CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

If a child lives with criticism,

She learns to condemn.

If a child lives with hostility,

He learns to fight.

If a child lives with ridicule,

She learns to be shy.

If a child lives with shame,

He learns to feel guilt.

If a child lives with tolerance,

She learns to be patient.

If a child lives with encouragement,

He learns confidence.

If a child lives with praise,

She learns to appreciate.

If a child lives with fairness,

He learns justice.

If a child lives with security,

She learns to have faith.

If a child lives with approval,

He learns to like himself.

If a child lives with acceptance and friendship,

He or She learns to find love in the world…

Terjemahan:

Jika anak dibesarkan dengan celaan,

Ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,

Ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,

Ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan hinaan,

Ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,

Ia belajar menahan diri (bersabar).

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,

Ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian,

Ia  belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,

Ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,

Ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan,

Ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih dan sayang dan persahabatan,

Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Ketika saya membaca tulisan Dorothy Law Nolte di atas untuk pertama kalinya, yang paling awal saya lakukan adalah mengangguk-angguk sangat setuju. Sejak dulu saya memang selalu percaya bahwa 90% perilaku, cara berpikir, dan cara berbicara anak adalah hasil didikan orang tuanya (atau siapapun yang membesarkannya). Saya juga sangat percaya bahwa anak adalah peniru ulung yang akan mencontoh bulat-bulat apapun yang dilakukan orang tuanya. Contoh itu bukan hanya berupa perilaku, melainkan juga berupa pemikiran dan gaya bicara si orang tua. Kepercayaan dan keyakinan tersebut timbul setelah melihat bukti dan pengalaman orang-orang di sekitar saya dalam mendidik anak-anaknya. Misalnya, saya pernah menemukan seorang anak usia 6 tahun yang sadisnya bukan main kepada teman-temannya dan kepada makhluk hidup lain. Dia sangat gemar memukul teman-temannya, menyiksa binatang tanpa merasa bersalah, membentak-bentak tanpa alasan yang jelas, berkata-kata kasar, dan sebagainya. Setelah saya perhatikan lebih jauh, ternyata ibunya sering memukulinya, membentaknya dengan kata-kata kasar, dan sebagainya. Sehingga tanpa disadari si anak, di otaknya sudah terbentuk bahwa kesadisan itu sebuah hal yang wajar.

Mengenai pendidikan atas seorang anak, saya ingin mengemukakan beberpa pemikiran saya;

  1. Ketika seorang anak dilahirkan dari rahim ibunya, dia adalah Tabula Rasa; yaitu kertas putih atau kertas kosong tanpa noda. Kertas putih hanya memiliki sifat kepasrahan. Dia akan menjadi merah ketika kita melukis dengan tinta merah. Dia akan menjadi hitam ketika kita melukis dengan tinta hitam. Dia akan menjadi kumal ketika kita mengabaikannya. Dan dia akan robek dan hancur ketika kita tak hati-hati menjaganya. Jadi…. pikirkanlah baik-baik dengan tinta apa saja kita akan melukis kertas putih tersebut, dan dengan cara bagaimana kita merawatnya agar menghasilkan karya yang indah di hadapan Tuhan.
  2. Saya berusaha memahami benar-benar bahwa anak adalah titipan Tuhan. Anak sama sekali bukan milik kita. Berdasarkan pemahaman itu, etika (filsafat moral) berbicara bahwa kita harus memperlakukan barang titipan dengan jauh lebih baik daripada barang milik kita sendiri, sehingga jika sewaktu-waktu pemilik barang itu mengambilnya kembali dari kita, si pemilik barang akan senang karena barangnya terawat dengan sangat baik.
  3. Menurut saya, metode dan teknik pendidikan atas seorang anak seharusnya dipikirkan bukan pada saat si anak sudah lahir, melainkan harus dipikirkan sejak kita berencana memiliki anak. Pikirkankanlah semuanya sampai hal yang sekecil-kecilnya mulai dari masalah yang sederhana sampai yang rumit. Dengan kata lain, kita bukan hanya harus memikirkan bagaimana metode dan teknik terbaik agar si anak menjadi manusia cerdas pandai, melainkan juga harus memikirkan bagaimana metode dan teknik terbaik untuk menanamkan kaidah-kaidah moral dan agama tanpa si anak merasa dididik dan digurui serta sama sekali jauh dari kekerasan. Didiklah anak dengan cara lembut dan penuh kasih sayang dan dengan memberi pengertian dan membuatnya mengerti, bukan dengan menunjukkan kekerasan atau dengan power yang membuat si anak takut. Berkaitan dengan hal ini, menurut saya ada dua tipe anak baik. Tipe yang pertama adalah, anak baik yang tidak mau melakukan keburukan hanya karena takut dimarahi orang tuanya. Tipe yang kedua adalah anak baik yang tidak mau melakukan keburukan karena dia sangat mengerti bahwa keburukan tidak akan membawa keuntungan apapun selain kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Tipe anak yang pertama akan sangat mudah tergelincir dan terpengaruh lingkungan buruk jika orang tuanya tidak ada di sampingnya. Tetapi tipe anak yang kedua, walaupun dia berada di lingkungan buruk tanpa didampingi orang tuanya, dia Insya Allah akan tetap istiqamah untuk tetap berbuat baik; walaupun cobaan dan ujian kelak menghantamnya bertubi-tubi, dia Insya Allah akan terus istiqamah berusaha keras untuk tetap berada di jalan lurus…. Nah, jenis anak baik mana yang ingin kita miliki?
  4. Saya sering memperhatikan bagaimana teman-teman dan saudara-saudara saya memarahi anaknya ketika anaknya nakal. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sering mendengar kalimat-kalimat yang menurut saya sebenarnya (kalau tidak hati-hati) bisa berakibat buruk pada jiwa si anak di masa depan. Misalnya, begitu banyak orang tua yang sangat senang mengatakan “Mama ga punya anak nakal. Jadi kalau kamu nakal, pasti bukan anak mama”, “Kalau kamu nakal terus, Mama ga akan sayang lagi sama kamu”. Kalimat-kalimat itu kelihatannya memang sederhana, dan mungkin pula dengan mudah akan membuat si anak tidak nakal lagi. Tetapi kalimat itu memiliki resiko sangat tinggi untuk membuat si anak menjadi makhluk yang berbuat baik (tidak nakal/jahat) hanya dengan alasan supaya disayangi atau disukai orang lain saja, atau jadi makhluk yang berbuat baik hanya di depan orang lain yang akan memberi keuntungan pada dirinya. Jika dilihatnya ada orang yang tidak memberi keuntungan padanya, maka dia bisa saja berbalik menjadi manusia yang suka berbuat semena-mena…. Menurut saya, jika anak kita nakal, mungkin sebaiknya hanya memfokuskan diri pada perbuatan nakalnya saja. Jangan pernah  menghubung-hubungkan perbuatan nakalnya dengan kadar kasih sayang yang kita miliki untuknya. Dengan kata lain, saya lebih suka membuat anak saya memahami konsep bahwa saya menegurnya semata-mata karena perbuatan buruknya bisa merugikan/menghancurkan diri sendiri dan orang lain, bukan menegur/marah karena tidak sayang. Saya lebih suka membuat anak saya memahami konsep bahwa apapun, siapapun, dan akan jadi apapun dia kelak… kasih sayang saya padanya tidak akan pernah putus. Dengan begitu, Insya Allah si anak akan menjadi manusia pencari kebaikan dan kebenaran, bukan menjadi manusia pencari keuntungan. Dia Insya Allah akan tetap baik dan sayang pada sesama makhluk tanpa memikirkan dia akan mendapatkan untung dari makhluk tersebut atau tidak. Dia pun Insya Allah akan memahami konsep bahwa sebuah kebaikan dilakukan karena kebaikan adalah sebuah kebutuhan jiwa, bukan untuk alat mencapai atau mendapatkan sesuatu (yang bisa jadi) negatif.
  5. Mengambil kesimpulan dari tulisan Dorothy Law Nolte, anak adalah peniru terhebat. Karena itu, saya pikir semua orang tua seharusnya menggarisbawahi bahwa jangan pernah mengharap anak kita menjadi anak yang bertanggung jawab jika kita tidak pernah memberinya contoh langsung sebuah sikap bertanggung jawab, jangan pernah mengharap anak kita menjadi anak yang penyayang jika kita sendiri tidak pernah mengungkapkan kasih sayang kita pada si anak. Pendeknya, nasehat atau ajaran yang terbaik adalah nasehat atau ajaran yang keluar dari dari mulut orang yang memang melakukan semua yang diucapkannya, bukan orang yang hanya bisa bicara…..
  6. Banyak orang tua yang menempatkan dirinya seperti dewa yang tidak pernah salah. Menurut saya, konsep orang tua seperti ini sebaiknya dihapus saja. Lebih baik tanamkan pada anak bahwa sehebat-hebat orang tua, orang tua tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Pendeknya, orang tua memang berkewajiban untuk membimbing dan mengarahkan anak agar si anak menjadi anak yang shalih/shalihah, tetapi kita pun jangan menolak jika suatu saat si anak ‘mendidik’ kita (tentunya dengan cara yang baik) dengan hikmah dan pelajaran. Jangan pernah menolak kebenaran walaupun kebenaran itu keluar dari mulut seorang anak kecil…. Sikap seperti ini akan membuat anak merasa dihargai sebagai seorang individu yang punya eksistensi dan kehendak.
  7. Belajarlah untuk tidak memaki atau mengutuk sedikit pun walaupun kemarahan kita sudah sampai ke ubun-ubun.  Hmmmmm…. pasti susah yaaaa? Tapi bukan berarti tidak bisa….. Iya kan??? Coba deh….

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :