SERATUS BURUNG BANGAU

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Bekerja, menjadi wanita karir, dan berada ratusan kilometer dari rumah dan anak sebenarnya tidak pernah menjadi impian hidup saya. Impian saya dulu (mungkin konyol kedengarannya!) adalah menjadi seorang ibu rumah tangga, mengurus rumah, mengurus anak-anak dan suami. Jika pun ada pekerjaan/karir yang saya lakukan, saya ingin melakukannya di dan/atau dari rumah, dan jika pun saya melanjutkan sekolah saya setinggi-tingginya, semua itu akan saya lakukan semata-mata untuk mencari ilmu saja, agar saya bisa lebih pintar dan lebih bijak dalam hal apapun dan agar saya mampu melakukan semua hal yang sudah menjadi tugas saya sebagai manusia dan perempuan.

Tetapi ternyata kita memang tidak akan pernah tahu apa rencana Tuhan bagi setiap makhluknya. Kadang-kadang kita hanya bisa menginginkan tanpa pernah bisa mendapatkan. Hingga kini, saya belum pernah bisa mewujudkan impian tersebut. Ketika menikah, sayalah yang harus menanggung 90% beban keluarga inti sebagai tulang punggung keluarga, bukan suami saya. Dan ketika akhirnya saya menjadi ‘single parent’, peran saya pun semakin banyak. Saya harus menjadi ibu sekaligus ayah, dan harus semakin giat untuk mencari semua biaya kehidupan saya dan anak saya. Sekarang, bahkan saya terpaksa bekerja ratusan kilometer jauhnya dari anak saya, dan hanya bisa menemuinya paling sedikit satu bulan sekali saja….

Jika saya terfokus pada ‘tidak enaknya’ kehidupan yang harus saya lalui sekarang karena terpisah begitu jauh dengan anak dan mengerjakan hal-hal yang lebih banyak tidak saya sukai, mungkin saya tidak akan pernah bisa merasa bahagia. Tapi saya tahu bahwa kadang-kadang kebahagiaan itu sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri dari semua keterbatasan yang kita miliki, dan saya juga percaya bahwa dibalik hal-hal yang tidak saya sukai, tentunya tetap ada karunia Tuhan yang sangat besar untuk saya.

Saya menganggap karunia Tuhan terbesar untuk saya adalah Rayhan, anak saya. Tuhan telah memberi saya seorang anak yang Insya Allah shalih, yang mungkin belum tentu dimiliki oleh ‘keluarga-keluarga ideal’ (=keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak dalam satu rumah, dimana si ayah mencari nafkah dan si ibu menjadi ibu rumah tangga). Empati dan perhatiannya yang begitu besar terhadap sesama, kadang membuat saya takjub sendiri. Kasih sayangnya yang sangat besar terhadap saya dan sesama makhluk pun seringkali membuat saya menangis bahagia.

Perhatian dan kasih sayangnya itu ditunjukkan dengan berbagai macam bentuk; kadang-kadang berupa sebuah pesan singkat yang mampir di telepon selular saya hampir setiap hari… “Ibu lagi sehat kan?”, “Ibu pulang kerjanya jangan malem-malem, nanti sakit”,  kadang-kadang juga berupa email yang menceritakan kegiatannya sehari-hari.

Selain itu, Rayhan pun mempunyai  kebiasaan untuk memberi kejutan setiap kali saya pulang ke Bandung.  Biasanya setiap saya pulang ke Bandung, di atas meja (di kamar) saya sudah ada sepucuk amplop berisi gambar atau kartu ucapan yang dibuatnya sendiri, atau sebuah vas kecil berisi bunga-bunga yang dia petik sendiri dari taman rumah. Pernah pula ada sebuah batu kali agak besar yang dia tulisi dengan kapur berwarna. Di sisi yang satu ada gambar 2 orang, di bawah gambar orang tertulis kata “Ibu” dan “Ade”; sedangkan di sisi yang lain tertulis “Ade sayang Ibu” (Saya masih menyimpan semua benda-benda itu dengan baik. Tidak ada satu pun yang saya buang walaupun benda tersebut kadang-kadang hanya berupa secarik kertas….).

Dan jika saya kebetulan kambuh sakit di Bandung, dia akan sibuk membuka-buka buku karangan saya “Living with Multiple Sclerosis” untuk mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk saya, menyelimuti saya yang sedang kesakitan, menawari saya minum obat, membawakan saya air minum, dan akhirnya tertidur disamping saya sambil memeluk saya erat-erat (seolah dia hendak memastikan bahwa ibunya akan menjadi lebih baik kondisinya jika dia peluk seperti itu).

Dari semua bentuk perhatian dan kasih sayangnya itu, ada satu hal yang menurut saya nilainya tidak akan pernah terbayarkan oleh apapun di dunia ini; yaitu ketika dia dengan susah payah membuat seratus origami (jumlahnya benar-benar seratus!) berbentuk burung bangau, dan meletakkannya di tempat tidur saya. Di dekat seratus origami itu ada sebuah karangan singkat berbahasa Inggris berjudul “MY MOM”.

Karangan itu berbunyi,

“My Mom got MS. She said she wouldn’t lose MS until they find the cure. It made me want to be a doctor and find the cure right away. Sometimes mommy has trouble of walking. But I told her I will help her to walk. I love my mom a ton for who she is and I hate MS for what is. Don’t worry mommy, I will find the cure.”

Setelah membaca karangan itu, untuk sesaat saya hanya bisa terdiam dengan perasaan yang campur aduk antara sedih sekaligus bahagia. Saya sedih karena sepertinya penyakit saya telah membuatnya sangat kuatir dan telah membuatnya memikirkan saya sepanjang waktu, namun saya juga sangat bahagia karena saya tahu tidak banyak orang (apalagi seorang anak kecil berusia 8 tahun) yang mampu menerjemahkan kasih sayang luar biasa besar kepada ibunya dengan cara seindah itu.

Seratus origami burung bangau pun mempunyai makna yang sangat dalam. Saya sangat mengerti alasan Rayhan membuat seratus burung bangau tersebut. Dia benar-benar ingin ibunya sembuh. Dia telah meniru sebuah cerita anak-anak dari Jepang yang sering saya bacakan sejak dia masih sangat kecil. Dalam cerita itu, ada seorang anak yang menderita sakit tak tersembuhkan, dan konon jika dia bisa membuat seribu origami burung bangau, maka anak itu akan sembuh. Saya ingat saat itu Rayhan bertanya kepada saya dengan mimik serius apakah jumlahnya benar-benar harus seribu. Saya menjawab bahwa seratus pun mungkin tidak apa-apa jika ditambah dengan berdoa sekuat tenaga kepada Tuhan….

Dengan memiliki anak seperti Rayhan, saya merasa semua kesulitan dan impian saya yang belum pernah tercapai bukanlah sesuatu yang harus membuat saya kecewa, melainkan menjadi rasa syukur luar biasa kepada Tuhan, karena sebagai gantinya Tuhan telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sejuta hal yang pernah saya inginkan dan impikan di dunia ini.

……. Alhamdulillah…..

Karawang, Mei  2007

(Mudah-mudahan Tuhan suatu saat memberi saya kesempatan untuk bisa bekerja di kota yang sama dengan tenpat anak saya tinggal…. Amin)

4 Réponses to “SERATUS BURUNG BANGAU”

  1. wah.. anak yang manis.. saia gag sengaja ke blog ini waktu nyari artikel bikin origami bangau.. tapi, nemuin kisah ini.. >_<

    pasang sekalian foto si kecil juga, psati lebih cantik ngehiasin blognya.. :3

    J'aime

  2. mbak tolong di buatkan lambang gambar bangau (kartun) yang lagi pasang, yang gambarnya seperti lambang kungfu? tolong di buatkan ya mbak? dan pyn kirim ke alamat facebookq di atas?

    J'aime

  3. waahhh.. terharu sekali bacanya. anaknya ibu sangat manis.. >.<

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :