MARI MERAYAKAN CINTA

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Hampir lima tahun ‘menyendiri’ membuat lingkungan di sekitar saya begitu senang membantu saya membuatkan rencana tentang kapan dan dengan siapa saya harus menikah lagi. Setiap orang sepertinya memiliki calon masing-masing, lengkap dengan bentuk dan cara promosinya yang unik (Hahaha…).

Saya biasanya menghadapi semua itu dengan kelakar singkat “Maaf, saya marriage/duren (=duda keren) phobia”, dengan tertawa terbahak-bahak dan pura-pura ikut bingung dan heboh memilih, atau (kalau saya tidak sedang ingin berkelakar atau sedang tidak mood menanggapi ‘usaha’ mereka) dengan berkata serius “Serahkan saja sama Tuhan ya. Biarkan Tuhan yang menentukan.”

Tapi terlepas dari semua itu, ada hal yang sebenarnya menjadi dasar bagi saya untuk tetap bertahan dalam ‘kesendirian’ saya; yaitu saya belum bisa menemukan satu orang pun yang mampu meyakinkan saya bahwa dia memiliki itikad baik untuk berusaha keras menjaga hati saya serta memiliki pandangan tentang ketulusan, cinta, dan kasih sayang yang tidak jauh berbeda dengan saya.

Kesamaan pandangan (atau setidak-tidaknya mirip) tentang definisi ketulusan, dan kasih sayang menjadi poin yang sangat penting bagi saya karena saya memiliki latar belakang yang tidak terlalu bagus dalam pernikahan terdahulu. Saya sudah merasakan bagaimana sebuah hubungan akan mudah hancur jika di dalam rumah tangga itu hanya satu pihak yang berpikir dan berusaha membangun keluarga dengan baik. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa kelanggengan sebuah rumah tangga akan selalu menjadi tanggung jawab bersama, bukan menjadi tanggung jawab salah satu pihak saja.

Dengan demikian, jika pun saya harus menikah lagi, saya ingin setidaknya saya dan pasangan saya memiliki keseimbangan/kemiripan dalam memaknai ketulusan, cinta, dan kasih sayang…. Jangan sampai saya kembali memiliki cinta yang sangat besar dan dalam dengan segala kesucian dan kesakralannya, sedangkan pasangan saya hanya memiliki keinginan dan tujuan yang tidak terlalu mulia dan (sengaja atau tidak sengaja) begitu sering melukai harga diri dan eksistensi saya (terutama) secara verbal.

Kalau seperti itu lagi yang terjadi, saya yakin bahwa lambat laun saya akan ‘merasa sakit’ lagi seperti dulu….  (But no, thanks! Saya tidak mau terperosok dua kali dalam lubang yang sama!)

Well…. sosok yang memiliki keseimbangan/kemiripan dalam memaknai ketulusan, cinta, dan kasih sayang seperti inilah yang belum bisa saya temukan sampai saat ini….

Pandangan saya tentang ketulusan, cinta, dan kasih sayang, mungkin akan dianggap sebagai lelucon konyol dan kuno oleh kebanyakan orang, karena sejak dulu hingga detik ini saya ternyata masih begitu setia dengan keyakinan: Ketulusan, Cinta dan Kasih Sayang adalah kekuatan  yang mampu membuat dua orang dengan dasariah berbeda mencari segala cara untuk berkompromi secara sukarela, mewujudkan visi dan misi kehidupan yang sudah dibicarakan sebelumnya dengan cara yang baik, tanpa paksaan, dan selalu berada di jalan Tuhan . Selain itu, Ketulusan, Cinta dan Kasih Sayang sejati tidak akan pernah meminta hal-hal yang keji dan merusak orang yang dicintainya.

Penjelasannya??? Jika saya amati, yang umum terjadi dalam masyarakat sekarang adalah sebaliknya dengan keyakinan saya. Batas antara kekejian dan kebenaran seringkali semakin kabur. Cinta dan kasih sayang seringkali dijadikan alasan untuk meminta atau melakukan hal yang dimurkai Allah. Kadang-kadang cinta dan kasih sayang pun seringkali disalahgunakan sebagai alat untuk menindas seseorang dengan ratusan tuntutan yang muncul dari egonya sendiri.

Buktinya, bukankah kita begitu sering mendengar ucapan seperti ini (baik dari mulut laki-laki maupun mulut perempuan), “kalau kau sayang padaku, kau pasti akan katakan ini atau itu padaku”, atau “kalau kau cinta padaku, kau harus melakukan ini atau itu untukku”. Bukankah kalimat-kalimat itu sangat sering terdengar di antara jutaan pasangan yang ada di dunia??? Akhirnya, makna cinta dan kasih sayang menjadi lebih sempit daripada ruang dalam sebuah kotak korek api….. Akhirnya sebuah lembaga cinta dan kasih sayang menjadi tempat untuk saling menindas dan menuntut, bukan menjadi tempat untuk saling bertumbuh menuju cahaya yang hakiki. Akhirnya lembaga rumah tangga tersebut mungkin hanya menjadi sebuah kebahagiaan bagi satu pihak saja (satu pihak lagi menderita karena hanya dituntut terus tanpa pernah menerima apapun dari pihak satu lagi) atau malah menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan semua pihak yang ada di dalamnya….

Padahal menurut saya, cinta dan kasih sayang punya makna seluas alam semesta. Cinta dan kasih sayang itu tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya sendiri; meluluh bagaikan air, mengalir bagai sungai yang jernih, dapat membuat kita bangun di saat fajar dengan hati seringan awan, dan tertidur lelap di malam hari dengan rasa syukur….

Saya juga mempercayai bahwa kenyamanan dalam suatu hubungan adalah ketika membiarkan pasangan kita menjadi dirinya sendiri. Sekali lagi, kompromi-kompromi memang harus tetap ada (karena bagaimanapun perbedaan itu pasti ada. Tidak ada pasangan yang cocok 100%, kan?), tetapi kompromi itu harus lebih didasari keinginan tulus kita untuk saling membahagiakan pasangan. Kedua belah pihak sebaiknya lebih berpikir ‘apa yang dapat saya berikan’, bukan berpikir ‘apa yang dapat saya tuntut’. Kalaupun ada pihak di antara mereka yang harus mengubah sikap/perilakunya, perubahan itu harus dilakukan atas dasar jalan Tuhan, bukan dipaksa berubah berdasarkan ego salah satu pihak.

Pemikiran dan pandangan seperti ini, menurut saya, dapat membuat cinta bersih dari segala ‘kekejian’ atau pemaksaan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Dengan pemahaman ini, kita pun dengan sendirinya akan benar-benar saling menghargai, merasa aman, nyaman, dan terlindungi; sehingga pada akhirnya yang mampu memisahkan kita dan pasangan hanyalah maut….

Selain itu, saya pun berpandangan bahwa dalam hal hubungan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada istilah « Ini dunia laki-laki » atau « Ini dunia perempuan ». Yang ada hanyalah « Ini dunia kita ». Dengan kata lain, ada pemaknaan sangat mendalam bahwa dalam kerangka ketulusan, cinta, dan kasih sayang sejati tidak ada gender superior yang harus lebih diistimewakan. Ketulusan, cinta, dan kasih sayang adalah sebuah tanggung jawab bersama yang harus dipikul dan dilaksanakan oleh dua gender secara bersama-sama, bukan hanya dilakukan oleh salah satu gender saja.

Penjabarannya secara sederhana???

Ada saat-saat pundak sang suami harus rela menjadi sandaran istri di kala istri gundah, lelah atau ga berdaya. Ada juga saat-saat pundak sang istri harus rela menjadi sandaran suami dikala sang suami gundah, lelah, atau ga berdaya….

Ada saat-saat sang istri harus memanjakan suami, ada juga saat-saat suami yang harus memanjakan istri…. Istri harus memperhatikan kebutuhan suami, suami pun harus memperhatikan kebutuhan istri.

Istri bukan pembantu, suami juga bukan raja. Demikian pula sebaliknya, tidak boleh pula ada istri yang meraja atau suami yang mau jadi jongos istri… Pendeknya, Istri dan suami adalah mitra yang selalu siap bahu membahu dalam menghadapi semua permasalahan kehidupan.

Hmmm…. kalau saja dalam sebuah rumah tangga ada pemaknaan ketulusan, cinta, dan kasih sayang seperti itu, saya yakin cinta yang tumbuh dalam rumah tangga tersebut pun akan seperti sekerat kecil spons berdaya hisap tinggi yang mampu menampung air kasih sayang melebihi besar tubuhnya. Dan seperti sekerat spons, hati sang istri dan suami dalam rumah tangga tersebut pun akan mampu memancarkan kasih sayang dengan deras dan mampu membasahi setiap sel yang ada dalam hati dan jiwa masing-masing dengan kemurnian yang bisa mengantarkan pasangan tersebut pada berkat dan rahmat Tuhan yang luar biasa besarnya…..

Mereka akan mampu MERAYAKAN CINTA dengan segala keindahan cahaya Rabbani yang menyertainya…

Hmmm… indah sekali bukan kalau suami dan istri sama-sama punya kerelaan dan keikhlasan untuk berusaha keras mewujudkan hal sebaik itu???

Tapi ampyyuuuun….. kok susah banget sih menemukan orang yang mau diajak kerja sama dalam kebaikan seperti ini!!!!! Kebanyakan pitajongeun wungkul! (Hahaha….)    *sigh*

So temans, dengan tidak mengurangi rasa terima kasih atas semua usahanya…. kalau mau kenalin saya sama orang teh jangan yang nantinya menjatuhkan saya ke tempat yang sama lagi atuh…..

Wakakakakakakakssssss……

Peace ah!🙂

-Kanya Puspokusumo, April 2009

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :