CERITA BUNGA

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Aku sekuntum bunga matahari. Tumbuh di taman sebuah rumah besar dan mewah. Aku senang tumbuh di taman ini, karena di taman ini aku dapat bebas memandangi matahari. Setiap hari aku selalu memperhatikan matahari, sejak terbit dipagi hari hingga matahari terbenam disore hari. Kadang matahari muncul di pagi hari dengan enggan, namun kemudian terbenam dengan ceria. Kadang pula matahari muncul di pagi hari dengan keceriaan, namun kemudian dia terbenam dengan tangisan yang tersamar.

Aku tak tahu apakah matahari menyadari sikapku yang senang memperhatikannya atau tidak. Sepertinya sih dia tahu hal itu, namun aku tak peduli, karena bagi sekuntum bunga seperti aku, yang penting adalah bagaimana aku bisa terus memperhatikannya… memandangnya.

Matahari sering bicara padaku melalui sinarnya. Dia bercerita macam-macam. Kadang-kadang ceritanya membuatku tersenyum lepas tanpa beban, tetapi adakalanya dia pun bercerita tentang awan gelap yang membuatnya menangis. Pada saat itu, yang ingin aku lakukan hanyalah membantunya keluar dari mendung, membuatnya tersenyum lepas seperti dia membuatku tersenyum lepas dengan cerita-ceritanya. Namun keinginan itu seringkali hanya tinggal keinginan yang sulit terwujud, karena sepertinya matahari tak menginginkan bantuanku. Setiap kali aku mencoba membantunya, dia dengan segera menghalanginya dengan awan gelap yang sukar ditembus. Bahkan kadang-kadang dia melindungi dirinya dengan mengeluarkan kata-kata yang agak menyakiti hati dan mengecewakanku. Aku sebenarnya ingin mengatakan padanya bahwa walaupun dia menutup diri dengan awan mendung yang sangat gelap, aku masih tetap dapat memahaminya. Aku masih tetap dapat merasakan apa yang sedang dirasakannya. Namun aku kuatir, jika aku memaksa dan mendesaknya untuk bicara lebih jauh, aku hanya akan mendapat kata-kata yang lebih menyakitkan…..  Karena itulah, akhirnya setiap hari aku hanya memperhatikan dan memandangnya dari jauh. Pendeknya, aku hanya bertindak pasif, hanya menyambut jika matahari lebih dahulu datang mendekatiku melalui sinarnya.

Temanku, sekuntum mawar yang tumbuh di sebelahku, merasa aneh dengan sikapku yang begitu senang memandang dan memperhatikan matahari. Dia kemudian bertanya padaku,

“Sampai kapan akan kau lakukan itu setiap hari?”

“Lakukan apa?” tanyaku.

“Kau selalu memandang matahari dan memperhatikannya. Sampai kapan kau akan lakukan itu?”

“Sampai dia terbit dan terbenam dengan suasana yang sama. Bahagia…. Lihatlah, hari ini pun dia muncul dengan enggan. Ada apa lagi dengan dia ya?” kataku setengah menggumam.

“Itu karena awan menutupinya…” kata mawar

“Tidak. Hari ini bukan awan yang sengaja menutupinya, tetapi mataharilah yang sengaja mengundang awan.”

“Bagaimana kau bisa yakin? Apakah hampir setiap hari berbicara dengan matahari membuatmu jadi sangat memahaminya? Maaf, tapi jika kuperhatikan, pembicaraanmu dengan matahari seringkali hanya pembicaraan ringan…..” tanya mawar dengan lembut.

“Kau salah, mawar. Pembicaraan kami sebenarnya lebih berat daripada apa yang kau bayangkan. Lagipula, tak perlu terlalu banyak kata untuk berusaha mencoba menyelami matahari. Aku bisa merasakannya,” jawabku

“Bagaimana bisa?” tanya mawar lagi.

“Kekuatan kasih sayang lebih kuat daripada tebalnya awan mendung. Kasih sayang tulus dapat menembus tembok tebal yang tak bisa dihancurkan oleh apapun….” jawabku lirih.

“Kau menyayangi matahari ya?” tanya mawar dengan nada semakin lembut.

“Ya.” jawabku singkat.

“Kau mencintainya?” tanya mawar lagi.

“Aku tidak tahu. Mungkin tidak, karena aku tak berani mencintai siapapun….” jawabku.

“Mengapa tidak?” tanya mawar keheranan.

“Karena cinta seringkali lebih banyak membawa kepedihan. Aku lebih suka menyayangi matahari dengan ketulusan cinta dan kasih sayang setangkai bunga; benar-benar tanpa syarat. Aku tak harapkan balasan apapun. Lagipula, matahari mencintai bulan. Jadi untuk apa aku mencintainya? Mencintainya hanya akan membuatku sakit, karena aku tak kan pernah bisa memiliki. Sebelum aku tersakiti oleh keinginanku untuk mencintainya, bukankah lebih baik jika aku sejak awal tidak berusaha untuk mencintainya?” jawabku

“Siapa bulan?” tanya mawar

“Bulan adalah sosok yang selama ini mendampinginya, yang memberikan dua buah bintang kecil yang sangat aku sayangi juga.”

“Tapi bukankah bulan sekarang ini tak pernah benar-benar bersama matahari?”  kata mawar.

“Tapi perasaanku mengatakan bahwa matahari sebenarnya masih mencintai bulan. Jika bulan sedikit saja mau mengubah sifatnya, matahari pasti akan kembali padanya. Dan kau bisa bayangkan kalau aku sekarang nekat mencintai matahari, apa yang bisa aku lakukan ketika matahari ternyata tak bisa mencintaiku dan lebih memilih kembali pada bulan? Aku hanya akan mendapatkan rasa sakit dan hancur. Aku tak mau mengharap sebuah ketidakpastian, mawar. Ketidakpastian itu hanya untuk dijadikan mimpi yang tak bermakna, bukan untuk diharapkan atau diinginkan.”

“Sepertinya kau sangat pesimis memandang cinta?” tanya mawar

“Coba kau lihat Ibu pemilik rumah yang memelihara kita. Kita sama-sama tahu bahwa dulu dia begitu mencintai seseorang, tapi ternyata seseorang itu memilih orang lain yang lebih dicintainya. Kita sama-sama melihat dari jendela, bagaimana ibu yang memelihara kita berjuang melawan keinginan bunuh diri. Kita juga melihat hatinya sangat hancur karena mencintai seseorang yang tidak bisa benar-benar mencintainya. Hal itulah yang ingin kuhindari sekarang…. Aku terlalu takut untuk merasa sakit hati. Aku takut tidak bisa menanggung rasa sakit itu.”

“Hmmm….. mungkin kau memang benar. Mungkin sebaiknya kita tak pernah berharap pada cinta. Tapi, bagaimana kau bisa memisahkan antara perasaan cinta dan kasih sayang?” tanya mawar lagi.

“Dengan memberi tanpa mengharap balasan apapun. Cinta cenderung akan meminta balasan, tetapi kasih sayang yang tulus tanpa syarat hanya menginginkan kebahagiaan yang disayangi tanpa memikirkan apakah kita dibahagiakan juga olehnya atau tidak,”  jawabku.

“Kau benar-benar menyayangi bintang-bintang kecilnya dengan cara seperti itu juga?” tanya mawar

“Aku menyayangi bintang-bintang kecilnya dengan kasih sayang yang jauh lebih besar lagi.

Kau tahu, aku sangat ingin memeluk dan mendidik mereka dengan kelembutan dan kasih sayang, persis seperti yang kulakukan pada putik bunga matahari kecilku; mendidik mereka dengan makna dan pengertian, bukan dengan kekerasan atau pemanjaan,” jawabku

“Lalu, mengapa tak kau coba mendidik mereka seperti kau mendidik si putik kecil?”

“Karena aku tak pernah bisa bertemu dengan mereka dalam waktu yang lama. Lagipula, jika aku memaksakan kehendakku, mungkin matahari akan membenciku karena aku sudah mencampuri kehidupannya. Jadi, lagi-lagi aku hanya bisa memperhatikan dan memandang mereka dari jauh…..”

“Jadi kau benar-benar hanya bisa memandangi dan memperhatikan mereka dari jauh, memberinya kasih sayang ya.”

“Ya. Ah, lihatlah. Matahari sebentar lagi akan pergi. Syukurlah, kali ini dia pergi sambil tersenyum….. Sekarang waktunya bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

Lalu aku pun memandang pada matahari, mengikuti geraknya yang kian tenggelam sampai akhirnya malam tiba…..

Dan malam itu, anak pemilik taman memetikku untuk dikeringkan menjadi hiasan dinding. Aku tak kan pernah bertemu matahari lagi…..

3 Réponses to “CERITA BUNGA”

  1. puisi yang indah,

    J'aime

  2. keren🙂

    J'aime

  3. cerpennya keren kayak orangnya..

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :