THE ALOHA HEART

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

“E ho’omaika’i i kea la’a kea me ke aloha mau loa” [1]

 

Aku bertemu kembali dengan Simon Kealohi secara tidak terduga di sebuah rumah sakit ternama di New York beberapa tahun yang lalu. Simon adalah temanku semasa aku bersekolah di sebuah sekolah dasar semi internasional di Bandung. Simon bekerja di rumah sakit itu sebagai fisioterapist. Dia membimbingku menjalani rehabilitasi intensif setelah aku menjalani sebuah transplantasi sel induk di sum-sum tulang belakang untuk menyembuhkan kelumpuhanku akibat penyakit Multiple Sclerosisku yang saat itu kambuh amat parah.

Saat pertama kali aku memasuki ruang fisioterapi itu, aku masuk dengan jiwa yang sangat hancur; dihancurkan oleh seseorang yang seharusnya jadi pelindung terbaikku tanpa belas kasihan. Dia bukan hanya begitu mudah memperlakukan aku seperti binatang yang pantas disiksa secara lahir dan batin selama bertahun-tahun, namun kekerasan itu pun telah merenggut nyawa anakku yang kedua dalam kandunganku, dia pun menghabiskan semua harta warisan dari ayah hingga aku benar-benar jatuh miskin dan kembali harus menjadi beban orang tuaku, membuatku kambuh hingga koma selama lima hari dan akhirnya terbangun dari koma dalam keadaan lumpuh total. Saat itu, mungkin hanya kepercayaanku terhadap belas kasih Tuhan yang membuatku bisa tetap berpikir waras dan tidak berpikir untuk bunuh diri.

Selain itu, aku saat itu juga sangat kecewa kepada lingkungan di sekitarku (kecuali keluarga) yang saat itu begitu sok tahu menyuruhku untuk tetap bersabar dan membatalkan gugatan ceraiku terhadapnya demi anakku yang tersisa. “Kasihan anakmu kalau bercerai,” kata mereka.

Bersabar? Aku harus bersabar? Padahal saat itu aku sudah tidak tahu lagi harus bersabar seperti apa. Apakah 10 tahun bukan waktu yang cukup lama untuk bersabar? Apakah karena aku memilih tidak menceritakan semua kesusahanku dan penderitaanku kepada mereka aku lantas dianggap mengada-ada, cengeng, lemah, dan kurang bersabar? Hak dan ilmu apa yang mereka miliki untuk menilaiku sebagai orang yang cengeng, lemah, dan kurang sabar? Apakah mereka mengira dirinya dewa atau Tuhan sehingga mereka mengira mampu menilaiku dan mengetahui siapa diriku lebih banyak daripada diriku sendiri? Lalu dengan bekal penilaian sepihak itu mereka lantas seenaknya saja menghakimi bahwa keinginanku untuk berpisah adalah sebuah keegoisanku semata? Dulu aku adalah seorang yang sangat mudah percaya pada orang lain. Aku selalu memandang dunia dengan anggapan yang begitu polos dan konyol: dulu aku menganggap semua orang itu baik. Lalu kepercayaanku itu dikhianati dengan cara yang sangat keji….

Bagaimanapun aku adalah manusia biasa, bukan malaikat. Aku bisa merasa lelah. Aku bisa merasa kecewa. Aku bisa merasa marah. Aku bisa merasa sakit. Aku bisa merasa sedih. Aku punya ambang batas sendiri untuk setiap emosi itu…. dan kurasa, ambang batas yang kumiliki jauh lebih tinggi daripada yang dimiliki orang pada umumnya. Aku selalu masih bisa bersabar ketika orang lain sudah marah-marah. Aku selalu masih bisa tersenyum ketika orang lain sudah menangis. Aku masih bisa menerima ketika orang lain sudah merasa kecewa. Namun toh, apa yang kualami selama ini sepertinya memang hampir-hampir mustahil bisa dilalui oleh seorang manusia biasa tanpa menjadi hancur…. Terlalu berat untuk dijalani seorang manusia biasa seperti aku….

Dengan semua kenyataan itu, apakah aku egois jika aku lebih memilih untuk lepas dari cengkeramannya karena aku tidak ingin suatu saat menjadi berita utama di kolom kriminal sebagai korban kekerasan? Apakah aku juga pantas disebut egois jika aku saat itu berkeras ingin bercerai karena aku tidak ingin anakku yang tinggal satu-satunya itu hidup dengan mengenal kekerasan yang tidak perlu? Aku ingin anakku menjadi anak yang lembut, pengasih, dan penyayang pada sesama. Dan semua itu menurutku hanya bisa didapatkan jika aku melepaskan diri dari orang itu….

Lalu aku bertanya dalam hati, seandainya mereka mengalami hal yang sama denganku apakah mereka bisa sekuat aku menghadapinya? Apakah mereka akan tetap kuat, tetap hidup, tetap waras dan tidak ingin bunuh diri? Aku sangat sangsikan itu….. mereka belum tentu sanggup bertahan hidup seperti aku.

Kekekecewaan itu membuatku tidak ingin banyak bicara dengan siapapun selain dengan keluargaku sendiri. Kecuali pada keluargaku, saat itu aku pun benar-benar kehilangan kepercayaan pada manusia. Trauma berat dalam menjalin hubungan dekat dengan orang lain pun rasanya tidak akan terhapuskan. Daripada menjalin pertemanan dengan manusia selain keluargaku, aku saat itu lebih suka menenggelamkan diriku pada buku-buku, tulisan, atau pada nada-nada yang kudentingkan di piano. Walhasil, saat itu otakku menjadi semakin pandai, permainan pianoku pun semakin bagus, namun hatiku terkoyak semakin compang-camping.

Lalu Simon Kealohi hadir kembali dalam hidupku…. Dia bukan hanya membantuku menjalani rehabilitasi hingga aku dapat berjalan normal kembali, melainkan dia juga dengan sabar membantuku untuk sedikit demi sedikit menata hati, membersihkan jiwaku dari kekecewaan dan kecurigaan berlebihan terhadap orang lain dengan filosofi “Aloha”-nya

***

“Aku ingin melihatmu tersenyum”

Kalimat itu meluncur tiba-tiba dari mulut Simon setelah kurang lebih dua bulan aku menjalani rehabilitasi dibawah bimbingannya.

“Apa?” tanyaku dengan nada sedikit heran.

“Aku ingin melihatmu tersenyum” katanya lagi

“Maksudmu? Bukankah aku sering tersenyum padamu?”

“Ya, tapi tidak dengan hatimu. Aku ingin melihatmu tersenyum…. dengan hatimu.”

“Mengapa?”

“Karena aku berpikir mengapa kau bisa begitu berbeda dengan dirimu yang kukenal dulu. Kau dulu selalu tersenyum dengan hatimu. Senyum yang membuat semua orang ingin ikut tersenyum bersamamu.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Simon. Memangnya aku sekarang bagaimana?”

“Matamu kini penuh dengan kilatan rasa sakit, padahal menurutku kau dulu memiliki Aloha yang begitu kuat. Mengapa sekarang Aloha itu harus tertutupi dengan mendung?”

“Memiliki Aloha?”

“Ya, Aloha…. kau tahu, bagi orang Hawaii sepertiku, Aloha tidak hanya berarti ucapan persalaman. Aloha adalah spirit bagi bangsa Hawaii. Aloha adalah bagian paling penting dari Huna[2]. Dalam Aloha ada penerimaan, kelembutan, kasih sayang, kepasrahan, pemaafan, dan keseimbangan hidup. Menurutku kau dulu adalah cerminan aloha yang sempurna. Mengapa sekarang kau sembunyikan?”

“Apa yang membuatmu seperti ini? Bolehkah aku mengetahuinya? Mengapa kau berubah?” tanyanya lagi.

“Aku tidak apa-apa, Simon.”

Mendengar jawaban singkatku Simon pun terdiam sejenak. Matanya tampak memandangku dengan sangat dalam, seolah ingin menembus hatiku yang paling dalam. Lalu di menit kelima, dia memecah keheningan dengan berkata,

If you believe the world is a loving place….”

“Simon, bagiku kalimat indah seperti itu hanya ada di dalam kartu Hallmark. Berbicara itu mudah, Simon. Tapi kadang menjalani hidup adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan seribu kata bijak…..” tukasku cepat.

“Dewi, maafkan aku. Aku tidak bermaksud sok tahu. Toh, aku memang tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan. Jika aku diberi kesulitan seperti yang kau alami, aku juga mungkin tidak akan pernah sekuatmu. Mungkin aku tidak akan bisa tetap bertahan sepertimu. Bahkan mungkin aku akan menjadi gila. Tetapi, menurutku, apapun kesulitan itu, mungkin akan lebih baik keadaannya jika kau berdamai dengan dirimu sendiri….”

“Berdamai?”

“Kadang menjadi egois itu perlu, Wi. Misalnya dengan melakukan pemaafan untuk kepentingan kita sendiri. Dengan kata lain, memaafkan orang lain untuk ketenangan batin kita sendiri. Bukan untuk orang yang dimaafkan…”

“Itu juga kau kutip dari kartu Hallmark? “forgive all who have offended you, not for them but for yourself”. Aku pernah membaca kalimat seperti itu di kartu Hallmark!” bantahku ketus.

Simon tertawa kecil mendengar bantahanku sembari berkata,

I just want you to keep your Aloha Heart, that’s all! E ho’omaika’i i kea la’a kea me ke aloha mau loa”

which means…..?” tanyaku

Blessing of sacred life and everlasting love…… dan Hallmark tidak menerbitkan kartu dalam bahasa Hawaii,” jawabnya sambil tersenyum

****

Percakapan-percakapan seperti ini menjadi semakin sering kami lakukan. Setiap hari. Hingga akhirnya Simon membuatku bisa memahami sebuah filsafat hidup masyarakat Hawaii luar biasa yang saat itu benar-benar mampu memberiku semangat untuk bangkit kembali.

Dengan bantuan Simon, aku belajar untuk lebih mampu memungut setiap serpih hatiku, menjahitnya kembali satu persatu sampai utuh, dan membagi kebahagiaan yang dihasilkannya sebanyak mungkin kepada orang yang membutuhkan bantuanku. Dan yang lebih luar biasa, ketika aku selesai menjalani rehabilitasi fisik dan mampu berjalan kembali dengan normal, aku berhasil memberi maaf pada orang-orang yang telah menghancurkan dan menyakitiku. Walaupun aku tidak bisa lagi hidup serumah dengan orang yang telah menghancurkanku, tapi setidaknya aku mampu berteman dengannya tanpa rasa permusuhan dan dendam…

Aku pun menjadi lebih mampu bijaksana dalam menilai seseorang. Menurutku yang mampu menghakimi dan menilai seseorang 100% hanyalah Tuhan dan dirinya sendiri, bukan orang lain. Seseorang diluar individu tersebut, dalam penilaiannya hanya bisa menduga-duga sembari terus berusaha berpikir positif tentang individu tersebut namun tetap waspada. Membenci seseorang pun adalah kesalahan besar. Apa hak kita untuk membenci seseorang padahal dalam diri kita pun mungkin begitu banyak hal yang bisa dibenci oleh orang lain? Daripada membenci seseorang, lebih baik introspeksi diri terus menerus….

Aku juga kembali mempercayai bahwa bahkan seorang pembunuh pun mungkin memiliki kebaikan dalam dirinya walau hanya sedikit. Dan yang harus kita lakukan bukanlah terus menerus menuding seorang penjahat, melainkan harus terus berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk menggali dan menemukan kebaikan dalam dirinya…..

Dengan semua pemahaman itu pula, sampai saat ini, jika aku mengalami kekecewaan, terpuruk, dan atau disakiti orang, aku selalu teringat Simon dan The Way of Aloha-nya, dan dengan cepat mampu menyembuhkan kembali hatiku serta mengambil hikmah positif dari semua yang terjadi. Dan setiap kali aku teringat Simon dan The Way of Aloha-nya, aku pun serta merta bersyukur kepada Tuhan karena DIA telah membuka mata hatiku dan memberiku kekuatan; salah satunya melalui Simon….

2005

Counting the days, keep moving on following my destiny.

To AK…. thank you for your aloha heart!


[1] Blessings of sacred light and everlasting love

[2] Tujuh  prinsip hidup orang Hawaii (Ike – Kala – Makia – Manawa – Aloha – Mana – Pono)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :