CUMA LAGI PENGEN NGOCEH

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

“Apa yang kamu lakukan kalau ada sahabatmu yang melempar satu tong penuh sampah ke hadapanmu?”. Seorang teman pernah bertanya begitu pada saya lewat telepon. Dan saya dengan serta merta menjawab, “Saya akan tegur dia baik-baik dan mengatakan padanya secara baik-baik bahwa perbuatannya salah.”

Teman tersebut sejenak terdiam (mungkin dia tidak menduga saya akan menjawab seperti itu), dan kemudian membalas jawaban saya dengan nada sedikit meremehkan, “Hah! Saya sudah bisa duga kamu akan jawab seperti itu. Kalau saya sih akan sangat marah kalau ada sahabat saya yang berbuat seperti itu. Kamu payah!”

Bukan sekali dua kali saya dikata-katai payah oleh teman-teman hanya karena saya lebih memilih untuk tidak membalas dendam pada orang yang telah melanggar harga diri saya dan menghancurkan saya.

Hmmm….. tapi sebenarnya saya bukannya tidak mau marah. Saya bukan malaikat yang tidak punya rasa marah. Sebagai manusia biasa, saya juga punya segala rasa sakit hati, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya. Kadang-kadang saya pun merasakan marah sampai ke ubun-ubun. Namun, dari hasil pembelajaran atas pengalaman hidup, saya tidak melihat bahwa balas memaki-maki adalah sebuah jalan keluar yang baik. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan membuat semakin banyak pihak tersakiti. Hanya akan menambah jajaran musuh dalam hidup kita. Saya tidak ingin punya musuh. Seribu orang bisa jadi memusuhi saya dengan seribu alasan yang mungkin tidak pernah dapat saya mengerti, namun saya tidak pernah mau memusuhi siapapun. Saya tidak mau memusuhi orang yang memusuhi saya. Karena itulah, ketika mereka memaki atau menghina atau menyakiti… saya lebih suka menekan semua ego, menahan semua nafsu, mengerahkan semua kesabaran, dan sedapat mungkin mencoba menasehati orang yang menyakiti dengan cara baik-baik.  Dan kalaupun cara itu tidak berhasil, saya lebih memilih untuk menjaga jarak daripada melakukan pembalasan dendam…

Saya tidak tahu apakah sikap saya ini menunjukkan bahwa saya orang yang payah dan lemah (seperti kata teman-teman) atau bukan? Menurut mereka apalagi jika yang menyakiti adalah sahabat saya sendiri…. Masih pantaskah saya tidak membalas dendam?

Well, saya tidak akan memungkiri bahwa di dunia ini lebih dari 90% manusia dalam dirinya punya pendapat bahwa teman atau sahabat adalah pendamping disaat senang. Ketika teman atau sahabatnya susah, mereka justru akan meninggalkan sahabatnya. Mereka akan segera kabur atau cuci tangan, dan sama sekali tidak mau tahu tentang keadaan teman atau sahabatnya yang sedang terpuruk. Kadang ada juga yang berbalik bersikap jahat, bukannya membantu malah ikut serta membenamkan sahabatnya ke dalam lumpur semakin dalam. Kadang-kadang mereka membenarkan sikapnya itu dengan berlindung dibalik ayat-ayat Allah. Mereka mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran.

Saya memang sering mengalami hal itu. Saya dibenamkan ke dalam lumpur oleh sahabat saya sendiri, saya ditinggalkan justru ketika saya sangat memerlukan dukungan mereka. Tapi justru, karena saya tahu bagaimana sakitnya dibenamkan dan ditinggalkan oleh sahabat sendirilah, maka saya tidak mau melakukan hal yang sama kejinya pada sahabat-sahabat saya. Jika saya juga bersikap seperti mereka, saya akan menjadi sama jahat dan sama kejinya dengan mereka… Menurut saya, jika kita tahu bahwa teriris pisau itu pedih, maka kita tidak boleh mengiriskan pisau itu pada orang lain. Kita justru harus melakukan hal yang sebaliknya; yaitu menjaga mereka agar mereka tidak teriris pisau itu…… Saya yakin jika setiap manusia mencoba untuk bertanya pada nuraninya yang jernih, maka mereka juga sebenarnya bisa menilai sikap mana yang sebenarnya ada di jalan Allah.

Selain itu, coba bayangkan…. Saya punya banyak pengalaman hidup yang sangat pahit. Salah satunya adalah suami saya direbut perempuan lain. Jika saya bersikap seperti 90% manusia yang saya sebutkan tadi, maka mungkin reaksi saya atas kejadian yang menimpa adalah juga akan berusaha merebut suami orang lain dengan alasan ‘toh, orang lain juga tega merebut suami saya, jadi kenapa saya harus tidak tega’…. Tapi jika kita berpikir dengan hati nurani, apakah reaksi itu ada di jalan Allah? Tidak kan! Saya memilih untuk berada di jalan Allah, maka reaksi saya adalah saya tidak mau merebut suami orang karena saya tahu bagaimana sakitnya suami saya direbut orang. Saya tidak boleh menyakiti orang lain karena saya tahu persis bagaimana rasanya disakiti….

Ada satu contoh lain….  Saya tahu bagaimana rasanya punya penyakit parah. Akibat penyakit parah itu, sekuat apapun saya mencoba untuk kuat dan tegar, kadang-kadang ada saatnya saya merasa sangat kesepian, sebuah kesepian yang tidak akan mungkin dipahami oleh orang-orang yang sehat. Dalam keadaan seperti itu, kadang-kadang saya sangat ingin ditemani walaupun hanya untuk  beberapa menit saja. Atau kadang-kadang saya hanya memerlukan satu kata penghiburan atas segala rasa sakit yang harus  saya rasakan (Setiap orang yang punya penyakit parah, pasti pernah merasakan apa yang  saya rasakan ini). Tapi, saya hampir tidak pernah mendapatkan apa yang  saya inginkan dari orang-orang di sekitar saya. Saya lebih sering harus menanggulangi sendiri setiap kesakitan dan kesepian itu.

Nah, bercermin dari pengalaman saya, jika saya melihat orang yang sedang sakit, maka saya akan berusaha keras untuk memberikan perhatian dan dukungan yang selama ini hampir tidak pernah saya terima dari orang-orang di sekitar saya.

Pendeknya, saya berpendapat, biarlah orang-orang mengabaikan saya, tetapi saya tidak akan pernah membalasnya dengan pengabaian yang sama, melainkan saya harus membalasnya dengan pengertian dan perhatian.

Itulah yang  saya lakukan selama ini pada semua teman dan sahabat saya. Biarlah, mereka punya pendapat bahwa sahabat dan teman itu hanya ada saat senang dan lari pada saat susah. Biarlah mereka berpikir dan bersikap seperti itu. Tetapi saya akan selalu menjadi teman dan sahabat yang selalu berada disamping mereka dalam keadaan susah dan senang. Bukan hanya pada saat senang saja. Saya akan selalu menjadi teman atau sahabat yang tidak memikirkan apakah teman atau sahabat saya itu membawa keuntungan bagi saya atau tidak.

Bagaimanapun menurut saya, tak boleh ada perhitungan untung dan rugi dalam persahabatan. Tak boleh ada perhitungan pantas atau tidak pantas dalam sebuah persahabatan. Atas dasar itulah, saya tidak pernah ingin membalas dendam pada siapapun juga. Dan saya pikir, sikap ini pun sudah sangat sesuai dengan ajaran Tuhan.

Mungkin kita pernah mendengar kisah Rasul Muhammad yang tetap bersabar walaupun seorang tetangganya melempari beliau dengan kotoran. Bahkan ketika tetangga itu absen melemparinya, beliau malah menghampirinya dengan kasih sayang. Bukan membalas dengan kekejaman lagi….

Nah, daripada membalas dendam yang tidak akan ada akhirnya, saya lebih memilih untuk meneladani beliau, bukan menjadi orang yang gemar memaki dan mengucapkan kata-kata kasar yang menyakiti orang lain walaupun kita kadang-kadang berhak atau punya kuasa untuk memaki atau punya kuasa untuk balas menghancurkan.

Tulisan masih bisa dihapus, tapi kata-kata atau sikap yang menyakitkan dan merobek hati seseorang sampai sedemikian parah akan terus membekas. Hati yang robek tidak akan pernah bisa terjahit dengan utuh lagi. Dan tidak semua orang mampu memaafkan orang yang telah merobek hatinya sedemikian parah…..

Ampunan dari Allah mudah dikejar, tapi ampunan dari sesama manusia jauh lebih sulit untuk kita dapatkan. Berkaca dari kenyataan itu, mungkin sebaiknya kita harus milyaran kali berpikir lebih dahulu sebelum kita mengeluarkan sepatah kata yang mampu mengoyak hati seseorang yang benar-benar menyayangi kita, atau mengubah seorang sahabat jadi musuh….

Kanya Puspokusumo

Mei 2007

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :