PRADUGA HITAM PUTIH

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

“Ni, maafin saya ya.”

“Maaf buat apa?”

“Saya sebenarnya sudah lama berhubungan dengan seseorang yang sudah beristri.”

“Lalu apa urusannya sama saya?”

“Saya tau kamu paling ga suka sama perempuan yang mau berhubungan dengan pria beristri. Saya sekarang ada di posisi seperti perempuan yang buat kamu dulu sakit hati.”

“Iya, saya memang ga suka posisi itu. Saya memang pernah tersakiti oleh posisi itu. Tapi apa urusannya pilihan hidup kamu itu dengan saya?”

“Kamu kok gitu sih jawabnya?”

“Lalu saya harus jawab  apa?”

“Saya kira kamu mau marahin saya habis-habisan dan benci saya…”

“Kita ga bisa menilai orang dengan praduga hitam putih…..”

…………

Percakapan di atas terjadi beberapa hari yang lalu antara saya dan salah satu sahabat saya yang juga menyandang status single parent.

Terus terang, ketika pertama kali mendengar ‘pengakuannya’ saya sempat tertegun juga. Ada sedikit perasaan ‘menyayangkan’ karena sahabat saya itu secara fisik cantik sekali, secara materi pun tidak kekurangan (dia memiliki 2 apartemen mewah di Jakarta yang disewakan dengan harga cukup fantastis setiap bulannya). Dengan semua ‘bekal’ itu, rasanya dia tidak akan kesulitan untuk mencari pilihan yang lebih baik daripada berhubungan dengan pria beristri yang punya resiko besar untuk menuai konflik di masa depan.

Tapi kemudian perasaan itu buru-buru saya hapus, karena saya sadar bahwa saya tidak bisa dan tidak boleh menghakimi pilihan hidup seseorang. Apalagi saya pun belum tahu alasan mengapa sahabat saya memilih jalan hidup seperti itu. Ketidaktahuan akan alasan tersebut saya pikir membuat saya menjadi semakin tidak berhak untuk memarahinya (apalagi membencinya).

Sikap yang saya pilih (untuk tidak memarahi atau membencinya) mungkin kedengarannya aneh bagi sahabat saya. Apalagi semua sahabat saya tahu bahwa saya seorang perfeksionis yang selalu menginginkan kesempurnaan dalam hidup. Hidup saya penuh dengan nilai dan prinsip-prinsip yang bagi orang lain mungkin sangat keras. Untuk hal-hal kecil, teman-teman saya bahkan sering tertawa geli jika melihat saya yang selalu tahu jika ada barang-barang di kamar saya yang letaknya berubah. Saya juga sangat senang menomori semua koleksi buku dan DVD, persis seperti perpustakaan, lengkap dengan kategorisasinya; sehingga ketika ada orang yang ingin meminjam buku atau DVD milik saya, saya tinggal menyebutkan saja bahwa buku/DVD itu ada di lemari nomor sekian. Dan jika sifat perfeksionis ini dikaitkan dengan masalah kehidupan saya: karena nilai dan prinsip hidup yang saya miliki, maka saya pasti akan lebih memilih untuk tetap menjadi single parent (walaupun harus hidup susah) daripada mengambil pilihan hidup seperti sahabat saya.

Tapi… saya perfeksionis hanya untuk diri sendiri. Saya memang mencambuk diri saya keras-keras untuk tetap ‘lurus’, memegang prinsip, dan berusaha selalu hidup terrencana di jalanNya. Sedangkan untuk hidup orang lain? No! Sejak dulu saya berpendapat bahwa hidup, pilihan hidup dan kehendak orang lain adalah selalu berada dalam lingkaran yang terpisah dari kehidupan saya. Kalaupun saya ‘berkunjung’ ke dalam lingkaran itu, posisi saya di situ biasanya hanyalah sekedar memberi variasi pandangan atau pendapat (itupun jika saya diminta memberikan pendapat, dan saya pun membebaskan apakah pendapat saya akan diikuti atau tidak).

Kemudian, pengalaman hidup pun semakin menguatkan pemikiran saya bahwa sampai kapanpun kita tidak pernah bisa menilai orang dengan dua warna saja: hitam atau putih. Selalu ada warna-warna lain yang menyertai kehidupan setiap orang, yang mungkin harus kita pelajari dan kita pahami lagi dengan lebih baik dan lebih dalam.

Saya memandang sahabat saya pun dengan cara seperti itu. Saya tidak mau melakukan penghakiman dan memberi dia label ‘hitam’ hanya karena dia sekarang memilih punya hubungan yang (menurut saya) sangat mudah menuai konflik di masa depan. Tidak. Saya tidak akan pernah lakukan itu.

Daripada melabeli dia dengan warna ‘hitam’, saya selalu lebih tertarik untuk menggali dan mendengarkan ceritanya dan menemukan warna-warna lain yang menyebabkan dia membuat pilihan hidup itu.

Kesediaan saya untuk mendengar warna-warna lain selain hitam dan putih dalam diri setiap orang yang saya temui membuat saya percaya bahwa perbedaan pandangan dan pemikiran itu seharusnya bisa dijadikan bahan untuk memperkaya jiwa dan pengalaman, bukan dijadikan bahan untuk memusuhi orang lain (seperti yang biasanya terjadi di masyarakat)….

Kesediaan saya untuk mendengar warna-warna lain selain hitam dan putih dalam diri setiap orang pun membuat saya percaya bahwa setiap manusia selalu memiliki sisi baik dan buruk secara bersama-sama. Tidak ada manusia yang 100% hitam atau 100% putih. Apakah dia itu teman saya yang ulama atau teman saya yang memilih hidup bebas sebagai gay; selain hitam dan putih mereka semua memiliki warna hijau, biru, merah, dan sebagainya, yang harus kita hargai dengan kebijaksanaan.

Tapi sebagai dasar dari semua yang saya tulis di sini, yang harus kita pusingkan dalam masalah praduga hitam putih ini mungkin bukan seberapa hitam atau seberapa putih warna yang dimiliki orang lain. Selama warna-warna milik orang lain itu tidak membuat kita hancur atau merana, biarkan sajalah mereka menyimpan warnanya sendiri-sendiri. Yang jauh lebih penting untuk kita pusingkan dalam hidup ini adalah seberapa hitam atau seberapa putihkah kita?  Sejauh mana kita sudah menjadi si putih bagi orang lain? Sudahkah warna-warna yang kita miliki menjadi ladang kebaikan dan memberi manfaat bagi makhluk hidup lain?

Kanya Puspokusumo

Maret 2009

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :