PUISI-PUISI KANYA DEVI 2

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

KAKUMEN NO KOKUHAKU*)

Bagai tabir yang menutupi ruang yang tak tersibak,

kututupi wajah hati yang tak ingin tersingkap,

kuciptakan imaji bagai pantun sebelah yang bersampir namun tak bermakna,

pun kutampilkan sebuah raut yang seringkali

tak sama dengan rasa,

Lalu kubiarkan mereka menilaiku sesukanya….

Ada yang menghujat,

Ada yang membenci,

Ada yang memuji,

Ada yang memuja,

Ada pula yang diam….

Dan dari balik tabir,

kusambut mereka dengan satu jawab :

“Apapun katamu aku tak peduli,

Aku hanya mencintai Tuhanku, dan biarlah hanya Tuhan yang Tahu…..”

Suntec City, 2006

*) Kakumen No Kokuhaku (Pengakuan Sebuah Topeng); meniru judul novel karya

Yukio Mishima, novelis berkebangsaaan Jepang

LIMAHARI DALAM LELAP

Lima hari dalam lelap,

Seribu tanya memenuhi mimpi

Seribu jawaban kutemukan di atas langit

Namun jawaban seringkali tak bisa kusampaikan

Tuhan berusaha memberi tahu,

Aku mengerti… Dan bersujud penuh keyakinan,

Namun seringkali mereka tak mau tahu….

Lalu kabar dan jawab pun akhirnya tak pernah tersampaikan…

MALAM SERIBU BULAN

“Tuhan, Kaulah segala Maha”

Maka kuseru saja namaMu tanpa kecurigaan dalam

ruang dan waktu yang Kau rentang tak berbatas

Sembari meniti bulir-bulir tasbih…. satu demi satu….

Hingga Seribu. Dua ribu…… Sepuluh ribu?

Lalu aku pun tiba-tiba terhenyak pada satu titik,

Kusadari ada cahaya dalam Kursi-Mu yang Maha Agung

Cahaya yang sebelumnya tak pernah dapat kusingkap

Cahaya yang bercerita bagai perjalanan angin yang

meniup rumput-rumput padang

dengan kelembutan dan kesyahduan yang bermuara pada

segala Maha….

Saat itu…

dengung talkin sejuta bibir pun tak kan lagi cukup ‘tuk

sampaikan kesetiaan dan kepasrahanku padaMu

KeindahanMu pun tak kan pernah cukup terjabarkan

Mungkin….

hanya QALBU yang

dapat memahami semuanya dalam diam….

Hanya dalam diam…..

SEUSAI TAFAKKUR

Lihatlah…

Alam pun kemudian dengan rela menanggalkan pakaiannya

Membuka semua yang tertutup,

Menyingkap semua yang bertabir,

Yang ghaib jadi nyata,

Yang ragu jadi pasti,

Dan tertuju hanya pada satu makna………..

“Kebenaran hanya ada pada Tuhanku”

DIORAMA

Kuawasi dari balik dinding kaca

Kumpulan patung-patung kecil

tampilkan replika peristiwa-peristiwa yang pernah terentang pada garis masa

Ada juga patung-patungku di situ,

beberapa.

Ada tangis

Ada kebencian

Ada kekerasan hati

Lalu mengembun.

Kemudian….

Bagai sebuah metamorfosis seekor ulat bulu,

Perlahan tapi pasti,

menuju keindahan seekor kupu-kupu.

Selanjutnya…

Ada perjuangan menuju Sang pemberi rasa riang

Ada perjuangan menuju Cahaya penuh maghfirah

Kekerasan hati pun terlayu oleh Yang Maha Lembut

Lalu di ujung sana…

kulihat patung kecilku tersenyum penuh kedamaian….

TUHAN, MAAFKAN….

(Seusai takbir Iedul Fitri)

Tuhan, maafkan….

Karena sungguh ku tak senang

Karena ku tak bisa seperti mereka sambut hari fitriMu

Aku hanya mampu menyambutnya dengan tangis

Karena kesadaran telah menyeretku dalam kenyataan

Bahwa bulan penuh berkah telah berlalu

Padahal amalku belum lagi genap

Dan di hadapanku masih ada haq dan batil

Yang terus bertarung dalam diri

hingga mataku menutup abadi….

 

 

SAKRAL

(in nomine patris et

filii et

spiritus sancti

amen

 

benedict vos omnipotens

deus, pater et

filius et

spiritus sanctus

amen)

Bahasa kudus itu tak lagi terwujud di atas altar.

Karena akhirnya kuharus tempuh jalan berbeda.

Mencintai Tuhanku…

Bukan Tuhanmu.

TUHANKU MAHA TAHU


Telah kukabarkan pada alam

Tentang berita perjalanan Musa…

Ketika Musa meminta pada Khidir:

“bawa aku dan ajari aku ilmumu”

Khidir pun menjawab, “kau tak kan sabar mengikutiku”

Musa memaksa.

Maka berjalanlah keduanya….

Namun Musa rajin menyela

Menghakimi tindakan Khidir tanpa pengetahuan

Berburuk sangka.

Sampai akhirnya Khidir mengakhiri perjalanan….

Kita sering seperti Musa,

Rajin menyela sebelum waktunya,

Menghakimi tanpa pengetahuan,

Menolak kebenaran dengan pembenaran….

Kita bahkan seringkali lebih buruk daripada Musa,

menentang hanya karena ego,

membangkang hanya karena nafsu dan keinginan diri,

membutakan diri atas karuniaNya,

Padahal….

Hanya Tuhan yang tahu

apa yang terbaik untuk kita….

COSA DESIDERA?

Ketika nafsu membelit hati,

Hanya ingin yang meraja dalam kalbu

Lalu nurani pun mencoba berbisik,

“Sadarlah, ini bukan jalanmu”

“Sadarlah, Tuhan sudah siapkan jalan untukmu yang lebih baik”

Namun kadang nafsu bagai anjing tidur

Yang mengonggong dan menyerang dengan taring tajam bila terusik

Tak hendak turuti nurani

Hingga nurani kadang tercabik…. terisak….

Akhirnya, hanya kepasrahan pada DIA

Yang mampu selamatkan kembali nurani

Dan ikuti jalanNya….

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :