CYBER EDUCATION: Sebuah Visi tentang Pendidikan dan Kurikulum Masa Depan

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

  1. Menuju Era Cyber
    1. a. Globalisasi

Dalam Megatrend 2000 (1999), Naisbitt mengatakan bahwa kita harus think globally act locally. Kata-kata ini mengacu kepada kata globalisasi yang sejak awal tahun 90an mulai sering kita dengar. Dengan mengatakan think globally act locally, Naisbitt ingin mengatakan kepada kita bahwa untuk menghadapi era globalisasi ini  seseorang harus menanggalkan pikiran tradisionalnya dan menggantinya dengan pikiran yang lebih bersifat internasional. Selain itu, agar kita tidak terlindas oleh globalisasi, sudah seharusnya sejak sekarang kita berusaha untuk memajukan negeri sendiri di berbagai bidang.

Kata globalisasi sendiri sebenarnya memiliki konsep yang bagus, tetapi dalam kenyataannya makna kata tersebut tidak melulu positif, hal-hal yang negatif pun ada.

Dengan globalisasi, informasi dari segala penjuru dunia (baik yang baik maupun yang buruk), teknologi, dan sebagainya, mengalir masuk ke Indonesia tanpa dapat dibendung. Jika masyarakat Indonesia mempunyai lifeskills yang sama kuatnya dengan negara-negara maju seperti Amerika, maka globalisasi tidak akan begitu membawa pengaruh yang buruk. Tetapi masyarakat Indonesia yang memiliki lifeskills yang kuat tidak begitu banyak. Hal ini menjadi point yang negatif bagi Indonesia.

  1. b. Globalisasi Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, globalisasi pun membawa masalah tersendiri bagi masyarakat Indonesia karena dengan globalisasi pendidikan, sekolah-sekolah asing yang bersifat internasional akan menjamur. Jika masyarakat Indonesia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi lapangan pekerjaan di sekolah tersebut, maka akan terjadi import guru dari luar secara besar-besaran. Hal ini tentu saja sedikit banyak akan merugikan masyarakat Indonesia.

Pendeknya jika kita tidak memiliki lifeskills yang kuat dan kecakapan teknologi yang baik, kita akan segera terlindas oleh orang-orang asing seperti bangsa Amerika yang notabene mempunyai kemampuan yang lebih dari kita. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin di masa depan bangsa Indonesia akan menjadi tamu di negerinya sendiri

Untuk menghadapi masalah ini, reformasi pendidikan tampaknya menjadi satu-satunya cara untuk memajukan bangsa. Tetapi, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan reformasi pendidikan? Perbaikan seperti apa sebenarnya yang harus kita lakukan? Sistem pendidikan seperti apa sebenarnya yang harus kita laksanakan?

Untuk menjawab hal ini mungkin dapat saya katakan bahwa sistem pendidikan yang harus kita lakukan adalah sistem pendidikan yang telah disesuaikan dengan jaman di mana kita hidup.

Sekarang ini kita telah memasuki abad ke-21. Dengan demikian, jika kita ingin memperbaiki sistem pendidikan kita, kita harus menyesuaikannya (setidak-tidaknya) dengan keadaan abad ini. Hanya dengan cara itu kita tidak akan terlindas di kompetisi global.

 

  1. 2. Cyber Education

Abad ke-21 disebut juga era cyber. Di era cyber, teknologi informasi (IT) seperti komputer, internet, teknologi digital multimedia, dan teknologi cybernethics memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Segi-segi kehidupan di dalam masyarakat banyak yang tertolong oleh teknologi ini.

Dahulu, jika kita ingin mengirim surat pada kekasih atau keluarga yang tinggal di luar negeri, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Tetapi dengan teknologi internet, mengirim surat menjadi sesuatu hal yang sangat mudah, yang dapat dikerjakan hanya dalam hitungan detik. Mungkin hanya 2 detik untuk mengirim melalui e-mail, dan 5 detik untuk sampai pada penerima surat. Contoh lain, dahulu orang-orang yang berkerja di bidang statistik memerlukan waktu yang lama dan menguras pikiran yang cukup berat untuk menghitung angka-angka secara manual. Tetapi dengan kemajuan teknologi komputer, pekerjaan yang biasanya harus dilakukan berjam-jam pun dapat dilakukan dalam hitungan detik atau menit.

Di abad ke-21 ini, sistem pendidikan di Indonesia sebaiknya diperbaiki dengan menyesuaikan dengan kondisi sesuai dengan abad ini. Dalam bidang pendidikan, kita pun dapat menggunakan teknologi cybernethics. Pendidikan yang menggunakan teknologi ini dapat kita sebut dengan Cyber Education.

Dalam Cyber Education, ada empat komponen penting, yaitu:

  • Sekolah
  • Mata kuliah/mata pelajaran
  • Pengajar
  • Kurikulum
  1. a. Konsep Sekolah dalam Cyber Education

Jika kita mendengar kata sekolah, dalam kepala kita tentunya langsung terbayang sebuah gedung tempat belajar. Di dalam kelasnya ada papan tulis, meja dan kursi untuk guru dan murid. Tetapi dalam cyber education, konsep sekolah seperti itu menjadi terlalu sempit. Dalam cyber Education, konsep sekolah tidak lagi terbatas seperti sekolah pada masa kini. Sekolah dalam cyber education selain berarti sekolah seperti yang ada pada masa kini (kita sebut saja sebagai sekolah formal), dapat juga berarti warnet bahkan dapur. Pendeknya, selama di sebuah ruangan ada komputer yang dapat mengakses internet, maka tempat itu dapat menjadi sekolah. Untuk sekolah seperti ini kita dapat menyebutnya sebagai sekolah virtual.

Dengan konsep baru ini, sekolah menjadi sesuatu yang tanpa batas. Selain itu, dengan konsep baru ini, pembelajar pun dapat dengan bebas memilih apapun yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan dirinya. Jika seorang pembelajar merasa mampu untuk membayar mahal di sekolah yang bergedung mewah, maka ia dapat memilih bersekolah di tempat tersebut. Tetapi jika ia hanya mampu duduk di depan komputer pinjaman, maka ia masih dapat bersekolah di sekolah virtual.

Dengan demikian, konsep sekolah seperti ini dapat mempersempit kesenjangan pengetahuan dan kesenjangan ilmu di antara pembelajar kaya raya dan pembelajar miskin, atau antara pembelajar yang tinggal di kota besar dengan pembelajar yang tingggal di pedesaan.

  1. b. Mata Pelajaran dalam Cyber Education

Mata pelajaran dalam sekolah yang sekarang, semuanya ditentukan oleh pemerintah atau pihak sekolah. Dalam cyber education,  hanya mata pelajaran pokok saja yang ditentukan oleh pemerintah dan sekolah, di luar itu , pembelajar boleh memilih mata pelajaran apa saja yang disukainya. Keadaan ini dapat diistilahkan dengan Mata Pelajaran Tanpa Batas. Usia pun tidak ada pengaruhnya di sini. Seorang anak berusia lima tahun, jika ia mampu mengerjakan pelajaran anak usia delapan tahun, maka ia boleh bersama-sama belajar dengan anak usia delapan tahun tersebut. Dan jika ada pelajaran yang tidak dimengerti, pembelajar dapat langsung berkonsultasi dengan para pakar melalui internet.

  1. c. Konsep Guru dalam Cyber Education

Guru pada sekolah masa kini biasanya identik dengan lulusan perguruan tinggi kependidikan atau lulusan dari lembaga pendidikan. Dalam cyber education, makna guru menjadi lebih dalam. Meminjam kata-kata bijak dari Confucius, semua orang adalah guru. Dengan kata lain, di era cyber, seseorang dapat menjadi guru bagi yang lainnya tanpa harus mempunyai latar belakang atau pengalaman di bidang pendidikan.

  1. d. Kurikulum dalam Cyber Education

Menurut Sayling Wen (2002), di dalam kurikulum ada 3 faktor yang penting. Yaitu, pembelajar, pengajar, dan mata pelajaran.

Dalam cyber education, berkaitan dengan pembelajar, sedikitnya pemerintah harus menyediakan mata pelajaran yang dapat membuat pelajar dapat mengoperasikan komputer.

Berkaitan dengan pengajar, kedudukan pengajar adalah sebagai pembimbing. Dan setiap pengajar diharuskan dapat mengoperasikan komputer, sehingga jika ada pembelajar yang bertanya melalui e-mail, ia dapat menjawabnya dengan media yang sama.

Berkaitan dengan pelajaran, seperti yang telah disebutkan di atas, pemerintah dan pihak sekolah hanya menentukan mata pelajaran pokok yang bersifat dasar. Di luar itu, pembelajar diperbolehkan mengambil mata pelajaran sesukanya.

  1. 3. Cyber Education di Indonesia: Program 1 Kecamatan 10 Komputer

Selama ini, jika kita perhatikan, para pemimpin (presiden dan perangkatnya) di Indonesia seringkali mendengung-dengungkan tentang reformasi dan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Pada dasarnya saya setuju bahwa sistem pendidikan di Indonesia memang perlu diperbaiki dan direformasi, tetapi dengan cara apa dan bagaimana?

Dalam televisi, surat kabar dan sebagainya, dikatakan bahwa masih begitu banyak anak-anak yang tidak mampu bersekolah karena alasan ekonomi. Untuk mengatasi masalah tersebut, biasanya para pemimpin tersebut mengemukakan berbagai program atau rencana seputar: berusaha untuk menambah gedung sekolah, memperbaiki gedung sekolah yang rusak, menambah jumlah guru, dan sebagainya. Menurut saya, program dan rencana seperti itu memang bagus, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa program seperti itu akan menghabiskan biaya yang amat sangat besar. Jika pembangunan sebuah sekolah menghabiskan dana lebih dari 100 juta rupiah, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun 10 sekolah atau lebih?

Berkaitan dengan masalah ini, saya mempunyai konsep program yang saya pikir jauh lebih murah daripada program pemerintah seperti tersebut di atas. Saya menamakan program tersebut dengan SATU KECAMATAN SEPULUH KOMPUTER.

Dalam program ini, pemerintah cukup hanya menyediakan 10 komputer dan modem di setiap kecamatan. Komputer-komputer tersebut boleh disimpan di mana saja, misalnya di simpan di kantor kecamatan. Yang penting, komputer-komputer tersebut harus dapat mengakses internet dan dipakai sebagai alat cyber education. Kemudian, komputer itu boleh digunakan oleh anak-anak (terutama anak-anak dengan kondisi ekonomi lemah) di satu kecamatan tersebut. Jika anak-anak di satu kecamatan tersebut jumlahnya banyak, maka satu komputer dapat dipakai bersama-sama oleh 2~3 orang anak (asal anak-anak tersebut berada pada tingkatan kelas yang sama).

Jika satu komputer digunakan oleh 2~3 orang, maka 10 komputer dapat menampung sekitar 20~30 anak.

Jika 20~30 orang anak dapat belajar selama satu jam, maka dalam lima jam 100~150 anak akan terpenuhi hak menerima pendidikannya. Dengan kata lain, akan banyak anak-anak miskin yang tertampung dalam cyber education.

Berkaitan dengan masalah guru, model cyber education seperti ini tidak terlalu banyak memerlukan guru. Dua sampai tiga orang guru yang mampu mengoperasikan komputer akan dapat berbuat banyak dalam mesukseskan cyber education ini.

Berkaitan dengan masalah evaluasi belajar, dapat digunakan bentuk evaluasi seperti yang digunakan pada ujian persamaan SD, SMP, dan SMA.

Akhirnya, dengan mempraktekkan cyber education seperti ini, reformasi pendidikan dapat dipastikan bukan hanya sekedar slogan.

  1. 4. Simpulan

Kata globalisasi sebenarnya memiliki konsep yang bagus, tetapi dalam kenyataannya makna kata tersebut tidak melulu positif, hal-hal yang negatif pun ada.

Dalam televisi, surat kabar dan sebagainya, dikatakan bahwa masih begitu banyak anak-anak yang tidak mampu bersekolah karena alasan ekonomi. Untuk mengatasi masalah tersebut, kesepuluh calon presiden dan wakil presiden tersebut mungkin mempunyai program atau akan melakukan rencana yang sama seperti pemerintah yang sudah-sudah, yaitu  berusaha untuk menambah gedung sekolah, memperbaiki gedung sekolah yang rusak, menambah jumlah guru, dan sebagainya. Program dan rencana seperti itu memang bagus, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa program seperti itu akan menghabiskan biaya yang amat sangat besar.

Berkaitan dengan masalah ini, ada konsep program yang jauh lebih murah daripada program pemerintah seperti tersebut di atas. Program itu disebut dengan SATU KECAMATAN SEPULUH KOMPUTER.

Dengan mempraktekkan cyber education seperti ini, reformasi pendidikan dapat dipastikan bukan hanya sekedar slogan, melainkan menjadi sebuah keharusan untuk mengusahakannya

2 Réponses to “CYBER EDUCATION: Sebuah Visi tentang Pendidikan dan Kurikulum Masa Depan”

  1. Saya mo baut tesis tentang cyber education nie, ada referensi utama????

    J'aime

    • Kanya Puspokusumo Says:

      hmmmm….. tulisan saya tentang cyber education lebih banyak bersifat ‘ocehan’ mengungkapkan pemikiran pribadi…… jadinya ga punya referensi utama berupa buku yang cukup baik untuk diberikan….. Maaf banget…..
      Hmmm…. kayaknya di internet banyak deh

      But… tapi kalau mau diskusi boleh aja kirim email ke kavedevi @yahoo.com…….. Atau kalau punya FB bisa add saya Kanya Puspokusumo (email patronus@telkom.net)….. Thanks

      J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :