DUNIA SUPRANATURAL DI JEPANG

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

1. Mitos versus Logos

Di mata dunia, Jepang sekarang lebih dikenal sebagai negara industri yang semata-mata mendewakan logos (ilmu), teknologi dan rasio, sama seperti umumnya negara-negara industri di Barat. Religi dan kepercayaan pada dunia supranatural sering menjadi sesuatu yang terpisah dan dikesampingkan sampai batas terluar dari kehidupan manusia. Banyak orang Jepang tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa dirinya tidak beragama dan tidak percaya dengan segala macam yang berbau supranatural. Tetapi benarkah demikian? Benarkah religi dan kepercayaan pada dunia supranatural telah sama sekali lepas dari kehidupan mereka?  Saya pikir tidak. Jika mereka memang sangat tidak percaya dengan hal-hal supranatural, mengapa banyak rumah sakit yang tidak mempunyai lantai empat atau kamar nomor empat? Mengapa angka sembilan dianggap sama sialnya dengan angka empat?  Angka 42 dan 420 pun seringkali dihindari hanya karena berbunyi shi-ni (mati) dan shi-ni-rei (roh orang mati). Hal tersebut menunjukkan bahwa dibalik pengakuan ketidakberagamaannya, bahwa dibalik pemujaannya pada logos, masyarakat Jepang seringkali masih memiliki kepercayaan kuat pada hal-hal supranatural yang berbasis agama (terutama agama Shinto, Budha), mitos, dan tahyul.

Aum Sanrikyō adalah sebuah contoh lain bahwa mitos dan logos akan selalu ada beriringan. Para ilmuwan pengikut Aum adalah orang-orang yang kosong secara rohani, tidak berhasil menemukan arti hidup, tidak berhasil menemukan jawaban dari logos (ilmu), kemudian akhirnya terpikat pada mitos-mitos yang ditawarkan Aum.

Berbeda dengan Shūsaku Endō (dalam Eigo de Hanasu Nihon no Bunka) yang mengupas masalah religi melalui agama Kristen di Jepang yang telah mengalami penyesuaian dengan akar-akar budaya Jepang, melalui tulisan ini saya mencoba mengupas religi masyarakat Jepang dari segi kepercayaan mereka terhadap dunia supranatural, terutama tentang dunia kematian dan hantu.

 

2. Dunia Supranatural di Jepang

Misteri kematian adalah sebuah fenomena yang tidak memberikan penjelasan yang rasional. Kematian adalah perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, bersatunya jasad dengan bumi, jiwa dengan ruh.

Kepercayaan terhadap hantu, ruh, dan arwah telah mengakar dalam  budaya Jepang. Kepercayaan tersebut muncul bersamaan dengan mitologi dan tahyul yang berasal dari Shinto, disamping Budha dan Tao yang dibawa ke Jepang dari Cina dan India.

Orang-orang Jepang percaya bahwa mereka dikelilingi oleh ruh hampir setiap saat. Menurut keyakinan Shinto, setelah kematiannya, seorang manusia berubah menjadi ruh, atau kadang-kadang menjadi dewa. Diyakini pula bahwa delapan juta dewa menghuni langit dan bumi—di gunung-gunung, hutan-hutan, lautan, dan di udara yang kita hirup. Tradisi-tradisi mereka mengatakan bahwa dewa-dewa tersebut memiliki dua jiwa: jiwa yang lembut (nigi-mi-tama) dan jiwa yang keras (ara-mi-tama). Ajaran Budha menambahkan dimensi baru pada kepercayaan akan ruh dan kekuatan-kekuatan supranatural lainnya. Para penganut Budha percaya akan dunia kehidupan, dunia kematian dan Tanah suci Budha. Perilaku manusia semasa hidupnya menentukan apakah ia akan menuju ke dunia kematian atau ke Tanah suci. Jika tidak ke keduanya, ia akan menuju neraka dengan segala perbuatan jahatnya.

Orang-orang Jepang juga percaya bahwa setelah kematian, ruh memiliki sifat marah dan tidak suci. Menurut keyakinan, ruh bergentayangan diantara dunia kehidupan dan dunia bayangan. Karena alasan inilah, doa-doa dibacakan untuk memastikan jalan menuju dunia kematian.Banyak upacara ritual dilaksanakan selama 7 tahun untuk membersihkan dan mempercepat perjalanan ruh. Hanya dengan cara ini orang tersebut menjadi ruh yang tenang dan tidak akan  mengganggu manusia.

 

1) Yuurei

Jika jiwa orang mati tidak suci(disucikan), ia bisa kembali ke dunia kehidupan dalam wujud Yuurei. Juga, jika seorang yang mati tidak dibersihkan dari  emosi-emosi pribadinya, seperti kecemburuan, iri hati, kemarahan, ruhnya bisa kembali dalam wujud Yuurei. Yuurei tersebut menghantui tempat dimana ia tinggal dan menghukum mereka yang bertanggung jawab pada nasib buruknya. Dan ia  akan tetap ada hingga ia dibebaskan dari penderitaannya melalui perbuatan orang yang hidup yang berdoa agar jiwa orang mati tersebut naik ke langit.

Di era Heian (794-1185), orang-orang percaya bahwa Yuurei melayang-layang diatas orang-orang yang hidup dan menyebabkan terjadinya penyakit, wabah, dan kelaparan. Di era Kamakura (1185-1333), ada kepercayaan kuat bahwa Yuurei tersebut dapat berubah menjadi binatang-binatang kecil, seperti rakun dan rubah, yang mengajak manusia berbuat buruk. Dan di era Momoyama (1575-1600) dan Edo (1603-1868) ada kepercayaan bahwa jika seseorang meninggal karena penyakit atau wabah, ia berubah menjadi Yuurei. Rezim feodal yang tiran yang ada pada masa Edo dan bencana-bencana alam yang terjadi pada masa itu, menambah serunya cerita mengenai hantu-hantu dan ruh-ruh yang jahat dan penuh dendam. Sampai akhirnya di penghujung masa Edo, peraturan-peraturan dikeluarkan untuk melarang mempertunjukan pertunjukan teater yang bertema hantu karena takut akan melemahkan pemerintahan.

Sebagian besar makhluk dalam cerita-cerita mengenai Yuurei yang tidak beruntung adalah wanita. Mereka adalah hantu-hantu yang penuh dendam; semakin besar penderitaan yang dialami wanita itu selama hidupnya, semakin jahat sifatnya.

 

2) Siluman

Siluman dalam kebudayaan Jepang berkelana di antara kehidupan dan kematian. Kadang-kadang siluman berbuat baik di dunia, dan kadang-kadang mereka merusak. Siluman memiliki kekuatan-kekuatan supranatural, tapi mereka juga memiliki kemampuan sihir untuk mempengaruhi fenomena alam. Menurut keyakinan orang Jepang beberapa diantaranya adalah akar dari semua bencana, baik yang alami maupun buatan manusia. Siluman Jepang bukan hanya jahat tetapi juga licik dan suka mempermainkan manusia (jahil).

Untuk mengusir siluman, orang Jepang biasanya melaksanakan upacara keagamaaan yang dikenal dengan nama Oniyari atau Tsuina. Di dalam upacara itu, orang-orang melempar kacang kedelai panggang ke empat penjuru sambil berteriak, “Datanglah keberuntungan. Pergilah siluman!” (Fuku wa uchi, Oni wa soto!)

Di era Edo, mereka mulai menggunakan figur siluman sebagai alat sindiran atau humor. Figur yang terkenal pada masa itu adalah  Netsuke. Ini adalah sebuah satire bagi warga kelas atas sekaligus untuk menghina peraturan-peraturan feodal.

 

3) Oni

Dalam kebudayaan jepang ada kisah-kisah tentang makhluk supranatural yang disebut Oni. Para pelukis umumnya menggambarkan Oni sebagai wujud yang bertanduk dan bercelana harimau. Ia tidak berleher, tapi berambut kaku dan bermulut besar; jari-jarinya bercakar, dan tangannya memegang gada besi.

Menurut kepercayaan Budha, ada bermacam-macam Oni. Oni bumi yang berbaju merah bertanggung jawab atas penyakit dan wabah. Oni neraka yang berbadan merah atau hijau memburu para pendosa dan membawa mereka dengan kereta menuju ke Emma-Hoo (dewa neraka).

 

4) Tengu

Makhluk supranatural lain yang penting adalah Tengu. Tengu adalah makhluk mitologi yang tinggal di hutan-hutan gunung. Gambaran artistik Tengu sangat beragam, dari makhluk berjanggut yang gempal hingga makhluk yang berhidung bulat dan besar. Menurut cerita, setiap orang yang memasuki wilayah Tengu bisa masuk ke dalam situasi yang aneh dan tidak menyenangkan. Tengu dapat mengubah dirinya menjadi manusia (laki-laki, perempuan, atau anak-anak) berwajah jelek dan mereka menggoda orang-orang dengan segala macam trik kotor mereka. Mereka dapat menghilang secepat mereka muncul. Beberapa kepercayaan kuno menggambarkan Tengu sebagai makhluk perang dan konflik. Kadang-kadang tindakan mereka dalam legenda digambarkan munafik. Para pelukis menggambarkan mereka sebagai manusia berkepala burung denganh sayap terbentang dan kaki bercakar.

Hingga abad ke-14, Tengu selalu digambarkan jahat, tetapi lama kelamaan gambaran tersebut berubah. Tengu dapat juga menjadi roh yang baik.Contohnya, dalam banyak cerita, Tengu digambarkan dapat mengatasi sifat jahatnya.

Dalam kepercayaan Budha kemudian Tengu menjadi pembimbing para Biksu dalam memahami Dharma dan ritual suci, serta melindungi kuil Budha.

Pada abad ke-18 dan 19, Tengu dianggap sebagai dewa gunung. Sebagai penghormatan pada Tengu, biasanya mereka memberi sesajen. Sesajen ini juga diberikan agar para penebang kayu dan pemburu berhasil dalam pekerjaannya.

Keyakinan akan dewa Tengu berlanjut sampai sekarang, tetapi saat ini mereka menghormati dewa Tengu hanya sebatas dengan cara menyelenggarakan festival keagaamaan.

 

3. Simpulan

Secanggih apapun teknologi yang dimiliki suatu bangsa, sekeras apapun mereka menampik segala sesuatu hal yang bersifat transendental, akan selalu ada saatnya manusia kembali berpaling kembali pada religi, mitos, dan tahyul. Karena teknologi (bagaimanapun) lama-lama akan dirasakan kurang untuk menjawab hal-hal yang tidal terjangkau rasio. Di Jepang pun demikian. Aum Sanrikyō adalah sebuah contoh dari hal tersebut. Para ilmuwan pengikut Aum adalah orang-orang yang kosong secara rohani, tidak berhasil menemukan arti hidup, tidak berhasil menemukan jawaban dari logos (ilmu), kemudian akhirnya terpikat pada mitos-mitos yang ditawarkan Aum.

Kepercayaan orang Jepang terhadap dunia supranatural seperti yuurei, yookai, oni, dan sebagainya pun menjadi bukti bahwa mitos dan logos akan selalu ada beriringan sepanjang jaman.

Dengan kata lain, pada saat tertentu kita bisa mengabaikan religi, mitos, dan tahyul, tapi tidak akan sepanjang hidup kita. Ada saat-saat teknologi dan religi saling mendukung satu sama lain.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :