DEVIASI KONVENSI LINGUISTIK DALAM PUISI

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

ABSTRACT

Poetry is a kind of literary work in which the conciseness of meaning is emphasized in every single word. Every word in poetry can have ambiguity in it. This often makes people find poetry hard to understand, mysterious, or even mystical.

In some works of our contemporary poets, the words they employ seem to be boundless and have absolute freedom, not only in the choice of words but in the shapes as well. This kind of deviation is actually not forbiden since it is a special characteristic of poetry that other literary works don’t have.

1. Pendahuluan

Puisi adalah sebuah karya sastra yang mementingkan kepadatan makna dalam setiap katanya, dan ini seringkali membuat puisi dianggap sebagai karya sastra yang sangat sulit dipahami, misterius, bahkan berdaya magis. Apalagi bila kita membaca karya-karya penyair kontemporer seperti Tragedi Winka dan Sihka, Sepisaupi, O karya Sutardji Calzoum Bachri, atau Sang Sing Song karya Ibrahim Sattah yang seakan-akan tidak memiliki batasan sama sekali, baik dalam pemilihan kata maupun bentuknya,  mungkin kita akan langsung setuju dengan pendapat Auden yang menyatakan bahwa kata-kata dalam puisi timbul dari pikiran dan perasaan penyair yang sedang kacau (Kennedy, 1971:331). Tidak jarang pula kita dengar bahwa karya-karya mereka hanyalah omong kosong yang dilakukan seseorang yang mengaku dirinya penyair.

Namun sebenarnya puisi-puisi seperti yang ditulis oleh penyair-penyair tersebut (baik penyair jaman dulu maupun kontemporer) bukanlah sesuatu yang haram dilakukan. Karena puisi memiliki ketidakterbatasan dan keamatbebasan dalam pemilihan kata dan bentuk puisi yang disebut Lisensia Puitika. Lisensia Puitika hanyalah sebuah ciri khas dan keistimewaan puisi yang tidak dimiliki oleh jenis karya sastra lain, yang dapat menjadi sarana pengungkapan emosi, pikiran, dan pendapat penyair secara radikal.

Ketidakterbatasan dan keamatbebasan dalam pemilihan dan bentuk puisi seperti ini juga akhirnya menciptakan deviasi-deviasi konvensi linguistik.

2. Jenis-jenis Deviasi Konvensi Linguistik dalam Puisi

Menurut Geoffrey Leech (berdasarkan data yang dikumpulkannya dari berbagai puisi selama kurun waktu tertentu), ada 9 jenis deviasi yang sering dijumpai dalam puisi (Leech, 1976:42-52), yaitu:

a. Deviasi Leksikal, sebuah puisi disebut mempunyai deviasi leksikal bila puisi tersebut memakai kata-kata yang menyimpang atau diselewengkan dari yang biasa kita gunakan sehari-hari hanya untuk tuntutan estetis dan memberi makna lebih dalam. Misalnya kata leluka sebagai kata luka, mentari sebagai pengganti kata matahari, atau yang lebih ekstrim seperti yang tertulis dalam puisi “O” karya Sutardji misalnya Okau sebagai pengganti kata kau, dan sebagainya.

b. Deviasi Semantis, adalah deviasi yang menunjukkan bahwa sebuah kata yang terdengar biasa dapat berarti luar biasa. Dan sebuah kata itu pun maknanya dapat berbeda tergantung siapa dan bagaimana latar belakang kehidupan dan budaya penulisnya. Misalnya: makna kata ‘hujan’. Bagi penyair yang tinggal di daerah banjir, kata tersebut tentunya akan dikonotasikan sebagai bencana, tetapi oleh penyair yang berasal dari daerah yang kering kerontang tentunya akan dikonotasikan sebagai anugerah Tuhan yang sangat besar. Contoh lain, pada bait pertama tanka Kanashiki Gangu karya Takuboku Ishikawa. Kata kogarashi (angin kencang yang sangat dingin yang berhembus pada akhir musim gugur) biasa dipakai oleh penyair Jepang untuk mengungkapkan perasaan kesepian. Namun bagi Ishikawa (berdasarkan latar belakang kehidupannya), kata tersebut bukan berarti kesepian seperti layaknya orang yang tidak memiliki pendamping atau kehilangan anak, istri, atau teman, melainkan untuk melukiskan penderitaannya karena mengidap tuberkulosis, yang saat itu merupakan penyakit yang masih sulit disembuhkan.

c. Deviasi Fonologis, adalah deviasi bunyi yang sengaja dilakukan untuk kepentingan rima. Dalam puisi Chairil Anwar, banyak ditemui kata-kata seperti peri untuk menggantikan kata perih, menggigir untuk menggantikan kata menggigil, dan sebagainya. Dalam Kanashiki Gangu bait ke-40, Ishikawa menuliskan kata nitayona untuk menggantikan kata nitayoona. Semua itu ditulis hanya supaya tidak menyalahi rima yang aturannya sudah ditentukan berdasarkan jenis puisinya.

d. Deviasi Morfologis, adalah deviasi dalam cara pembentukan kata. Yang sering menggunakan deviasi ini adalah Rendra. Dalam puisi-puisinya sering ditemui kata-kata seperti nangis, mungkret, ngangkang, sebagai pengganti kata-kata ‘menangis’, ‘mengkerut’, ‘mengangkang’, dsb. Takuboku Ishikawa menggunakan kata yasumite untuk yasunde dalam Kanishiki Gangu bait ketiga.

e. Deviasi Sintaksis, pada deviasi ini penyair seringkali tidak mengindahkan aturan yang harus ada dalam satu kalimat. Kadang-kadang antara kalimat dengan kalimat tidak memakai titik sehingga bila kita tidak cermat memperhatikannya, kita tidak akan mengerti kesatuan manakah yang dapat kita sebut sebagai kalimat. Contohnya banyak ditemui dalam puisi karya Sutardji. Misalnya dalam puisi di bawah ini:

ngiau!kucing dalam darah dia menderas

lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber

gegas lewat dalam aortakudalam rimba

………………..”

(Sutardji C.B., Amuk)

f. Dialek, deviasi ini sering ditemui dalam puisi yang ditulis oleh penyair-penyair yang ingin mengungkapkan isi hatinya dengan tuntas tapi merasa bahwa bahasa standard yang ada tidak bisa mewakili apa yang dirasakannya; yang bisa mewakilinya adalah dialek daerahnya sendiri. Penyair yang sering menggunakan deviasi dialek seperti ini diantaranya adalah Darmanto Jt. (Misalnya dalam puisi : Kisah Karto Tukul dan Saudaranya Atmo mBoten) dan Linus Suryadi (dalam puisinya Maria dari Magdala). Darmanto Jt menggunakan kata-kata seperti gemrenggeng, boten, ples kepleng-kepleng, dan sebagainya. . Linus Suryadi menggunakan kata-kata seperti diubeg-ubeg, celingukan, dikeloni, dan sebagainya.

g. Register. Register adalah bahasa yang digunakan dalam sebuah kelompok atau profesi tertentu dalam masyarakat. Register disebut juga dialek profesi, biasanya hanya diketahui atau digunakan oleh segolongan atau sekelompok kecil masyarakat. Contohnya: Istilah lembu peteng. Istilah ini biasanya hanya digunakan di kalangan bangsawan Jawa yang berarti anak yang dihasilkan dari hubungan yang tidak sah.

h. Deviasi Historis. Deviasi ini berupa penggunaan kata-kata kuno yang sudah tidak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Deviasi ini tujuannya untuk mempertinggi nilai estetis sebuah puisi. Misalnya: kata Gangu dalam Kanashiki Gangu karya Takuboku Ishikawa. Gangu sama artinya dengan omocha atau mainan.

i. Deviasi Grafologis, adalah deviasi cara penulisan kata, kalimat, larik, dan baris. Penyair dengan sengaja menulisnya tanpa mengindahkan kaidah yang berlaku. Hal ini dipergunakan untuk memperoleh estetik. Tragedi Winka dan Sihka karya Sutardji dan Kuncup karya J. E. Tatengkeng adalah contoh yang tepat untuk deviasi ini.

winka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kuncup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Penutup

Kesembilan deviasi yang didefinisikan oleh Leech di atas sering ditemukan dalam puisi. Namun tidak setiap puisi memiliki kesembilan aspek deviasi tersebut secara lengkap. Ada yang hanya memiliki 1 atau dua deviasi saja.

Deviasi konvensi linguistik dalam puisi tersebut sangat penting diketahui dan dipahami oleh para penikmat, pemerhati, dan kritikus satra, agar bila ada bentuk-bentuk atau pemilihan kata yang jauh melenceng dari yang seharusnya tidak langsung dianggap sebagai puisi yang tidak bernilai sastra. Justru sebaliknya, ketidakterbatasan dan keamatbebasan serta ketidakbiasaan dalam pemilihan kata dan bentuk puisi seharusnya dipandang sebagai kekuatan puisi yang memiliki nilai yang sangat berharga.

(termuat di jurnal Bahasa dan Pariwisata, STBA Yapari-ABA Bandung, 2004)

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Sekarang aktif sebagai penulis dan penerjemah bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri

2 Réponses to “DEVIASI KONVENSI LINGUISTIK DALAM PUISI”

  1. makasii..postx ngebantuin🙂

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :