MENGKAJI SASTRA

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

(Sebuah Kritik Kecil Terhadap Ketidaksesuaian antara Kurikulum dan Praktek Pengajaran Sastra di sebuah Perguruan Tinggi )

Dalam sebuah surat kabar beberapa tahun yang lalu, sastrawan Indonesia Ajip Rosidi pernah mengatakan bahwa pengajaran sastra di tanah air masih memprihatinkan. « Karena itu, pengajaran sastra di Indonesia harus segera dibenahi, » katanya. Dan saya pikir, Ajip Rosidi memang tidak berlebihan dalam menilai keadaan tersebut. Pengaminan saya terhadap pendapat Ajip Rosidi ini pun tidak muncul begitu saja, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi menekuni bidang sastra, baik secara formal maupun non-formal (autodidak), sejak kurang lebih 25 tahun yang lalu; yaitu sejak saya masih belajar di sekolah menengah pertama hingga sekarang.

Dalam kurikulum sastra di sebuah Perguruan Tinggi, pada intinya disebutkan bahwa pengajaran sastra diberikan agar para pembelajar mampu menikmati, menghayati, memahami, mengapresiasi, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Dengan tujuan seperti itu, menurut saya, seharusnya pengajaran sastra mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan pembelajar, karena saya pikir (jika dilaksanakan sesuai tujuan yang disebutkan di atas) dapat meningkatkan kepekaan pembelajar terhadap fakta yang ada di masyarakat, menghaluskan perasaan, serta membentuk kepribadian dan budi pekerti luhur.

Namun kenyataannya, berdasarkan pengalaman saya kuliah di jurusan bahasa dan sastra asing (dan juga menurut beberapa mahasiswa di perguruan tinggi tersebut), pengajaran sastra sebagian besar nyaris hanya berupa latihan terjemahan saja, dan sisanya adalah pemahaman bacaan dan, bagi jurusan bahasa Jepang, belajar menulis Kanji.  Kami tidak pernah dikondisikan untuk mengerti dan memahami apa sebenarnya makna mengapresiasi sastra dan apa sebenarnya kritik sastra itu. Jika demikian halnya, apa bedanya mata kuliah Kajian Sastra dengan mata kuliah Kanji, Dokkai (=pemahaman bacaan), dan Honyaku (=terjemahan)?

Sepanjang pengetahuan saya, soal-soal ujiannya pun hanya berupa cara penulisan Kanji (untuk jurusan Jepang), menerjemahkan kalimat-kalimat, atau hanya berupa pertanyaan tentang definisi-definisi karya sastra yang sangat teoritis yang (maaf) saya yakin dapat dijawab oleh anak umur 10 tahun seperti; apakah yang dimaksud dengan prosa, puisi, dan drama?, apakah yang dimaksud dengan flash back atau kilas balik? (soal ujian seperti ini saya temukan di Jurusan Bahasa Inggris), dan sebagainya.

Keadaan seperti ini, saya pikir terjadi tidak lepas karena para guru dan dosen umumnya kurang memahami hakekat pendidikan sastra. Mereka tidak memiliki kapabilitas dalam penguasaan ilmu yang cukup untuk mengajarkan sastra dengan metode; yang membuat pembelajar termotivasi untuk memahami dan mampu mengapresiasi karya sastra dengan baik. Walhasil, pendidikan sastra bagi pembelajar seringkali hanya berarti teori-teori kering, sekumpulan nama-nama tokoh cerita, kumpulan kata-kata yang cukup dihafalkan untuk menjawab soal ujian akhir. Yah, teori itu memang perlu, menerjemahkan  pun perlu, tetapi teori dan menerjemahkan bukanlah tujuan akhir dari pengajaran sastra. Pengajaran sastra seharusnya lebih ‘kaya’ daripada sekedar teori dan belajar menerjemahkan. Dalam pengajaran sastra seharusnya diberikan materi-materi yang membuat para pembelajar paham bagaimana sebuah karya sastra diudar, diapresiasi, dinilai, bahkan dikritik

Ketidakmampuan pengajar dalam mengkaji sastra itu sendiri membuat saya menjadi tidak heran jika ilmu Sastra kemudian dianggap banyak orang sebagai pelajaran yang sangat mudah dan akhirnya diremehkan sebagai ‘ilmu kelas tiga’, dan para peneliti sastra pun dianggapnya sebagai sekumpulan orang bodoh yang tadinya tidak mampu masuk jurusan Fisika, padahal ilmu sastra (jika dipahami dengan benar) seringkali jauh lebih sulit daripada ilmu-ilmu lain yang sifatnya pasti (untuk yang satu ini saya alami sendiri… Bagi saya, tidak masuk jurusan Fisika atau jurusan-jurusan lain yang biasanya dianggap ‘ilmu kelas satu’ hanyalah masalah pilihan hidup. Saya tidak memilih masuk jurusan Fisika bukan karena tidak mampu masuk Fisika. Di masa bersekolah dulu, nilai-nilai saya untuk mata pelajaran yang dianggap ‘kelas satu’ itu sama bagusnya dengan nilai pelajaran sastra dan budaya. Saya memilih bidang sastra karena saya sangat mengerti jiwa dan minat saya ada di bidang sastra. Saya pun memilih bidang sastra karena ingin membebaskan diri untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya tanpa dibatasi pemikiran yang sifatnya eksak dan terkotak-kotak).

Kenyataan lain, ilmu sastra seringkali menuntut seorang pembelajarnya untuk selalu memiliki kemampuan dan kreativitas ‘menemukan hal baru’ (to invent), bukan hanya ‘menggali yang sudah ada’ (to discover).  .

Jika ingin berpikir lebih ekstrem, saya juga dapat mengatakan bahwa untuk memahami sebuah karya sastra dengan baik dan benar,  seorang peneliti dan/atau seorang kritikus sastra seringkali harus menjadi orang yang serba bisa. Ia tidak hanya harus mampu memahami teori-teori sastra yang mudah dihafal, melainkan juga harus mampu melakukan penelitian bersifat interdisipliner; misalnya untuk memahami novel-novel karya Natsume Sooseki dan Mishima Yukio diperlukan pengetahuan yang cukup baik di bidang psikologi, sosiologi, dan ilmu filsafat moral Jepang, dan untuk memahami karya Abe Kobo diperlukan pengetahuan di bidang kedokteran dan filsafat eksistensialisme (terutama filsafat eksistensialime Franz Kafka). Memahami karya-karya Sartre, Voltaire, Diderot, Stevenson, Wells, dan sebagainya pun membutuhkan penguasaan cabang ilmu pengetahuan lain yang tidak sedikit.

Lebih sulit lagi jika ingin memahami karya sastra puisi; kita bukan hanya harus sangat menguasai bahasa yang digunakan puisi, memahami dialek daerah tertentu atau gaya bahasa pengarang yang biasanya sangat unik, melainkan juga harus siap mempelajari segala ilmu yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikir oleh kita. Sebagai contohnya, apa yang dapat kita jelaskan jika kita menemukan puisi-puisi seperti di bawah ini?

“…

Ya maraja jaramaya

Ya marani niramaya

Ya silapa palasiya…..”

(Girisa, Sides Sudyarto)

 

“…

tuffm im zimbrabim negramai bumbalo negramai bumbalo

tuffm in zim

gadjama bimbala oo beri gadjama gaga di gadjama

at falo pinx…”

(Hugo Ball, tokoh penyair dadaisme)

Untuk memahami karya Sides Sudyarto, mau tidak mau kita harus memahami jenis-jenis tembang Jawa karena puisi yang diungkapkan Sides bukanlah tanpa makna, melainkan dibuat berdasarkan salah satu jenis tembang Jawa “Girisa”. Sedangkan puisi karya Hugo Ball adalah jenis puisi yang mencoba mengembalikan semua kata pada esensinya sendiri. Bagi Ball, kata adalah untuk kata; mirip seperti yang diungkapkan Sutardji Calzoum Bachri dalam “Kredo Puisi”. Di dunia sastra Eropa, karya Hugo Ball dikategorikan sebagai puisi dadaisme karena untuk mengungkapkan perasaannya ia menggunakan ‘bahasa bayi’yang belum bisa bicara.

Demikian kompleksnya sebuah kajian sastra, membuat seorang pengkaji Sastra atau pengajar Kajian Sastra seharusnya memiliki kapabilitas yang lebih daripada sekedar ‘mampu menghafal dan mentransfer banyak teori kepada muridnya’.

Kembali ke masalah ketidaksesuaian yang sangat signifikan antara kurikulum dan praktek pengajaran sastra di perguruan tinggi; Lewat tulisan ini saya tidak akan memaksakan diri menampilkan serentetan teori-teori apresiasi dan kritik sastra. Di sini saya hanya akan mencoba mengajak para pembaca untuk  sama-sama berpikir dan ‘berdiskusi’ untuk memecahkan masalah ketidaksesuaian tersebut. Sebenarnya, metode pengajaran seperti apa sih yang dapat memenuhi tuntutan tujuan kurikulum?

Di bawah ini saya menawarkan sebuah  kegiatan kelas sederhana yang mungkin dapat dipakai oleh para pengajar sastra agar pembelajar lebih termotivasi untuk belajar mengapresiasi sastra.

  1. Pada awal semester, pengajar memberikan berbagai teori apresiasi dan kritik sastra.
  2. Setelah pelajaran teori selesai, untuk pertemuan berikutnya pembelajar diperintahkan untuk membaca dan mengumpulkan berbagai teori dari berbagai sumber tentang teori sastra.
  3. Dengan asumsi pembelajar sudah mengetahui sepintas lalu tentang teori-teori sastra, bagikan sebuah karya sastra (Prosa singkat (cerpen), puisi, drama, atau jenis karya sastra lainnya) pada pembelajar untuk dibaca berulang-ulang selama kurang lebih 10 sampai 15 menit.
  4. Beri sedikit ulasan tentang penulis karya, kemudian beri pembelajar waktu untuk bertanya tentang kata-kata sulit yang ada di dalam karya sastra.
  5. Setelah semua kata dimengerti, perintahkan mereka untuk membaca 2-3 kali lagi.
  6. Tanya satu persatu tentang:
    1. Kesan dan pengertian apa yang didapatkan setelah membaca karya sastra tersebut.
    2. Makna atau pelajaran moral apa yang dapat diambil dari karya sastra tersebut.
    3. Adakah keganjilan atau keistimewaan dari segi bentuk, dan isi (apakah sesuai dengan teori).
  7. Setelah setiap orang mengemukakan analisisnya secara lisan, perintahkan untuk menulis hasil analisisnya di selembar kertas dan disimpan untuk kembali dibahas dan diperdalam pada pertemuan berikutnya.
  8. Untuk pertemuan berikutnya. Mereka harus mencari tahu lebih dalam tentang:
    1. penulis karya (pembelajar harus mengumpulkan keterangan-keterangan tentang jaman dan lingkungan pada saat penulis tersebut hidup dan pada saat karya tersebut dibuat, mencari hubungan antara karya yang dibahas dengan karya-karya yang lain yang ditulis oleh penulis yang sama, dan sebagainya)
    2. tingkat pemikiran karya (apakah pengungkapan poetik si penulis hanya berdasarkan perasaan atau disertai pemikiran-pemikiran yang mendalam tentang sesuatu? Apakah perasaan atau pemikiran tersebut basi, segar, mengagumkan, meyakinkan, atau meragukan? Apakah perasaan atau pemikiran itu hanya ditujukan untuk kelompok tertentu atau tidak?)
    3. tingkat luapan rasa dalam karya (Apakah luapan rasa hatinya meninggi, merendah, atau datar saja? Apakah efek yang ditimbulkan dari luapan rasa itu cukup menyentuh, mencekam, kendur, membosankan, prosais, atau lembek? Apakah efek luapan tersebut bersumber pada pembaharuan yang terdapat di jaman penulis atau semata-mata bersumber pada keugaharian yang jujur?)
    4. Tingkat imajinasi karya (sejauh mana penulis mengidentifikasikan perasaannya? Apakah dengan kata-kata yang lugas atau dengan gambaran-gambaran yang tersembunyi? Apakah imajinasi tersebut sesuai atau mencerminkan temperamen dan nada jiwa penulis karya?)
  9. Setelah pembelajar menemukan semua yang terdapat di butir 8, perintahkan pembelajar menuangkan semua analisisnya dalam sebuah esai.
  10. Sastra adalah mimesis; replika dari kehidupan nyata (Wellek & Warren:1995). Berdasarkan pengertian itu, tanyalah para pembelajar apakah diantara mereka atau kenalan mereka ada yang memiliki pengalaman seperti yang tertulis di dalam karya sastra tersebut? Lalu perintahkan mereka untuk mencurahkan pengalaman mereka atau kenalan mereka tersebut dalam suatu bentuk karya sastra dengan gaya bahasa sebebas-bebasnya. Karya sastra yang mereka tulis boleh berupa prosa, puisi, atau drama. Dengan kata lain, bentuknya tidak perlu sama dengan karya sastra yang dirujuk. Namun perlu ditegaskan, pada tahap ini, kita tidak boleh menuntut pembelajar untuk menghasilkan karya seindah sastrawan; dengan artian mereka tidak perlu menulis dengan bahasa yang halus, bagus, dan tertutur rapi. Yang kita nilai di sini adalah sejauh mana mereka mampu menangkap pesan dan jiwa dari sebuah karya sastra, kemudian merefleksikannya dalam sebuah tulisan dengan gaya khas mereka masing-masing.

…….

Kegiatan kelas seperti di atas hanyalah salah satu contoh upaya sederhana untuk memperbaiki cara pengajaran sastra di Indonesia. Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan kelas yang dapat kita ciptakan untuk memperkaya khazanah metode dan teknik pengajaran sastra; yaitu yang membuat para pembelajar Kajian Sastra tidak melulu menghafal seperti anak Sekolah Dasar, melainkan juga tertantang untuk memahami makna dan keterhubungan sebuah karya sastra dengan ilmu-ilmu lain, dan pada akhirnya mampu mengaplikasikan semua ajaran positif yang terkandung dalam karya sastra pada kehidupannya masing-masing.

Singkatnya, sudah saatnya para pengajar Kajian Sastra memperlakukan subjek mata kuliah yang diajarkannya sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar memberikan pelajaran terjemahan atau memberikan definisi-definisi teori sastra tanpa jiwa….

 

R. A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo, Mantan Staf Pengajar Bahasa Jepang di STBA Yapari ABA-Bandung tahun 1996-2006. Sekarang aktif sebagai penulis, penerjemah, dan editor bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis di berbagai media di dalam dan luar negeri

2 Réponses to “MENGKAJI SASTRA”

  1. Can you tell us more about this? I’d want
    to find out some additional information.

    J'aime

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :