MENERJEMAHKAN ITU MUDAH (?): Sudahkah kita menjadi penerjemah yang baik?

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Tulisan ini lahir berdasarkan obrolan saya beberapa waktu yang lalu dengan Ms. Doris Friedrich, seorang penulis dan penerjemah wanita berkebangsaan Jerman, yang sudah berbaik hati menerjemahkan tulisan saya “Living with Multiple Sclerosis” ke dalam bahasa Jerman “Leben mit Multiple Sklerose” dan menyebarkan hasil terjemahan tersebut secara terbatas di Jerman melalui Deutsche Multiple Sklerose Gesellschaft (DMSG – Germany Multiple Sclerosis Society).

Dari hasil obrolan tersebut, kami mengambil kesimpulan bahwa banyak orang beranggapan bahwa menerjemahkan itu mudah. Cukup hanya dengan menguasai satu bahasa asing atau sudah cas cis cus berkomunikasi dalam bahasa asing tersebut, maka dianggapnya sudah pasti mampu menjadi seorang penerjemah yang andal. Namun, benarkah kenyataannya demikian?

Penerjemahan hampir selalu bersifat interdisipliner, dengan kata lain, selain menguasai Bsu (Bahasa Sumber) dan Bsa (Bahasa Sasaran) dengan baik, pernerjemahan pun biasanya memerlukan penguasaan ilmu pengetahuan pendukung misalnya, sosiolinguistik, psikolinguistik, budaya, pengetahuan umum, dan sebagainya.

Penguasaan ilmu-ilmu pendukung tersebut di atas sangatlah penting dimiliki oleh seorang penerjemah. Kalau tidak, seorang penerjemah tentu akan mengalami kesulitan yang serius. Misalnya, jika seorang penerjemah yang tidak menguasai bidang kedokteran diminta untuk menerjemahkan materi-materi di bidang kedokteran, dia tentu akan kesulitan untuk memahami materi tersebut. Kegagalan memahami materi dengan baik tentunya akan berakibat penerjemahannya melenceng dari isi (content) dan pesan (message) yang disampaikan Bsu.

Berdasarkan hal tersebut, menurut saya, jika ingin menjadi seorang penerjemah yang benar-benar andal dan profesional, dia pun dituntut untuk memiliki ‘kerendahan hati’ dalam menerima bantuan/berkonsultasi dengan orang yang lebih ahli jika dia terpaksa harus menerjemahkan materi di bidang yang tidak begitu dikuasainya. Jika dia diharuskan menerjemahkan materi berita surat kabar padahal dia sama sekali tidak memiliki pengalaman sebagai seorang jurnalis, maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan seorang jurnalis yang berpengalaman karena bahasa dalam surat kabar seringkali sangat khas alias tidak seperti bahasa yang umum dipakai. Demikian pula jika seorang penerjemah dituntut untuk menerjemahkan sebuah undang-undang atau regulasi padahal latar belakangnya sama sekali bukan bidang hukum, maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli-ahli hukum unutk mendapatkan hasil terjemahan yang sifat keberterimaannya tinggi.

Masalah ‘kerendahan hati’ ini mungkin harus sangat ditekankan, karena saya begitu sering menjumpai penerjemah yang ‘tidak mau menerima koreksi dengan lapang hati’ atas hasil terjemahan mereka hanya karena menganggap diri sudah ahli atau cas cis cus dalam bahasa tersebut. Orang yang memberikan koreksi dianggap ingin menjatuhkan kredibilitasnya, dianggap menghina kemampuannya, dan sebagainya. Padahal belum tentu si korektor mempunyai alasan yang sejahat itu. Bisa saja kan koreksi itu dilakukan si korektor berdasarkan rasa tanggung jawab terhadap profesinya. Dengan kata lain, saya sangat jarang menemukan penerjemah yang dengan lapang hati mau  menganggap sebuah koreksi (terutama dari koreksi dari seorang ahli atau dari penerjemah yang jam terbangnya sudah jelas-jelas lebih tinggi daripada dirinya) sebagai alat untuk mengasah dirinya untuk menjadi seorang penerjemah yang lebih baik lagi di masa depan. Seandainya seorang penerjemah mau berbaik sangka terhadap setiap kritik dan koreksi, yang akan diuntungkan sebenarnya adalah si penerjemah sendiri; kemampuannya akan berkembang terus secara positif.

Lebih jauh, mungkin kita bisa sejenak memperhatikan terjemahan-terjemahan pada film di televisi. Saya cukup sering menemukan hasil penerjemahan yang sangat janggal dan kadang sangat salah. Misalnya saja, saya pernah melihat sebuah film di televisi tentang pembangkit tenaga listrik. Si penerjemah menerjemahkan Power Plant sebagai ‘kekuatan tanaman’. Sebuah contoh penerjemahan yang sangat ajaib, bukan?  Bagaimana hasil terjemahan seperti itu bisa lolos dari penyuntingan?

Baik saya maupun Doris kurang lebih sudah 20 tahun menekuni bidang kebahasaan dan penerjemahan. Jika melihat hitungan tahun itu (20 tahun), tentunya hampir setiap orang akan mengira bahwa kami tidak memerlukan bantuan siapapun lagi dalam menerjemahkan alias sudah sangat ekspert dan canggih. But No! Believe me, kami masih sangat sering bertanya dan berkonsultasi atas hasil penerjemahan kami dengan siapapun yang kami anggap punya kemampuan lebih baik dalam bidang yang diterjemahkan. Misalnya, ketika saya menerjemahkan website Multiple Sclerosis International Federation (MSIF) London yang isinya sangat full ilmu kedokteran, saya punya ‘penasihat’ seorang dokter yang dengan senang hati membantu saya mencari padanan kata yang tepat untuk istilah-istilah kedokteran yang ada. Dan setelah terjemahan website tersebut saya selesaikan pun, sebelum saya kirim kembali ke MSIF untuk diedit lagi oleh penyunting MSIF dan ditayangkan di websitenya, saya minta beberapa teman saya untuk mengoreksi dan menyunting semua kesalahan yang mungkin ada. Contoh lain, ketika ada klien yang meminta saya menerjemahkan artikel tentang toksik yang ada di lingkungan kerja (pabrik), saya tidak ragu untuk bertanya pada keponakan saya (yang masih kuliah di Teknik Lingkungan ITB), dan memintanya membantu saya mencari padanan kata yang tepat untuk istilah-istilah teknis di bidang Kimia Lingkungan. Kali yang lain, saya pun tidak ragu untuk  menelepon staf-stafnya paman saya (paman saya kebetulan punya firma hukum) ketika ada istilah-istilah hukum dalam regulasi/undang-undang yang tidak saya mengerti.

Dengan metode bekerja seperti ini, alhamdulillah sampai saat ini  belum pernah ada kesalahan fatal dalam menerjemahkan sesuatu yang bisa merugikan klien.

Dari contoh-contoh kasus di atas, sangat jelas bahwa sifat ‘arogan’ dan merasa diri paling jago dalam segala hal adalah musuh bagi seorang penerjemah yang ingin menjadi penerjemah yang benar-benar andal. Penerjemah pun sebenarnya bukan pekerjaan yang bersifat sepenuhnya solitaire, malah sebaliknya, menurut saya dia hampir-hampir tidak akan pernah bisa berdiri sendiri, selalu harus ada pihak-pihak lain yang membantunya; entah itu penyunting atau konsultan.

Menerjemahkan itu pun sebenarnya sama sekali tidak mudah. Cas cis cus berbicara bahasa asing sama sekali tidak menjamin bahwa dia pasti seorang penerjemah andal. Sering kali banyak  aspek-aspek kebahasaan yang sering dilupakan orang yang sudah terlalu bangga diri dengan kemampuannya berbicara bahasa asing; entah itu aspek tata bahasa, aspek logika bahasa,  aspek restructuring (penyelarasan), aspek ideologi kebahasaan, dan sebagainya.

Dengan demikian, jika kita seorang yang sangat cas cis cus berbahasa asing dan memutuskan untuk menjadi penerjemah, maka berbijaksanalah, tetaplah rendah hati dan selalu membuka hati dan diri terhadap koreksi dan bantuan dari siapapun. Kalau si korektor benar, bermurahlah dalam mengucapkan maaf dan terima kasih pada si korektor. Toh, apapun niat si korektor mengoreksi kita, tentunya akan membawa kebaikan pada kemampuan dan reputasi kita di masa mendatang. Dan…. kalaupun ternyata pada akhirnya korektor itu terbukti salah dan ternyata anda yang benar, maka berargumenlah dengan ilmu yang anda miliki bukan dengan arogansi. (maaf, tapi saya pun cukup sering mendengar argumen begini, “saya sudah 10 tahun tinggal di Amerika. Jadi jangan meremehkan hasil terjemahan saya dong!”)

Menurut saya, argumen seperti ini sih tidak akan pernah menyelesaikan masalah dengan baik. Mungkin akan lebih baik kalau kita bicara (misalnya) begini, “Iya, menurut tata bahasa atau secara harfiah artinya memang demikian, kamu betul, terima kasih  banyak sudah mengingatkan, tetapi setahu saya ini bahasa jurnalistik, dan dalam bidang jurnalistik kata ini selalu diterjemahkan sebagai kata itu… dan seterusnya…”.

Nah kalau berargumennya dengan cara begini bukankah akan lebih nyaman diterima oleh semua pihak, dan sekaligus akan lebih menunjukkan pada semua orang bahwa kita menerjemahkan memang karena kita punya ilmunya, bukan asal-asalan dan bukan hanya karena alasan konyol pernah lama tinggal di luar negeri. Dengan cara itu, anda pasti akan menjadi penerjemah yang benar-benar profesional, andal, dan punya reputasi menyenangkan di mata klien.

Baiklah, saya sebenarnya masih ingin lebih banyak lagi menguraikan ikhwal penerjemahan, tapi saya takut tulisannya nanti terlalu panjang. Jadi sepertinya harus saya akhiri sampai di sini dulu.

Namun, saya berharap, mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi manfaat bagi yang membacanya, dan semoga tulisan ini pun bisa ‘menggugah’ para penerjemah dan para pengguna jasa penerjemah untuk bisa lebih teliti dan hati-hati dalam menerjemahkan sesuatu dan memilih biro penerjemah.

Akhir kata, tetaplah bijaksana dalam memilih dan menyandang profesi penerjemah. Ingat lho, di atas langit masih ada langit. Sepintar apapun kita dalam menguasai sebuah ilmu, masih ada kemungkinan ada orang yang jauh lebih baik daripada kita. Dengan kata lain, akan selalu ada waktunya kita harus mengakui kehebatan dan kelebihan orang lain dan tidak malu bertanya dan mendapatkan tambahan ilmu dari siapapun.

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Sekarang aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri

 

6 Réponses to “MENERJEMAHKAN ITU MUDAH (?): Sudahkah kita menjadi penerjemah yang baik?”

  1. baguss banget sangat inspiratif dan menghaluskan rasa

    J'aime

  2. setuju sekali dengan tipsnya.sudah seharusnya seperti itu orang yang ingin sukses.tidak arogan lapang dada

    J'aime

  3. setujuuuuu bgtttt….
    hal ini saya lakukan juga mbak….
    bahasa pendidikan dgn business sgt jauh berbeda….
    bahkan terkadang puyengg nyari istilahnya…hahahha
    dan solusinya,,yah dengan rendah hati mau bertanya ke orang lain yang mengerti bidang bisnis tersebut…
    setidaknya kita juga bisa menambah ilmu…:)
    Cheers ^_^

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :