaca-kaca bening yang semakin lama semakin menelaga dan akhirnya meleleh menjadi air mata. Dia menangis lagi. Aku meletakkan tanganku di wajahnya; berusaha mengusap air matanya. Karin tampak terkejut dengan perbuatanku.

« Hai, kamu mengerti ya bahwa aku sedang sedih? Pintar sekali. Tuanmu tentu sangat sayang padamu ya. Ah! Aku jadi ingin tahu siapa namamu yang sebenarnya. Kamu pasti punya nama yang manis. Kau tunggu sebentar di situ ya, » kata Karin sambil berdiri dan meletakkanku di lantai. kemudian kulihat Karin mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di kertas itu, lalu mengikatkannya di kalung leherku.

« Nah, sekarang kamu pulang dulu. Bawa kertas ini ke tuanmu, » kata Karin sambil menggendongku dan mengeluarkanku dari jendela.

Aku kemudian berjalan pulang. Sesampai di rumah, aku melihat Marco, tuanku, sedang membaca koran. Aku segera menghampirinya dan menggelendot manja pada kakinya. Ketika menyadari aku ada di dekatnya, Marco segera berhenti membaca koran, dan kemudian dia menggendongku. Saat itulah, dia langsung melihat kertas yang diikatkan Karin di kalung leherku.

« Apa ini? Kau dapat dari mana? » tanya Marco. Dan aku pun hanya mampu menjawab dengan eongan panjang…. Marco membuka kertas itu dan membacanya. kemudian dia berkata sambil tertawa geli,

« Kau tadi main ke mana saja? kau pasti turun dari genting dan berjalan-jalan ya? Siapa Karin? Tapi sepertinya dia suka kucing ya? Lihat, dia menanyakan namamu. Katanya kau kucing yang paling manis yang pernah dilihatnya. Hmm… Baiklah, akan kuberitahukan namamu padanya. Besok, kau bawa surat balasanku pada Karin ya! »

Esoknya, aku mengasi-ngais pintu depan pada jam setengah enam pagi. Marco segera mengikatkan secarik kertas di kalung leherku dan membukakan pintu depan. Begitu pintu terbuka, aku melesat ke rumah Karin di seberang jalan. Kulihat Marco memperhatikanku kemana aku pergi. Sesampai di seberang, aku segera memanjat pohon dan menunggu di depan jendela karin di lantai dua. Tepat jam enam pagi, Karin membuka jendela, sudah rapi berpakaian kerja. Dia tampak gembira melihatku. aku segera digendongnya masuk kamar.

« Ah, kamu sudah sampaikan suratku ya? Ini balasannya kan? Coba kulihat, siapa namamu sebenarnya? Aaaaa, namamu Awan. nama itu memang sangat cocok dengan warna bulumu, » kata Karin sambil tertawa kecil.

« Hmmm… tuanmu namanya Marco, dan dia tinggal di…. Astaga! Kamu kucing milik pria di rumah depan yang setiap pagi duduk di teras itu! » seru Karin.

Setelah itu Karin bergegas menghampiri jendela sambil menggendongku, dia melihat ke arah rumah Marco. Marco ada di sana, berdiri di teras rumah sambil tersenyum memandang Karin. Dia melambai pada Karin. Karin membalas lambaian tersebut sembari berseru,

« Kucingmu lucu dan pintar sekali! kau pun pandai memberinya nama. »

« Ya, terima kasih, » seru Marco. Lalu kulihat Marco memberi isyarat agar Karin turun dan keluar dari rumahnya. Karin pun kemudian turun sambil menggendongku. Ketika Karin ke luar rumah, kulihat Marco sudah berdiri di depan pintu pagar rumah karin sambil tersenyum.

« Apa kabar, Karin. Senang berkenalan denganmu, » kata Marco sambil mengulurkan tangannya. karin membalas uluran tangan Marco dan berkata sambil tersenyum, « Apa kabar juga. Senang berkenalan denganmu juga. »

« Tampaknya kau menyukai kucing ya? » tanya Marco.

« Ya. Aku sangat kucing. Di rumah orang tuaku di Bandung, aku memiliki 11 ekor kucing! » jawab Karin sambil tertawa lepas.

« 11??? » seru Marco dengan wajah tercengang

« Ya, 11. » jawab Karin.

Pembicaraan mereka terhenti ketika laki-laki yang setiap hari menjemput Karin tiba. karin pun berpamitan pada Marco.

marco menatap ke arah mobil yang menjemput Karin sampai menghilang di kelokan. Kemudian dia menggendongku masuk rumah sambil berkata,

« Menurutmu dia manis tidak? Tapi sepertinya dia memiliki banyak beban dalam dirinya ya? Dan menurutmu, siapa laki-laki itu? Kekasihnya? »

Aku hanya mengeong-eong. Aku sendiri pun tak pernah tahu persis siapa laki-laki itu. Tapi yang membuatku sangat terkejut, bagaimana tuanku bisa melihat bahwa sebenarnya karin memiliki beban yang sangat berat dalam dirinya? Padahal Karin kan pagi itu tidak menangis…

*****

Sejak pagi itu, ritual pun berubah. Karin sepertinya tak sempat lagi menangis karena Marco setiap pagi mengunjunginya. Namun, mereka tak pernah bicara cinta. Mereka hanya bicara tentang kucing! Padahal aku tahu bahwa sedikit demi sedikit perasaan cinta itu mulai menyelimuti mereka berdua. Mereka sendiri yang bicara padaku. Sayangnya, mereka bicara padaku tentang perasaan saling mencintai tersebut di tempat yang berbeda. Karin berbicara tentang cintanya pada Marco di kamarnya, dan Marco pun berbicara tentang Karin di rumahnya sendiri.

Huh! Dasar manusia! Untuk apa mereka bicara padaku tentang perasaan mereka yang saling mencintai?! Toh, aku tak bisa menyampaikan kata-kata cinta itu pada mereka masing-masing. Aku tak bisa menyampaikan kata-kata cinta Karin pada Marco, demikian pula sebaliknya. Aku hanya bisa mengeong. Mengeong dan mengeong! Dan hal itu berlangsung terus selama berbulan-bulan hingga kata-kata cinta itu pun akhirnya hanya menjadi sekumpulan kata yang tak berguna, terabaikan, dan menjadi bahan penyesalan bagi Marco di kemudian hari….

*****

Hari itu Karin pulang larut malam. Sendirian. Dia pulang sambil tak henti-hentinya menghapus air mata yang berlelehan. Aku menduga bahwa dia membutuhkan bantuan. Aku ingin memanggil Marco, namun Marco sudah tidur. Tuanku memang selalu tidur cepat, seperti bayi. Biasanya aku tak peduli dengan kebiasaan Marco, namun kali ini aku kesal sekali.

Aku segera berlari ke rumah Karin. Aku berusaha masuk ke kamarnya, namun Karin tak mengijinkanku. Aku akhirnya hanya bisa mengais-ngais pintu kamar Karin tanpa hasil. Tak lama, kudengar suara Karin berbicara dengan seseorang sambil menangis. Sepertinya Karin sedang menelepon seseorang…. Lalu, beberapa menit kemudian… kamar Karin pun senyap.

Aku menunggu di depan pintu kamar Karin hingga pagi. sesekali aku mengeong sambil mengais-ngais pintu. namun Karin tetap tak mau membukakan pintu.

Esok paginya, Karin membuka pintu dan muncul di hadapanku dengan mata yang sangat sembab. Ketika dia melihatku, dia menyapaku dengan nada yang begitu sedih walaupun tampaknya dia berusaha keras untuk tetap tersenyum, « Halo Awan, apa kabarmu hari ini? Awan… maafkan aku ya, karena mungkin aku tak bisa berlama-lama mengelusmu lagi. Dan seandainya kamu bisa bicara, aku sangat ingin kamu menyampaikan pada Marco bahwa mulai hari ini aku pun tidak bisa menemuinya lagi. Lebih baik begitu, Awan. Saat ini hanya dia satu-satunya laki-laki yang belum kubenci, namun aku yakin semua itu hanya tinggal menunggu waktu sebelum dia pun akhirnya menyakitiku dengan kata-kata keji…. sama seperti orang lain… sama seperti semua manusia yang selama ini senang menghancurkan hatiku berkeping-keping hingga kepingannya begitu sulit untuk dipungut lagi. »

« Awan…. orang bijak berkata, bahwa aku seharusnya menggantungkan semua hal pada Tuhan. Jangan pernah meminta dukungan pada manusia. Namun, jika aku hanya harus bergantung pada Tuhan, lalu untuk apa sebenarnya Tuhan menakdirkan aku untuk hidup dan berada di sekeliling orang yang katanya menyayangiku namun tak pernah benar-benar menunjukkan kasih sayangnya itu padaku?? Jika Tuhan sudah cukup bagiku untuk merasa bahagia, lalu untuk apa sebenarnya diciptakan cinta dalam hati manusia? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan? Untuk apa seseorang memiliki kekasih? Untuk apa seseorang memiliki istri? Untuk apa seseorang memiliki suami? Jika Tuhan satu-satunya tempat bergantung, bukankah akan lebih praktis jika aku hidup sendirian saja; tak usah punya suami, tak usah punya teman, tak usah punya sahabat….. Atau jika hanya Tuhan yang pantas dirindukan, mengapa Tuhan tak segera mengambil nyawaku saja, Awan? Aku rindu bersama sesuatu atau seseorang yang mampu membuatku merasa aman dan tenang. Aku sudah lelah, Awan…. Sangat lelah dengan semua kehidupan yang harus aku jalani. Aku lelah, tanpa pernah ada yang mau benar-benar mengerti kepenatanku. Tak ada yang benar-benar mau mengerti hatiku yang compang-camping dan semakin compang-camping saja dari hari ke hari. Dan jika bahagia adalah bersama Tuhan, mengapa aku harus terus hidup? Awan…. Tolong aku…. aku bingung, sakit, dan lelah…. »

Setelah mendengar kata-kata Karin, aku mengeong-eong dengan keras mencoba menjawab semua pertanyaan Karin. Aku juga mengeong dengan keras untuk menjelaskan bahwa Marco tak sama dengan semua manusia yang pernah menyakiti Karin. Aku yakin Marco akan mampu membahagiakan Karin seperti yang dia mau. Namun lagi-lagi semua eongan itu percuma. Karin tak mengerti bahasaku.

Setelah itu, kurang lebih dua minggu lamanya, Karin tak pernah mengijinkanku masuk ke kamarnya lagi. Jendela kamarnya tak pernah terbuka lagi. Tirai jendela itu selalu tertutup. Karin pun tak mau menemui Marco lagi. Aku dan Marco hanya bisa memandangnya ketika Karin keluar dari rumah untuk pergi ke kantor, atau ketika dia pulang kantor…

Dan akhirnya di suatu hari Minggu…. Karin tak pernah lagi terlihat…

*****

Lima hari kemudian, dari dalam kamar Karin mulai tercium bau amis yang sangat menyengat. Penduduk di sekitar rumah Karin, termasuk Marco, ramai-ramai mendobrak pintu kamar Karin. Dan ketika pintu itu terbuka, kulihat Karin tertidur di ranjangnya dengan tangan berlumuran darah yang telah mengering. Di meja, laptop dalam keadaan menyala. Disamping tubuhnya tergeletak sebuah buku harian yang terbuka. Orang-orang berebutan membacanya. Aku tak sepenuhnya mengerti apa yang mereka temukan dalam buku harian dan laptop Karin. Yang bisa aku tangkap hanyalah kalimat-kalimat yang pernah Karin ucapkan padaku. Tentang kelelahannya, tentang beban yang menghimpitnya, tentang kesedihannya yang sangat dalam….

Dan kulihat Marco berdiri di pojok kamar Karin dengan wajah sangat terpukul…

******

Aku mungkin hanyalah seekor kucing… Namun hari ini aku mampu mengambil pelajaran… Seringkali manusia menyepelekan segala sesuatu yang sebenarnya berharga. Marco menyepelekan waktu dan kesempatan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan cintanya pada Karin. Dia mengira selalu akan ada cukup waktu untuk bicara cinta pada Karin. Padahal tak ada seorang pun yang tahu tentang hari esok; apakah hari esok kita masih sempat membahagiakan orang-orang yang kita kasihi atau tidak. Dia menangguhkan semuanya hingga terlambat.

Demikian pula Karin. Karin menyepelekan kesempatannya untuk hidup. Hidup memang bisa jadi sangat melelahkan dan menyakitkan. Semua manusia di sekitar Karin mungkin memang tak pernah benar-benar ada yang mau memahaminya, namun hidup tetaplah hidup… Hidup selalu berharga untuk terus diperjuangkan, walaupun perjuangan itu mungkin memang harus dilakukan sendirian…

« Dans le veritable amour,

c’est l’ame qui enveloppe le corps….. »

Jakarta – Awan, 2007

From Antologi Cerpen 2004 – 2007

Dedicated to JMF, thanks for being my best friend

and loving me with the unconditional love….

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :