MS, ALS, MD: APA BEDANYA?

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

Beberapa waktu yang lalu sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan berita tentang seorang tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang meninggal karena ALS. Kemudian penyiar berita tersebut menyebutkan bahwa salah satu komedian kita, Pepeng, pun penderita ALS….

Saya sedikit terkejut dengan pemberitaan tersebut, karena sepanjang pengetahuan saya Pepeng adalah penderita MS, bukan ALS.

Tim pencari berita di stasiun televisi tersebut sepertinya mengalami sebuah ‘kebingungan definisi’ antara ALS dengan MS.

Kebingungan ini mungkin disebabkan baik ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) maupun MS (Multiple Sclerosis) sama-sama diakhiri dengan kata Sclerosis.

Sebab yang lain mungkin karena baik ALS maupun MS adalah sama-sama penyakit langka yang berkaitan dengan syaraf, dan seringkali mempunyai gejala yang mirip; yaitu kesulitan berjalan dan kehilangan kekuatan  secara fisik.

Untuk menghindari kebingungan definisi antara MS dan ALS, mari kita belajar mencari persamaan dan perbedaan penyakit-penyakit tersebut secara sederhana.

Multiple sclerosis adalah penyakit yang menyerang mielin[1], bukan penyakit yang menyerang sel syaraf . Kerusakan mielin menyebabkan timbulnya lesi/luka pada sistem syaraf. Dan, penyakit MS hanya menyerang mielin yang berada di susunan syaraf pusat, bukan mielin yang ada di susunan syaraf yang lainnya.    Kalaupun ada kerusakan sel syaraf pada penderita MS, maka kerusakan tersebut adalah kerusakan bersifat sekunder yang diakibatkan kerusakan mielin yang parah. Ciri lain dari penyakit MS adalah adanya peradangan yang terlihat sebagai lesi/plak.

Amyotrophic lateral sclerosis, atau biasa juga disebut Lou Gehrig’s disease, adalah penyakit  degeneratif yang muncul akibat rusaknya motor neuron (sel-sel syaraf) yang mengontrol otot-otot dalam tubuh. (Sebagai contohnya; Otot kaki, misalnya, dikendalikan motor neuron di urat syaraf tulang belakang bawah. Sedangkan otot lengan, tangan, serta jari dikontrol motor neuron di urat syaraf tulang belakang atas, dan kegiatan bicara, mengunyah, dan menelan dikendalikan motor neuron di batang otak). Pada pasien ALS, motor neuron – motor neuron tersebut mengalami amiotrophi (=penyusutan). Penderita ALS yang terkenal misalnya Stephen Hawking.

Perbedaan lain, pada ALS tidak ditemukan peradangan seperti pada MS, baik sebagai gejala yang primer maupun sekunder.  ALS juga tidak mengalami demielinasi (=hilangnya mielin), melainkan lebih kepada hilangnya fungsi sel-sel syaraf itu sendiri akibat mengalami amiotrophi (=penyusutan).

Multiple Sclerosis amat jarang menyerang pada usia kanak-kanak. Mayoritas penderita MS adalah usia 20 – 40 tahun. Multiple sclerosis bukan penyakit keturunan tetapi keluarga penderita MS mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk menderita penyakit yang sama jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki keluarga yang menderita MS. Harapan hidup pada penderita MS sangat bervariasi, tergantung dari tingkat dan frekuensi keparahan serangan yang dialami penderita, tetapi pada umumnya penderita MS mampu bertahan hidup sampai 20 tahun lebih sejak terdiagnosa MS.

ALS biasanya terjadi di kalangan paruh baya (middle age), dan harapan hidup biasanya hanya berkisar  antara 2 – 6 tahun sejak terdiagnosa. ALS tidak pernah disebut sebagai penyakit keturunan, tetapi ada beberapa bukti (walaupun sangat jarang) bahwa ALS diturunkan dari satu ke generasi ke generasi.

Menurut data yang ada, ALS menyerang 1:100.000 penduduk dunia. Sedangkan penderita MS yang ada di dunia (data dari MSIF) hanya ada sekitar 2.500.000 orang saja.

Selain ALS, ada satu lagi penyakit yang seringkali dipersamakan dengan MS; yaitu MD (Muscular Dystrophy).

Penderita MD juga mengalami kelemahan dan kesulitan menggerakkan anggota tubuh seperti pada MS dan ALS, tetapi MD secara patologis sebenarnya merupakan penyakit yang sama sekali berbeda dengan MS dan ALS.

MS dan ALS penyakit yang sama-sama menyerang sistem syaraf, sedangkan MD adalah penyakit yang menyerang otot. Dengan kata lain, MD sama sekali tidak ada hubungannya dengan syaraf.

Jenis MD yang sangat dikenal adalah Duchebbe’s yang biasanya menyerang anak-anak dan remaja dan biasanya harapan hidup penderita MD jenis Duchebbe’s ini kurang dari 5 tahun.

Jenis MD yang lain adalah myothonic muscular dystrophy (MMD). MMD biasanya menyerang orang dewasa muda dan biasanya harapan hidup penderita MD jenis MMD lebih dari 20 tahun sejak terdiagnosa.

Pembeda lain antara MD dengan MS dan ALS adalah MD dikenal sebagai penyakit keturunan.

Persamaan mendasar dari ketiga penyakit tersebut di atas hanyalah belum adanya obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut secara medis.

Demikian sekilas info tentang penyakit ALS, MS, dan MD yang saya sarikan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat, dan semoga tidak ada lagi kekacauan definisi antara ALS, MS, dan MD. Cheers!

Kanya Puspokusumo –

President of Indonesia Multiple Sclerosis Group (IMSG)

Online Translator of Multiple Sclerosis International Federation (MSIF) London, UK

Administratrice de la Rubrique Sclérose En Plaques – Conseils sur la SeP, France


[1] Mielin adalah zat lemak yang menjadi lapisan pelindung sel syaraf. Fungsi mielin dalan tubuh adalah untuk memperlancar pesan dari otak ke seluruh bagian tubuh.

2 Réponses to “MS, ALS, MD: APA BEDANYA?”

  1. sy jadi syok memabaca kenxataan bahwa penxakit MD belum ada obat medisnx. adik perepuan sy 26 th sy yakini menderita MD atau MMD. segala macam diagnosa dokter sdh dilakukan, syaraf, pembuluh, dalam, darah, tulang, dll namun mereka (di amaksssar) tak tahu apa nama pexakitx. tapi sendiri berkeseimpulan bhw adik sy kena MD.
    tolong kalau ada teraphi atau obtx infox ke
    salmanrm@yahoo.com

    thankx

    J'aime

    • Halo Salman,

      Mohon maaf, Saya penderita MS (Multiple Sclerosis) bukan MD (Muscular Dystrophy)…. jadi saya tidak tahu terapi atau obat apa yang bisa dipakai untuk MD…. Mungkin anda bisa datang saja ke dokter ahli syaraf dan bertanya lebih detail tentang penyakit MD atau MMD…

      Tapi kalau MS yang anda tanyakan, saya bisa jawab bahwa biasanya MS bisa terdeteksi dengan cara pemeriksaan cairan sum-sum tulang belakang (lumbar puncture) dan MRI…. Pemeriksaan ini cukup jarang dan mahal, tapi biasanya di rumah sakit-rumah sakit besar sudah menyediakan fasilitas pemeriksaan ini.

      Terima kasih sudah mengunjungi doenia devi…. 🙂

      J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :