THE SILENT WAY 1)

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

in nomine patris et filii et spiritus sancti amen……”

Kalimat itu telah mengakhiri misa sebuah gereja kecil di Amsterdam di satu musim dingin yang indah. Dari sebuah bangku di sudut kiri paling belakang, aku memperhatikan para jemaat yang keluar satu demi satu meninggalkan gereja. Kutunggu hingga ayunan langkah para jemaat itu habis sebelum kemudian aku melayangkan pandanganku ke depan sana.

Di depan sana, di dekat altar, kulihat sosok seorang pastur muda yang sedang memandangiku dengan sinar mata penuh keteduhan. Aku tersenyum padanya. Pastur muda itu kemudian membalas senyumanku sembari berjalan dengan langkah sedikit tak sabar, menghampiri bangku tempat aku duduk. Sesampainya di dekatku, dia pun menyapaku dengan lembut namun penuh nada kegembiraan,

“Apa kabar Kalon? Maaf aku tidak bisa menjemputmu di Bandara. Tapi kau tidak tersesat kan? Terima kasih karena kau akhirnya menerima tawaranku untuk datang ke negara ini dan membantuku menjadi penulis atas foto-fotoku. Ah, Kau kedinginan? Musim dingin kali ini memang sedikit lebih dingin daripada tahun sebelumnya.”

“Hmmm… Pertanyaan mana yang harus kujawab lebih dahulu, Jo?” tanyaku sambil tertawa geli melihat sikapnya yang seolah tak mau memberi kesempatan padaku untuk bicara..

“Ah, maaf,” jawabnya sambil tampak sedikit tersipu. “Aku terlalu senang melihatmu ada di sini. Di dekatku. Setelah bertahun-tahun aku hanya bisa mengawasi, menjaga, dan memberimu semangat dari jauh. Well, bagaimana kabarmu?” lanjutnya lagi.

“Kabarku baik, Jo,” jawabku. “Dan petunjuk jalan yang kau berikan via e-mail benar-benar akurat, sehingga aku seperti sudah sangat mengenal kota ini,” kataku lagi.

Mendengar jawabanku, pastur muda itu pun ikut tertawa geli….

***

Aku pertama kali bertemu Giovanni Luigi Battaglia, -pastur muda itu-, ketika aku bersekolah di sebuah sekolah dasar swasta di Bandung. Sekolahku bukan sekolah Internasional, namun karena hampir setengah murid-muridnya berasal dari berbagai negara, sekolahku menjadi sangat mirip dengan sekolah internasional. Jo sebenarnya bukan sepenuhnya orang asing. Ayahnya memang Italia tulen dan ibunya adalah peranakan Cina Sunda dari Bandung. Tapi dilahirkan dan dibesarkan di Milan hingga usia 10 tahun dan dengan wajah Italia yang sangat kental, cukup membuatnya menjadi sama dengan orang asing-orang asing yang ada di sekolahku.

Kedekatanku dengan Jo diawali dengan sebuah percakapan tidak sengaja ketika kami sama-sama menunggu jemputan kami datang,

“Maria Goretti Kalon, Hmm… mengapa namamu Kalon?” tanyanya

“Kamu sendiri, mengapa namanu Giovanni? Dan mengapa kau dipanggil ‘Jo’?” balasku sambil tertawa.

“Giovanni dan Jo nama yang sangat sering dipakai, tapi Kalon? Aku baru mendengar ada orang bernama Kalon…”

“Hmm… kata ayahku Kalon[2] berasal dari bahasa Yunani. artinya keindahan moral, kebajikan, budi pekerti tinggi, dan keistimewaan.”

“Wow! What a beautiful name!” seru Jo.

“That’s my father said… Well, I don’t know….” jawabku sambil tersenyum

Sejak percakapan itu kami menjadi dekat. Kemudian, kedekatan itu semakin bertambah ketika aku dan Jo mulai aktif di sebuah organisasi kanak-kanak Yesus di gereja katedral Bandung. Sampai pada akhirnya, Jo menjadi sahabat sejatiku. Persahabatn erat yang terus terjalin hingga kami sama-sama dewasa. Kebersamaan itu sempat terhenti ketika Tuhan akhirnya memberiku jalan hidup yang mengharuskan aku menikah dengan orang lain yang benar-benar jauh dari dunia Jo. Tak lama setelah aku menikah, Jo pun memilih jalan hidupnya sendiri, yaitu mengabdikan seluruh hidupnya pada Tuhan. Menjadi seorang pastur.

Selama masa pernikahanku, Jo benar-benar seperti raib ditelan bumi. Kabar tentang dia hanya bisa sekali-sekali kudapatkan dari Marie, adik kandungnya. Tapi kabar yang kuterima itu pun tak pernah banyak…. Yang aku tahu, selain menjadi pastur, dia pun menjadi seorang fotografer lepas sebuah majalah di Amsterdam. Dan aku pun tak pernah berani bertanya lebih jauh…

Dia baru mulai hadir lagi (walaupun hanya melalui telepon atau e-mail, alias tidak hadir secara fisik) dalam kehidupanku ketika aku berada pada titik kehidupan yang tersulit. Dia menyemangatiku tanpa lelah, membantuku untuk tetap tegar menghadapi semua kesulitan dan keterpurukanku, menjadi seorang sahabat yang tetap berada di sisiku ketika semua orang meninggalkan, mengkhianati, dan mempermainkanku…. sampai aku mampu kembali bangkit….

***

Disamping Jo, aku selalu merasakan sebuah kenyamanan dan rasa aman. Tak ada rasa takut akan dipermainkan. Tak ada rasa takut akan dikhianati. Tak ada pula rasa takut tersakiti. Dan setelah rumah tanggaku bubar dengan menyisakan sebuah kepedihan dan koyakan luka sangat dalam yang hampir-hampir tak tersembuhkan, aku akhirnya semakin meyakini bahwa hanya Jo yang memiliki kasih sayang yang tak mengenal batas waktu… Hanya Jo yang tak pernah peduli apakah aku akan membawa keuntungan bagi dirinya atau tidak. Jo menyayangiku ketika aku berjaya, Jo pun tetap menyayangiku ketika aku terpuruk.

Semua itu sempat membuatku berpikir bahwa Jo adalah soul mate-ku. Namun sebuah kenyataan menghadangku untuk terus berpikir seperti itu: Duniaku dan dunia Jo kini telah begitu jauh berbeda….. Saling tak teraih….

Aku tahu, Jo pun merasakan hal yang sama sepertiku. Namun sampai saat ini sepertinya tak ada yang bisa kami lakukan. Kami bukan tak berusaha, namun setiap kali kami merasa bahagia pada satu titik kebersamaan, pada saat itu pulalah biasanya begitu banyak penghalang yang langsung menghadang kami untuk bersatu.

Jo pernah berkata padaku bahwa soul mate tetaplah soul mate. Ia mungkin tak pernah bisa bersatu secara fisik, namun akan selalu ada benang merah yang mengikatkan batin-batinnya. Benang merah yang tak pernah bisa terputus.

Aku sebenarnya ingin turut meyakini sepenuhnya kata-kata itu, namun setengah hatiku menolak. Ada sebuah ketidakrelaan yang menyertai kenyataan itu. Setengah hatiku masih tetap percaya bahwa soul mate seharusnya atau sebaiknya bisa bersatu. Karena apalah jadinya jika soul mate tidak bisa bersatu? Ketika kita pada akhirnya terpaksa harus memilih bersatu dengan yang bukan soul mate kita, bukan tak mungkin jika hubungan itu pada akhirnya hanya akan menjadi pengkhianatan terhadap agama dan moralitas…

Menghadapai semua kenyataan itu, akhirnya aku sedikit menyerah. Aku tak lagi mengharapkan apa-apa. Bukan hanya padanya tapi juga hampir pada semua hal… Aku kini menempatkan diriku seperti sebuah daun yang tertiup angin ke sungai, yang hanya mampu mengikuti aliran sungai itu dan berharap tak menjadi lapuk hingga sampai ke laut.

Kedatanganku ke Amsterdam pun hanya semata-mata menuruti aliran sungai itu… Jo, yang saat itu juga menjadi fotografer lepas sebuah majalah internasional di Amsterdam, menawariku menjadi penulis atas foto-fotonya. Dan aku terima tawarannya. That’s it.

Aku pun sedang mengikuti aliran sungai itu ketika kebersamaanku di Amsterdam dengan Jo kembali harus terputus di tengah jalan oleh kesadaran bahwa aku tak mungkin terus menerus terlalu jauh dari anakku. Maka aku pun kembali ke negara asalku….

Well, sampai saat ini aku memang tetap tidak bisa tinggal bersama anakku (How sad!), namun setidaknya jika terjadi sesuatu pada anakku, aku bisa pulang dengan lebih mudah jika dibandingkan aku memaksakan diri tinggal di negeri orang…

Aku Kalon, yang tetap menjadi daun yang mengikuti aliran sungai ketika beberapa orang mencoba masuk dalam kehidupanku…. Mereka datang dan pergi dengan menambah satu demi satu keyakinan padaku: Mereka semua hanya lelaki pencari keuntungan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka akhirnya meninggalkanku atau mengkhianatiku. Benar-benar tak ada yang mampu menyayangiku dengan tulus seperti Jo! Lalu aku terus mengalir ke hilir bersama riakan sungai ketika kuterima berita bahwa Jo ikut kembali ke Indonesia dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari pastoral.

Aku Kalon, yang kemudian terus menuju muara tanpa pernah lagi berani bertanya “Hendak Kau bawa kemana aku ini, Tuhan?” …

Aku Kalon, yang semata hanya menjadi daun yang tertiup angin ke sungai, dan mengikuti alir dan riak sungai menuju laut dengan keheningan…… SENYAP. Pasrah pada kuasaNya.

[1] Meniru istilah yang dicetuskan Caleb Gattegno, seorang pakar pengajaran bahasa asing.

[2] Akar kata Kalon adalah Kalos yang berarti indah dalam penampilan, istimewa. Kalon adalah bentuk neutrum dari Kalos.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :