KETIKA ANGIN TELAH MATI

Back to HOME  –  ABOUT KANYA

*Satu episode sajak buat dia

Bayang merah di ufuk Barat hampir sirna ketika dia hadir dengan cara yang sedikit tak terduga. Sendirian namun hangat, seperti gerimis putih yang mencoba membasahi tanah kering yang lama terabai.

Bibirku menyunggingkan senyum menyambutnya. Namun kurasakan hatiku yang diam. Beku. Rupanya hatiku telah menjadi rumah yang setengah enggan membuka pintunya.

Aku tahu bahwa aku tak seharusnya begini. Seharusnya aku bahagia dengan hitungan kilometer yang telah dia tempuh hanya untuk menemuiku. Mencuri-curi waktu hanya untuk mengetahui keadaanku…

Ya, seharusnya aku bahagia. Toh, dia sedang berusaha keras menunjukkan rasa sayangnya padaku. Aku seharusnya hargai itu. Namun, hatiku rupanya telah terlanjur begitu terkoyak dengan semua sikap dan kata-katanya terakhir kali. Sebuah koyakan yang terjadi di atas luka parah masa lalu yang belum sembuh benar. Koyakan itu kemudian telah membuat jiwaku merasa perlu untuk kembali memasuki benteng yang pernah kubangun tinggi-tinggi di masa lalu, dan berdiam aman di dalamnya. Berdiam aman tanpa keinginan mencintai dan dicintai….

Aku tak membencinya. Aku bukan pula tak memaafkannya. Sama sekali tidak. Aku hanya kembali menjadi terlalu takut untuk balas menyayangi dan mencintai. Aku begitu takut kasih sayangku hanya akan menjadi bumerang tajam yang siap kembali padaku dengan sejuta koyakan-koyakan lain yang mungkin tak kan sanggup lagi kuterima. Aku pun begitu takut rasa cintaku kelak hanya akan kembali meracuni diriku sendiri tanpa aku punya penawarnya.

Kulihat pula gumpalan-gumpalan darah yang memerah membasahiku karena aku tak mampu lagi menanggung rasa pedih dan kecewa… Maka aku pun semakin takut mencintainya….

***

Malam tiba. Langit Barat pun kini telah terbagi hitamnya. Kusaksikan putik kecilku yang bercengkrama riang dengannya. Aku pun tertawa bersamanya. Namun hatiku masih diam. Tawaku itu kemudian hanya menjadi tabir. Ya, hanya tabir yang menutupi kebekuan hati yang semakin lama semakin menggeragap jiwa. Tercabik bersama angin-angin yang takut terkhianati.

Pada satu titik, kulihat dia sesekali tersenyum dengan kalimat-kalimat entah apa dan entah dari siapa yang tertulis di telepon genggamnya. Lalu dia bergegas membalas pesan itu dengan keriangan yang tak mampu dia sembunyikan dariku.

Aku pun tertegun memandangi itu semua. Tertegun dengan luka yang semakin tertoreh. “Dia tak pernah begitu terhadapku,” desisku dalam hati. Sering aku harus menanti sia-sia hanya untuk sebuah balasan pesan singkat. Sering aku harus menanti sia-sia hanya untuk sebuah jawaban yang mampu menenangkan jiwaku.

“Dia tak pernah begitu terhadapku, lalu mengapa ia menawarkan cinta padaku?” desisku semakin pedih.

Lalu ratusan tanya kembali memenuhi kepalaku, “Tuhan, dia menganggapku apa? Hanya permainan di kala senggang? Hanya didekati ketika dia merasa membutuhkanku? Dia menuntutku agar aku menjaga hati semua orang, namun dia tak sadari bahwa aku pun memiliki hati yang harus dijaga… tak sadarkah dia bahwa aku pun sangat sakit dengan semua sikap dan kata-katanya?”

Maka kurasakan jiwaku sedikit demi sedikit menjauh darinya, beringsut menuju benteng tinggi yang telah kubangun di masa silam. Lalu menutup dan mengunci pintunya dengan gembok berantai tebal yang tak tertembus. Dan di dalam benteng, aku menyerahkan semua pedihku dalam kebekuan dan kehampaan yang mungkin enggan tercairkan lagi. Kebekuan dan kehampaan yang hanya dapat tertandingi oleh angin-angin yang telah mati…..

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

%d blogueurs aiment cette page :